
Menembus Lorong Keabadian: Menyusuri Jejak Penguasa di Museum Peradaban
KAIRO, MESIR — Perjalanan seorang musafir agung menembus bumi para anbiya tidak pernah kehabisan lembaran hikmah. Selepas meresapi hamparan gurun Giza, langkah pengasuh Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali sekaligus PPM Baitul Qur’an, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., al-Hafizh, terus berayun menyusuri kedalaman sejarah. Hari ini, rihlah ilmiyah beliau berlanjut menuju sebuah megakarya arsitektur modern yang menyimpan rahasia ribuan tahun: Museum Nasional Peradaban Mesir (National Museum of Egyptian Civilization / NMEC) yang terletak di kawasan bersejarah Fustat, Kairo Lama.
Di dalam kompleks megah ini, terdapat satu ruang paling sakral yang menjadi pusat permenungan: Aula Mumi Kerajaan (Royal Mummies’ Hall).
Menatap deretan jasad penguasa masa silam yang telah dimumikan, batin sang kiai langsung tertuju pada titah agung Al-Qur’anul Karim. Di dalam lembaran suci yang mengabadikan sejarah manusia, kata Firaun (fir’aun)—yang sejatinya bukanlah nama diri, melainkan sebuah gelar kehormatan dan kekuasaan dari bahasa Mesir Kuno Pr-a3 (artinya “Rumah Besar” atau istana) yang disematkan kepada para raja Mesir—disebutkan sebanyak 74 kali yang tersebar di sekitar 27 surat yang berbeda.

Frekuensi yang tinggi ini menunjukkan betapa pentingnya pelajaran (ibrah) dari figur tersebut sebagai simbol utama kesombongan, penolakan terhadap kebenaran, dan tirani kekuasaan di muka bumi.
Allah SWT berfirman dalam Surah Yunus ayat 92:
فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ
“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.”
Mengupas kedalaman ayat ini, mufassir agung Imam Al-Baghawi di dalam kitab tafsirnya, Ma’alim at-Tanzil, menjelaskan dengan penuh hikmah. Ketika penguasa tiran bergelar Firaun itu tenggelam di Laut Merah, bala tentara Bani Israil ragu apakah musuh besar mereka itu benar-benar telah binasa. Atas kuasa Allah SWT, gelombang laut melemparkan jasadnya yang utuh ke daratan tinggi agar dapat disaksikan oleh pengikutnya dan umat-umat setelahnya.
Penempatan jasad para penguasa masa lalu di dalam ruang pamer yang dirancang temaram, hening, dan bernuansa gelap gulita di Museum Nasional Peradaban Mesir bukan sekadar estetika pameran modern. Penataan cahaya yang redup dan magis ini menghadirkan kesan puitis bagaikan lorong Lembah Para Raja (Valley of the Kings).
Di balik keheningan itu tersimpan pesan teologis yang mendalam: bahwa betapapun berkuasanya seseorang di muka bumi, menyombongkan diri hingga mengaku sebagai tuhan, pada akhirnya jasad mereka terbujur bisu dalam kegelapan, menjadi saksi bisu atas kefanaan dan kehinaan di hadapan kebesaran Allah SWT.

Berdiri di hadapan jasad-jasad para penguasa ribuan tahun silam, permenungan sang kiai membentang luas pada rentang sejarah para nabi dan rasul yang diabadikan dalam Al-Qur’an berkaitan dengan bumi Mesir:
- Nabi Ibrahim AS:
Jauh sebelum era kekuasaan para Firaun tirani, bumi Mesir pernah disinggahi oleh bapak para nabi, Nabi Ibrahim AS, bersama istrinya, Sarah, saat terjadi paceklik. Di tanah inilah interaksi awal dengan penguasa Mesir terjadi, yang kemudian menghadirkan Siti Hajar dalam lembaran sejarah kenabian. - Nabi Yusuf AS (Periode Hyksos / Kerajaan Pertengahan):
Pada masa kepemimpinan Mesir sekitar abad ke-18 SM (sekitar tahun 1800-an SM), penguasa Mesir menyambut baik kedatangan Nabi Yaqub dan keluarganya, serta mengangkat Nabi Yusuf AS sebagai bendaharawan agung. - Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS (Era Kerajaan Baru / New Kingdom):
Penguasa bergelar Firaun yang menentang Nabi Musa dan mengaku sebagai tuhan (Ana rabbukumul a’la) hidup pada era Kerajaan Baru, antara tahun 1290 hingga 1213 SM di bawah kekuasaan Dinasti ke-19 (yang kerap diidentifikasikan dengan Ramses II dan penerusnya, Merenptah). Bersama saudaranya, Nabi Harun AS, Nabi Musa berjuang menegakkan kalimat tauhid di tengah cengkeraman tirani istana Mesir Kuno.
Keunikan rihlah sang kiai hari ini ditutup dengan sebuah kenangan yang sarat makna. Di sebuah pusat seni pembuatan kertas papyrus tradisional, beliau memesan dan membeli selembar kertas papyrus autentik yang bertuliskan nama indah dalam goresan hieroglif dan kaligrafi: عبد الحميد (Abdul Hamid).
Nama yang bermakna “Hamba Allah Yang Maha Terpuji” ini terukir di atas lembaran papyrus—tanaman sungai Nil yang ribuan tahun lalu menjadi saksi peradaban tulis-menulis para raja dan pujangga Mesir Kuno. Memegang lembaran papyrus bertuliskan nama sendiri di tanah Mishr menjadi simbolisasi spiritual yang puitis: bahwa seorang hamba (‘abd) yang berjalan di atas bumi para nabi harus senantiasa membawa sifat kepasrahan total kepada Sang Pencipta, memuji kebesaran-Nya, di tengah hamparan sejarah peradaban manusia yang silih berganti.

Kontributor: Achamd Husen
#NMECFustat #MuseumMumiMesir #TafsirAlBaghawi #SejarahFiraun #NabiDiMesir #PapyrusMesir #MishrMesir #RihlahIlmiah #PPTQAlHusna #BaitulQuran #TasawufNusantara
#MusafirBukitRajawali