Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Awali Tahun Ajaran Baru, 150 Santri Baru PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali Ditempa Menjadi ‘Penjaga Untaian Surgawi’

Awali Tahun Ajaran Baru, 150 Santri Baru PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali Ditempa Menjadi ‘Penjaga Untaian Surgawi’

Pringsewu, Bukit Raja Wali – Suasana khidmat menyelimuti Bukit Raja Wali pada Senin (13/7/2026). Ratusan santri dari berbagai jenjang pendidikan di Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali berkumpul di lapangan utama untuk mengikuti upacara bendera perdana setelah masa liburan panjang sekaligus penyambutan santri baru tahun ajaran 2026/2027.

Tahun ini, lembaga pendidikan di bawah naungan Al-Hamidy ini menerima 150 santri baru, yang terdiri dari 103 santri SMP Qur’an Al-Hamidy dan 47 santri SMA Plus Al-Hamidy.

Mereka bergabung dengan ratusan santri senior lainnya dalam sebuah barisan yang menyimbolkan kekuatan kaderisasi umat.

Dalam amanatnya, Kepala SMA Plus Al-Hamidy, Nur Azizah, M.Pd., menyampaikan pesan yang menyentuh bagi seluruh santri baru.
“Selamat datang, putra-putri pilihan. Sejak kalian melangkah melewati gerbang pondok kemarin, kalian telah resmi menjadi bagian dari keluarga besar kami. Kalian bukan lagi sekadar tamu, melainkan napas baru di Bukit Raja Wali ini,” ungkapnya dengan penuh haru.

Ia melanjutkan dengan analogi filosofis tentang Rajawali, “Jadilah seperti seekor Rajawali. Ia tidak terbang rendah bersama burung-burung kecil yang takut akan badai. Rajawali justru terbang menembus awan dan menjadikan badai sebagai tumpuan untuk membubung lebih tinggi. Begitu pula kalian, di sini kalian tidak belajar untuk menjadi pengecut yang menghindari tantangan, tetapi belajar untuk memiliki visi yang tajam dan keberanian untuk memandang masa depan dari ketinggian iman.”

Nur Azizah menekankan bahwa santri adalah “Penjaga Lantunan Untaian Surgawi”. “Kalian hadir di sini untuk menjadi penjaga surat cinta dari Sang Pencipta. Jadikan setiap huruf yang kalian baca sebagai kompas kehidupan, dan jadikan setiap doa sebagai kekuatan yang tak terhentikan,” ujarnya di hadapan para santri dan jajaran dewan asatidz, termasuk Kepala SMP Qur’an Al-Hamidy, Diana Arianti, M.Pd., al-Hafizhah.

Pengasuh PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I, al-Hafizh, memberikan narasi filosofis mengenai sinergi santri SMP dan SMA. Beliau menjelaskan bahwa 103 santri SMP Qur’an adalah “penanam akar” yang berpegang pada pesan dalam Surah Al-An’am ayat 103:

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”
“Mereka belajar untuk melihat dengan hati. Meski Sang Pencipta tak tersentuh oleh mata, Dia hadir dalam setiap ayat yang mereka tadaburi,” tutur pengasuh.

Sementara itu, 47 santri SMA Plus diarahkan untuk menjadi benteng intelektual. Merujuk pada Surah Al-Qamar ayat 47, mereka ditempa untuk mengasah nalar agar tetap berada di jalan yang lurus:

إِنَّ الْمُجْرِمِينَ فِي ضَلَالٍ وَسُعُرٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan dan kegilaan.”

“Empat puluh tujuh santri ini adalah mereka yang siap menantang zaman. Mereka memastikan langkah tetap lurus dan tidak terperosok ke dalam kegelapan,” lanjut KH. Abdul Hamid.
Kesatuan antara 103 santri sebagai akar keimanan dan 47 santri sebagai dahan kecerdasan ini menjadikan mereka 150 cahaya Al-Hamidy yang membuktikan bahwa perpaduan kedalaman ruhani dan ketajaman intelektual adalah kunci menjadi manusia paripurna.

Upacara di bawah keteduhan Bukit Raja Wali ini menjadi titik tolak bagi para santri untuk memulai “kawah candradimuka” mereka. Bagi civitas akademika Al-Hamidy, proses belajar di pondok bukan sekadar tuntutan akademik, melainkan pendakian tangga surgawi dengan cara menjaga kalam-Nya.

( Kontributor: Achmad Husen)