Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Menembus Benteng Qaitbay: Jejak Pertahanan Samudra dan Hikmah Menjaga Peradaban di Ujung Alexandria

Menembus Benteng Qaitbay: Jejak Pertahanan Samudra dan Hikmah Menjaga Peradaban di Ujung Alexandria

Usai merajut ziarah batin di pesarehan para wali dan menikmati santap siang penuh rasa syukur di tepi Laut Mediterania, langkah perjalanan Assoc.Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I, al-Hafizh beserta rombongan kembali berayun menyusuri pesisir pelabuhan Alexandria. Tujuan berikutnya adalah salah satu situs pertahanan maritim paling ikonik dan bersejarah di dunia Islam: Benteng Qaitbay (Citadel of Qaitbay).

Berdiri kokoh di atas semenanjung Pulau Pharos yang menghadap langsung ke Laut Mediterania, benteng megah ini memancarkan wibawa arsitektur batu karang yang berpadu dengan deburan ombak. Di tempat inilah ribuan tahun yang lalu pernah berdiri tegak salah satu keajaiban dunia kuno, yakni Mercusuar Alexandria (Pharos of Alexandria), sebelum akhirnya runtuh akibat terjangan gempa bumi dahsyat dan sejarah masa lampau mengubah lanskap pesisir tersebut.

Secara historis, Benteng Qaitbay dibangun pada akhir abad ke-15 Masehi, tepatnya pada tahun 1477 M oleh Sultan Mamluk, Al-Asyraf Saif al-Din Qaitbay. Pembangunan benteng ini dilatarbelakangi oleh kesadaran sang sultan akan pentingnya memperkuat pertahanan pesisir Mesir dari ancaman invasi armada laut Kekaisaran Ottoman yang kian meluas saat itu.
Sultan Qaitbay memerintahkan agar reruntuhan mercusuar kuno yang tersisa di pulau tersebut dibersihkan dan dijadikan fondasi utama untuk membangun sebuah benteng pertahanan maritim yang kuat. Dengan dinding batu yang tebal, menara pengawas yang strategis, serta ruang-ruang meriam pertahanan, benteng ini menjadi perisai tangguh yang mengamankan jalur perdagangan laut dan pintu gerbang utama masuknya musuh dari arah Laut Mediterania.

Menyusuri setiap sudut ruangan dan menara pengawas Benteng Qaitbay memberikan refleksi mendalam bagi sang kiai dan rombongan. Di balik megahnya arsitektur batu yang mampu bertahan selama ratusan tahun melawan terpaan angin laut dan gelombang, tersimpan pelajaran berharga yang dapat disarikan untuk kehidupan umat:

Pertama, Pentingnya Menjaga Benteng Pertahanan Umat: Sebagaimana benteng didirikan untuk melindungi sebuah negeri dari musuh luar, umat Islam—khususnya para penjaga gawang pendidikan seperti pesantren—memiliki tanggung jawab moral untuk membangun “benteng” keimanan, akidah, dan akhlak para santri dari terjangan arus pemikiran dan tantangan zaman yang merusak.

Kedua, tentang Kemandirian dan Keteguhan Prinsip: Benteng Qaitbay dibangun di atas puing-puing sejarah masa lalu yang runtuh, menegaskan bahwa reruntuhan ujian hidup dapat diubah menjadi fondasi kekuatan yang baru apabila dikelola dengan keteguhan tekad, visi yang tajam, dan niat yang lurus karena Allah SWT.

Ketiga, tentang Saksi Bisu Perubahan Zaman: Deburan ombak yang menghantam dinding batu benteng mengingatkan setiap hamba akan kefanaan dunia. Kekuasaan, kemegahan bangunan, dan kejayaan imperium bisa berganti, namun amal saleh dan jejak pengabdian kepada agama sajalah yang abadi melintasi zaman.

Semoga kunjungan bersejarah ke Benteng Qaitbay ini semakin memperkaya wawasan keilmuan, memperluas cakrawala sejarah, serta menanamkan semangat juang yang kokoh untuk terus merawat peradaban Islam di bumi Nusantara. Amin, ya rabbal ‘alamin.

#RihlahSpiritual #BentengQaitbay #Alexandria #SejarahIslam #KHAbdulHamid
#BukitRajawali #PesantrenLampung #HikmahPeradaban #ZiarahMesir
#muhasabahdiri