
Merengkuh Syafaat di Bukit Raja Wali: Rindu Santri untuk Sang Nabi
Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ 1448 H
25 Agustus 2026
PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali & PPM Baitul Qur’an
Suasana malam di kompleks ndalem pengasuh terasa begitu khidmat, hangat, dan penuh kekhusyukan. Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ tahun ini dikemas secara apik dengan konsep pemisahan area yang tertib: para santri putra mengikuti jalannya acara dengan khidmat di dalam ndalem, sementara para santri putri memenuhi area halaman depan ndalem dengan balutan busana muslimah yang rapi.
Sebelum memasuki puncak acara berupa lantunan Mahallul Qiyam, pengasuh PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali dan PPM Baitul Qur’an, Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I al-Hafizh menyampaikan sambutan sekaligus tausiyah yang sarat makna di hadapan seluruh santri.
Dalam arahannya, beliau mengingatkan bahwa mencintai Rasulullah ﷺ tidak cukup hanya diwujudkan melalui ucapan lisan dan lantunan shalawat semata di majelis-majelis. Cinta yang sesungguhnya harus dibuktikan dengan mengikuti sunah, menaati ajaran, serta meneladani kejujuran, kesabaran, kelembutan, dan kemuliaan akhlak beliau dalam keseharian di pesantren.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا
“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Aḥzāb: 21)
Ayat mulia ini, lanjut pengasuh, mengajarkan bahwa tolok ukur kecintaan kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah menjadikan beliau sebagai kompas teladan dalam hidup. Seorang santri yang benar-benar cinta kepada Nabi hendaknya tercermin dari ketekunannya menjaga ibadah, kepatuhannya memuliakan guru, bakti kepada orang tua, kasih sayang kepada sesama, kejujuran dalam bertutur, serta hiasan akhlak karimah.
Keistimewaan Shalawat yang Pasti Diterima
Dalam sambutannya pula, pengasuh memaparkan keutamaan agung membaca selawat kepada Nabi. Para ulama ahli hakikat dan fikih kerap menjelaskan bahwa setiap amal kebaikan manusia senantiasa berada di antara kemungkinan diterima atau ditolak oleh Allah SWT—tergantung pada tingkat keikhlasan, kebersihan niat, serta kesesuaiannya. Namun, ada satu amalan istimewa yang dipastikan selalu diterima oleh Allah SWT tanpa pengecualian, yaitu bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Sebagaimana ditegaskan oleh para ulama dalam berbagai kitab tasawuf, di antaranya dinukilkan oleh Imam Al-Qasthalani dalam Al-Mawahib al-Ladunniyah dan Imam As-Sakhawi dalam Al-Qaul al-Badi’:
كُلُّ عَمَلٍ يُقْبَلُ وَيُرَدُّ إِلَّا الصَّلَاةَ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَإِنَّهَا مَقْبُولَةٌ.
“Setiap amal ibadah terkadang diterima dan terkadang ditolak, kecuali shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, maka sesungguhnya ia pasti diterima.”

Bahkan, ulama besar Syeikh Abdul Qadir al-Jailani rahimahullah pernah menjelaskan bahwa seorang hamba yang berdzikir atau beramal terkadang dihinggapi rasa riya’, ujub, atau lalai, sehingga amalannya terhalang.
Namun khusus untuk shalawat, Allah SWT tetap menerimanya secara mutlak karena kemuliaan agung Sang Nabi yang diagungkan di dalamnya, kendati yang membacanya sedang dalam keadaan lalai sekalipun.
Betapa pun kondisi hati seorang hamba, Allah SWT senantiasa menerima bacaan selawat sebagai bentuk penghormatan mutlak kepada kekasih-Nya. Oleh karena itu, rugilah hamba yang lisannya berat untuk bershalawat, padahal amalan inilah yang menjadi jembatan paling pasti untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan syafaat agung di yaumil akhir.
Pesan-pesan penuh hikmah tersebut semakin menggetarkan jiwa ketika lembaran acara berlanjut ke sesi Mahallul Qiyam. Para santri berdiri serempak dengan penuh takdzim. Gema shalawat memenuhi setiap sudut Bukit Raja Wali, menghadirkan kerinduan mendalam kepada Rasulullah ﷺ—sosok mulia yang belum pernah dipandang wajahnya oleh mata fisik, tetapi kecintaan kepadanya senantiasa bersemayam hidup di dalam lubuk hati.
Kerinduan mutlak kepada Baginda Nabi ini selaras pula dengan bait abadi yang termaktub dalam Qasidah Burdah karya Imam Al-Bushiri, yang turut menggema dalam majelis semalam:
وَكُلُّهُمْ مِنْ رَسُولِ اللهِ مُلْتَمِسٌ *** غَرْفًا مِنَ البَحْرِ أَوْ رَشْفًا مِنَ الدِّيَمِ
“Dan mereka seluruhnya (para makhluk) memohon kepada Rasulullah, bagaikan menceduk segenggam air dari lautan luas atau menadahkan tetesan air hujan yang terus menerus.”
Bait ini menegaskan bahwa segala kebaikan, cahaya petunjuk, dan keberkahan di alam semesta bersumber dan bermuara dari samudera kemurahan Rasulullah ﷺ.
Ya Rasulullah ﷺ… Kelak, jika Allah mengizinkan kami memasuki surga-Nya, rasanya belum sempurna kebahagiaan itu sebelum mata ini dapat berjumpa dan memandang langsung wajahmu.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَاجْمَعْنَا بِهِ فِي الْفِرْدَوْسِ الْأَعْلَى
“Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, dan keberkahan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, serta pertemukanlah kami bersama beliau di surga Firdaus yang tertinggi.”

Kontributor: Achmad Husen
#MaulidNabi1448H #GemaShalawat #BukitRajaWali #CintaRasulullah #PPTQAlHusna #PPMBaitulQuran #PonPesTerbersihSeLampung