
Mutiara Nusantara Menuju Tanah Peradaban: Rihlah Ilmiah dan Ziarah ke Alexandria
Kabar tentang kerinduan ilmu dan kecintaan kepada para kekasih Allah berembus tenang dalam keheningan langkah. Usai meresapi megahnya keabadian sejarah dunia—menatap takjub reruntuhan agung Piramida di Giza sehari sebelumnya—langkah pengabdian itu terus berlanjut. Lembaran takdir kembali terbuka.
Pada Sabtu, 19 September 2026, ayunan langkah kaki pengasuh Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali sekaligus PPM Baitul Qur’an Lampung, Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I, al-Hafizh merentang jauh menembus horizon, melanjutkan rihlah ilmiah menuju bumi sarat kemegahan sejarah: Kota Alexandria, Mesir.
Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan raga menyeberangi batas teritorial, melainkan sebuah ziarah batin menapak tilas jejak para pencari cahaya, membasuh dahaga ruhani di hadapan para nabi dan hamba-hamba saleh yang namanya harum di langit dan di bumi.
Kota yang dahulu dikenal sebagai Al-Iskandariyah ini berdiri megah di tepi Laut Tengah, bukan sekadar sebagai pelabuhan tempat bertemunya angin dan ombak. Alexandria adalah monumen abadi pertemuan agung antara sisa-sisa peradaban Helenistik, Romawi, hingga puncak pendar cahaya keislaman.
Di dalam dekapan bumi Alexandria yang sarat pesona itu, berdiri kokoh kompleks Masjid Nabi Danial. Di sanalah, dalam keheningan yang syahdu, tersemayam pusara penuh wibawa dari Luqman al-Hakim.

Beliau bukanlah seorang nabi ataupun rasul pembawa risalah langit, melainkan seorang hamba tercinta yang dianugerahi hikmah oleh Sang Pencipta—sebuah keteladanan tentang syukur, kebijaksanaan, dan nasihat-nasihat nurani yang diabadikan di dalam lembaran suci Al-Qur’an sebagai nama surah ke-31.
Ada sebuah kisah rahasia antara seorang hamba dan Tuhannya yang mengiringi perjalanan ini. Jauh sebelum hari-hari ini, di setiap keheningan malam dalam deretan tilawah Al-Qur’an, tatkala lisan Dr. KH. Abdul Hamid sampai pada bacaan Surat Luqman, sebuah bisikan tulus dan doa selalu dipanjatkan:
“Ya Allah… hamba membaca Surat Luqman. Beliau bukanlah seorang nabi maupun rasul, namun nama dan kisah penuh hikmahnya Engkau abadikan begitu mulia di dalam Al-Qur’an… Sampaikanlah hamba kelak pada makamnya di Alexandria, Mesir.”
Waktu berjalan dengan ketetapannya sendiri. Ia menuntut kesabaran, menempa keikhlasan, dan mengumpulkan setiap tetes doa yang dipupuk dari hari ke hari. Dan hari ini, janji Allah tergenapi.
Akumulasi dari doa yang bertahun-tahun dipanjatkan akhirnya menemukan pelabuhannya. Takdir mengantar sang kiai menyeberangi benua, hingga benar-benar berdiri nyata, bersimpuh khusyuk di hadapan pusara Luqman al-Hakim.
salah satu hikmah agung dari Luqman al-Hakim yang diabadikan di dalam Al-Qur’an, yaitu nasihat beliau kepada putranya tentang bagaimana menjalani kehidupan dengan penuh kerendahan hati dan keseimbangan:
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sungguh, seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 18–19)
Nasihat ini mengajarkan kita bahwa kecerdasan, ilmu, dan kedudukan tinggi (sebagaimana keistimewaan hikmah yang dimiliki Luqman) tidak sepatutnya membuat seseorang menjadi sombong atau angkuh kepada sesama. Kunci kemuliaan seorang hamba terletak pada kelembutan akhlak, kesopanan dalam bersikap, serta keseimbangan dalam berinteraksi dengan dunia.
Rihlah mulia kiai Hamid ini menyusuri jejak para ahli hikmah ini adalah manifestasi nyata dari titah Ilahi yang menuntut umatnya untuk terus merentangkan sayap pencarian ilmu serta merenungi jejak orang-orang saleh terdahulu.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Mujadilah ayat 11 Serta pesan yang diwariskan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW melalui hadis riwayat Ibnu Majah:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
tatkala tiba saatnya beranjak meninggalkan kompleks Masjid Nabi Danial untuk melanjutkan estafet ziarah berikutnya—hendak bersimpuh melantunkan kecintaan kepada Imam al-Busiri—langkah itu terhenti sejenak. Di ambang pintu masjid yang menyimpan sejuta karisma sejarah para nabi, sang pengasuh menyempatkan diri untuk melantunkan murāja’ah terakhirnya. Dengan suara yang tenang, beliau mengulang kembali hafalan Surah Luqman di hadapan Ilahi, meresapi setiap ayat yang dulu hanya dilisankan dalam doa, kini bergema nyata di tempat tujuannya.
Sebuah episode perjalanan yang mengesankan, membuktikan bahwa tatkala niat telah suci dan doa telah lama dipanjatkan, semesta mempertemukan seorang hamba dengan takdir perjalanannya, sebelum kembali melangkah merajut cinta kepada para pencinta Rasulullah lainnya.

Semoga ziarah batin dan rihlah ilmiah sang kiai ini senantiasa dilimpahi keberkahan, keselamatan dalam setiap langkah, serta membawa pulang mata air hikmah dan keteladanan para nabi untuk disiramkan kembali kepada para santri tercinta di bumi Lampung dan Nusantara. Amin, ya rabbal ‘alamin
Kontributor: Achamd Husen
#RihlahIlmiah #ZiarahSpiritual #Alexandria #Mesir #KHAbdulHamid #PesanNusantara #PesantrenLampung #HikmahAlQuran #NabiDanial #LuqmanHakim
#BukitRajawali
#TadabburAyat