
BASMALAH: Melangkah di Jalan Ilmu, Menjaga Hati dari Pencuri Impian
Pringsewu, Bukit Raja Wali– Langit malam Senin (12/7/2026) menjadi saksi bisu janji-janji suci yang terucap di halaman Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali. Tanpa naungan tarup, tanpa pembatas kemewahan, halaman pondok dipenuhi oleh para santri baru dan lama dari PPTQ Al-Husna serta PPM Baitul Qur’an.
Mereka duduk bersimpuh beralaskan bumi, menengadahkan wajah di bawah hamparan bintang, mengikuti khidmatnya program BASMALAH (Bimbingan Awal Santri Menuju Akhlak Luhur, Amanah, dan Hidayah).
Kegiatan ini menjadi momentum penyambutan yang syahdu, dihadiri langsung oleh para asatidz dan ustadzah pengampu, di antaranya Ust. Rohmani, M.Pd. Ust. Syekh Al Arifin, M.Pd.I., Ustadzah Iis Maisaroh, M.Pd.I., al-Hafizhah (Ketua STIT Pringsewu), serta para Ustadz Ustadzah lainnya.
Di tengah halaman yang terbuka, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., al-Hafizh, memberikan pesan khusus bagi para santri baru yang datang dengan niat yang teguh dari berbagai penjuru tanah air.
“Kalian hadir membawa mimpi dari titik-titik terjauh; mulai dari pesisir Mesuji yang tenang, deburan ombak Pesisir Barat, kehangatan Kotabumi, keramaian Bandar Lampung, hingga tanah subur Lampung Timur dan Tengah. Bahkan, kehadiran kalian yang menempuh perjalanan lintas provinsi dari Palembang dan Bengkulu adalah bukti cinta yang nyata,” tutur Kiai Hamid.
Beliau menegaskan bahwa perbedaan geografi tidak menjadi sekat. “Di sini, tanggalkan sekat kedaerahan itu. Mulai malam ini, kalian bukan lagi santri dari daerah mana, melainkan satu saudara, satu ikatan keluarga yang diikat oleh kasih sayang dan cita-cita suci untuk menjaga agama.”
Dalam Nasehatnya, beliau memberikan makna baru bagi perjalanan santri: “Kalian tidak sedang disingkirkan dari hangatnya pelukan keluarga. Justru, inilah hadiah terpenting yang diberikan orang tua kalian: sebuah tantangan luhur untuk menempa diri menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan berilmu di tengah gempuran zaman,” tutur Kiai Hamid.
Beliau pun mengingatkan bahaya laten yang mengintai para santri, yakni “Pencuri Impian”. Segala bentuk kemalasan, kelalaian, dan distraksi duniawi diibaratkan sebagai pencuri yang siap merampas masa depan santri jika mereka tidak menjaga hati dengan mujahadah. Hal ini selaras dengan prinsip dalam Al-Qur’an: “Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (QS. Al-Mujadilah: 11).

Ikrar di Bawah Langit: Janji untuk Negeri
Puncak acara semakin sakral saat seluruh santri berdiri. Di bawah luasnya cakrawala, mereka mengikrarkan janji bakti dengan penuh keteguhan:
- Aku adalah anak yang diamanahkan oleh orang tua untuk mencari ilmu.
Langkah kakiku ke pondok adalah bentuk bakti dan doa orang tua yang harus kujaga dengan kesungguhan dalam belajar. - Aku adalah santri yang pulang membawa ilmu.
Kehadiranku kembali ke tengah masyarakat adalah untuk membawa solusi dan keberkahan, bukan membawa masalah, apalagi menjadi sumber masalah bagi keluarga dan lingkungan. - Aku adalah penerus guruku.
Di pundakku, aku memikul estafet perjuangan dan sanad keilmuan yang telah diwariskan, sehingga aku harus menjaga muruah dan ajaran beliau di mana pun aku berada. - Aku adalah penjaga generasi setelahku.
Aku sadar bahwa keberhasilanku adalah teladan bagi adik-adik angkatanku, dan aku bertanggung jawab untuk memastikan bahwa nilai-nilai kebaikan ini tetap lestari bagi generasi mendatang.
Di bawah semboyan “Berangkat bawa mimpi, pulang bawa bakti”, acara ditutup dengan munajat doa yang dipimpin dengan khusyuk oleh Ust. Rohmani, M.Pd. Doa-doa yang dipanjatkan di bawah langit terbuka ini diyakini lebih leluasa menembus arsy, memohon agar setiap langkah santri diberkahi, terjaga dari segala pencuri impian, dan kelak lahir sebagai pelita bagi umat manusia.
Malam itu, di halaman PPTQ Al-Husna yang terbuka, perbedaan daerah telah melebur menjadi satu tekad: Menjadi santri yang mengabdi pada ilmu dan bakti pada negeri.
(Kontributor: Achamd Husen)