Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Menjalin Rindu di Baitul Ilmi: Sambangan Perdana Santri PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali, Merajut Makna Perpisahan Menuju Cahaya Suci

Menjalin Rindu di Baitul Ilmi: Sambangan Perdana Santri PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali, Merajut Makna Perpisahan Menuju Cahaya Suci

BUKIT RAJAWALI — Hari Minggu, tepatnya pada 2 Agustus 2026, suasana di kompleks Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali, mendadak bergetar oleh gelombang haru yang tak tertahankan. Gerbang pesantren terbuka lebar, menyambut kedatangan para orang tua yang membawa rindu bergemuruh di dada—sebuah momen sambangan pertama bagi para santri baru yang untuk pertama kalinya merasakan sejuknya dekapan malam tanpa naungan rumah dan pelukan hangat orang tua.
Pertemuan ini bukan sekadar temu kangen biasa. Ia adalah pertemuan dua semesta: cinta kasih keluarga di rumah dan cinta sejati kepada Al-Qur’an di pesantren.

Detik-detik ketika langkah kaki para wali santri menembus halaman pondok, seakan memecah keheningan penantian panjang. Ada tetes air mata kelegaan, ada pelukan erat yang seolah ingin merengkuh waktu agar berhenti berputar, dan ada senyuman bangga melihat buah hati tercinta kini mengenakan busana kesalehan, tegak berdiri sebagai pejuang-pejuang ayat suci.

Perpisahan sementara antara orang tua dan anak demi menuntut ilmu di pesantren menemukan maknanya yang abadi melalui cermin Ilahi, mengingatkan kita pada kisah agung Nabi Musa AS saat bermunajat di Bukit Sinai, sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an Surat Al-A’raf ayat 142:
وَوَاعَدْنَا مُوْسٰى ثَلَاثِيْنَ لَيْلَةً وَاَتْمَمْنٰهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيْقَاتُ رَبِّهِ اَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً ۚوَقَالَ مُوْسٰى لِاَخِيْهِ هٰرُوْنَ اخْلُفْنِيْ فِيْ قَوْمِيْ وَأَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيْلَ الْمُفْسِدِيْنَ
“Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa (ketibaan Taurat) selama tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnadalah waktu yang ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan Musa berkata kepada saudaranya, Harun: ‘Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan.’ ” (QS. Al-A’raf: 142).

Ayat mulia ini mengajarkan bahwa setiap proses pencapaian spiritual dan jarak perpisahan yang ditempuh di jalan Allah senantiasa berbuah kematangan jiwa. Para santri yang “berpisah” sejenak dari keluarga sesungguhnya sedang menempuh miqat pendidikan jiwa, menempa kesabaran, dan memurnikan niat demi menggapai rida-Nya.

Meskipun halaman utama dan aula pondok dipadati oleh lautan manusia hingga kapasitas ruang yang ada tak lagi mencukupi, keterbatasan tempat ini justru melahirkan berkah kebersamaan yang luar biasa. Panitia memusatkan rangkaian acara di Masjid Najmun Nasri yang terletak di kompleks putra.
Di bawah naungan kubah masjid yang sejuk, Ngaji Sambangan digelar dengan khidmat. Di sinilah kehangatan itu bersemi; momentum haru dipadukan secara harmonis antara wali santri baru dan wali santri lama.

Sekat jarak melebur, wajah-wajah baru dan lama saling bersapa, menyadari bahwa kini mereka telah resmi menjadi satu keluarga besar dalam naungan PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali. Sekarang, kita semua telah menambah saudara.

Suasana majelis kian sarat makna tatkala menilik figur pengasuh pondok. Sosok ulama karismatik yang memimpin pesantren ini dikenal luas sebagai pribadi yang memiliki ketajaman bashirah serta keahlian dalam membaca isyarat-isyarat langit. Pandangan batin dan kedalaman hikmah beliau senantiasa menjadi kompas ruhani yang menuntun langkah para santri dan wali santri dalam mengarungi samudra pendidikan Islam.

Sosok Pengasuh PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I al-Hafizh, hadir membawa kesejukan keilmuan yang memadukan kedalaman hafalan Al-Qur’an dan puncak kepakaran akademis. Beliau menorehkan jejak keilmuan yang istimewa tatkala dikukuhkan sebagai Doktor pertama sekaligus seorang Hafizh Al-Qur’an di UIN Raden Intan Lampung (UIN RIL) pada tahun 2018.

Di hadapan para wali santri yang memenuhi Masjid Najmun Nasri, beliau menyampaikan mauidzah hasanah yang menyejukkan sekaligus menggetarkan jiwa. Dengan ketulusan seorang guru dan ulama, beliau menegaskan bahwa air mata kerinduan hari ini harus dibayar tuntas dengan keteguhan iman dan kesungguhan anak-anak dalam menghafal kalam-kalam Allah.

“Hari ini bapak dan ibu melepas rindu setelah berminggu-minggu terpisah. Tangis yang tumpah adalah saksi betapa besarnya cinta di dalam rumah. Namun ketahuilah, perpisahan ini adalah bentuk ikhtiar suci kita untuk mendekatkan anak-anak kita kepada mahkota kemuliaan di akhirat kelak,” tutur Kiai Abdul Hamid di hadapan para jamaah.

Beliau juga berpesan agar para wali santri senantiasa mendo’akan dari kejauhan, menyerahkan sepenuhnya proses pendidikan kepada pondok, dan memperkuat jalinan silaturahim antar-keluarga besar Al-Husna Bukit Raja Wali.

Acara sambangan perdana ini ditutup dengan doa bersama yang menggema lirih di sudut-sudut Masjid Najmun Nasri, memohon kepada Allah SWT agar setiap huruf Al-Qur’an yang terpatri di dada para santri kelak menjadi syafaat yang menerangi dunia dan akhirat.

(Kontributor: Achamd Husen)

PPTQAlHusna #BukitRajaWali #NgajiSambangan #WaliSantriBR #PondokPesantren #TahfizhAlQuran #PesantrenTerbersihSeLampung #KeluargaAlHusnaBR #WaliSantriBaruDanLama #GenerasiQurani