
Risalah Alpukat: Menanam Seribu Berkat di Bumi Tanggamus
Tanggamus – Sumberejo, Silaturahmi bukan sekadar berkunjung untuk bertukar sapa, melainkan sebuah ikhtiar spiritual untuk “membangun rumah” persaudaraan yang kokoh. Semangat inilah yang dibawa oleh Pengasuh PPTQ Al-Husna Bukit Rajawali dan PPM Baitul Qur’an, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I al-Hafizh, dalam perjalanan hikmahnya ke wilayah Sumberejo, Kabupaten Tanggamus, pada Rabu, 15 Juli 2026.
Lawatan kali ini terasa istimewa saat beliau menyambangi kediaman empat wali santri, termasuk Bapak Andreanto dan Bapak Hi. Kabul.
Di depan rumah mereka, sebuah pohon alpukat berdiri tegak dengan buahnya yang ranum. Bagi Kiai Hamid, fenomena ini adalah media nasihat kehidupan yang mendalam. Sembari memetik satu buah, beliau menjabarkan filosofi “Alfu-Kat” (Seribu Berkat) yang dikaitkan langsung dengan pembentukan karakter santri.
“Alpukat ini memiliki filosofi Hard Shell, Soft Heart,” ujar Kiai Hamid. Kulitnya yang tebal adalah simbol ketangguhan santri dalam menghadapi tantangan zaman, sementara bagian dalamnya yang lembut melambangkan hati yang penuh kasih. Kiai Hamid menekankan bahwa santri harus memiliki integritas tinggi, namun tetap menjaga kelembutan akhlak.
Lebih jauh, beliau menguraikan pelajaran hidup dari buah tersebut yang harus diresapi oleh para santri. Kiai Hamid menjelaskan bahwa proses kematangan alpukat yang tidak bisa dipaksakan merupakan simbol kesabaran. Sama seperti buah yang membutuhkan waktu untuk mencapai puncak kualitasnya, santri pun harus memahami bahwa menuntut ilmu adalah sebuah perjalanan panjang yang memerlukan ketekunan dan kesabaran tiada henti untuk dapat berkembang dengan sempurna.
Bukan sekadar soal waktu, alpukat juga mengajarkan hakikat memberi tanpa pamrih. Sebagai buah yang padat nutrisi, ia hadir untuk memberikan manfaat besar bagi kesehatan tubuh, serupa dengan peran santri yang seharusnya mampu menjadi penyedia “nutrisi” kebaikan bagi masyarakat di sekitarnya. Kehadiran seorang santri di tengah umat haruslah memberikan nilai tambah, membawa kemaslahatan, dan menjadi penawar bagi berbagai persoalan sosial.

Di balik itu semua, terdapat pesan tentang ketidaksempurnaan yang sempurna. Kiai Hamid memperhatikan bahwa alpukat jarang sekali terlihat mulus sempurna pada setiap sisinya, seringkali terdapat bintik atau bagian yang tidak rata. Namun, hal itu sama sekali tidak mengurangi kualitas nutrisi yang ada di dalamnya. Bagi beliau, ini adalah isyarat berharga agar santri tidak pernah berlaku sombong. Setiap makhluk, termasuk manusia, pasti memiliki kekurangan di balik kelebihannya. Kesadaran akan keterbatasan diri ini menjadi pengingat agar kita tidak mudah menghakimi orang lain hanya dari penampilan luarnya saja, karena sejatinya hanya Allah SWT yang memiliki kesempurnaan mutlak.
Dalam obrolan tersebut, Kiai Hamid menautkan suasana hari dengan angka empat. “Hari ini hari Rabu, hari keempat. Jika dibalik, ia menyerupai bentuk kursi—isyarat bagi kita untuk duduk sejenak, menjalin silaturahmi agar ikatan batin semakin kuat,” jelasnya. Beliau pun mendoakan Bapak Hi. Kabul agar segala hajatnya dikabulkan oleh Allah SWT.
Beliau juga mengajak wali santri membaca isyarat perjalanan hari ini: Rabu (15 Juli) adalah pengingat akan Surat Al-Isra’ tentang perjalanan hikmah; JULI adalah ajakan untuk Jaga hubungan silaturahmi dan melakukan Usaha nyata keluar dari zona nyaman; LI (Lillahi) adalah niat semata karena Allah; dan TANGGAMUS adalah pengingat untuk merawat Tanggamu (tetangga) demi meraih kebahagiaan dari persaudaraan berbasis Al-Qur’an.
“Silaturahmi ke Sumberejo hari ini adalah tentang membangun rumah hati. Kehadiran saya di sini mengajarkan bahwa kebaikan itu seperti buah; ia harus matang pada waktunya, lalu diberikan agar orang lain merasakan manfaatnya,” tutup Kiai Hamid.
Perjalanan tersebut ditutup dengan doa bersama, mengharapkan para santri kelak menjadi generasi “Seribu Berkat” yang kehadirannya senantiasa memberikan nutrisi kebaikan bagi masyarakat luas, layaknya buah alpukat yang bermanfaat bagi siapa pun yang menikmatinya.

(Kontributor: Achmad Husen)