Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Menyemai Berkah di Serambi Al-Azhar: Meniti Jejak Mahabbah dan Memburu Warisan Kitab Ulama

Menyemai Berkah di Serambi Al-Azhar: Meniti Jejak Mahabbah dan Memburu Warisan Kitab Ulama

KAIRO — Langkah rihlah spiritual dan intelektual pengasuh Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali sekaligus PPM Baitul Qur’an Lampung, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I, al-Hafizh terus mekar menyusuri lorong-lorong sejarah di bumi para anbiya.

Usai menumpahkan rindu di hadapan pesarehan cucu Baginda Nabi, perjalanan dilanjutkan dengan melangkah menembus gerbang keilmuan yang paling berpengaruh di dunia Islam: Masjid dan Jami’ al-Azhar al-Syarif.

Berdiri megah di jantung Kairo, Masjid al-Azhar bukan sekadar bangunan tempat bersujud, melainkan jantung peradaban yang memompa denyut keilmuan Islam global selama lebih dari seribu tahun. Berdasarkan catatan sejarah, masjid agung ini mulai dibangun pada masa kekhalifahan Fatimiyah oleh panglima perang Jawhar al-Siqilli atas perintah Khalifah al-Mu’izz li-Dinillah, dan resmi dibuka pada bulan Ramadhan tahun 359 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 970 Masehi.

Sejak saat itu, al-Azhar bertransformasi menjadi mercusuar ilmu, tempat di mana para ulama agung, mufti, dan pemikir dari berbagai penjuru dunia menimba mata air hikmah yang tak pernah kering.
Menapaki lantai marmer al-Azhar bersama rombongan, Dr. KH. Abdul Hamid menyerap kedalaman energi spiritual yang terpancar dari sudut-sudut halaqah ilmu. Ada banyak keunikan dan kekhasan yang hidup di dalam kompleks al-Azhar yang tidak ditemukan di tempat lain. Di sinilah tradisi rihlah ilmiyyah klasik dihidupkan secara nyata, di mana para penuntut ilmu dari berbagai bangsa duduk bersila di bawah naungan tiang-tiang kokoh, menyimak pembacaan kitab kuning langsung dari para masayikh dengan sanad yang bersambung hingga Baginda Nabi SAW.

Keunikan arsitekturnya yang memadukan corak Fatimiyah, Mamluk, hingga Ottoman juga menjadi saksi bisu bagaimana bangunan ini bertahan melintasi badai zaman, tetap kokoh menjadi benteng akidah Ahlussunnah wal Jamaah.

Usai meresapi kedalaman samudra ilmu di serambi al-Azhar, langkah sang kiai bergeser menyusuri sudut kota Kairo menuju Maktabah Darus Salam—sebuah kiblat pencari ilmu untuk memburu mutiara-mutiara kitab تراث yang sarat makna. Di toko buku yang mashur tersebut, beliau memborong sejumlah karya agung, di antaranya kitab manakib ibunda kaum mukminin Sayyidah Khadijah al-Kubra, risalah istimewa tentang kekhususan umat Nabi Muhammad (Khasois Ummat Muhammad), serta karya monumental ulama kharismatik as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani, yaitu Mafahim Yajib an Tusahhah.

Membuka lembaran demi lembaran kitab Mafahim Yajib an Tusahhah karya Abuya al-Maliki seakan menyiram jiwa dengan kejernihan akidah ahlussunnah wal jamaah, terkhusus bab yang menegaskan hakikat mencari keberkahan (tabarruk):

أَنَّ التَّبَرُّكَ لَيْسَ هُوَ إِلَّا تَوَسُّلًا إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِذَلِكَ الْمُتَبَرَّكِ بِهِ، سَوَاءٌ أَكَانَ أَثَرًا أَوْ مَكَانًا أَوْ شَخْصًا

Sesungguhnya tabarruk tidak lain adalah bentuk tawasul (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui perantara apa yang dijadikan sarana tabarruk tersebut, baik berupa peninggalan (atsar), tempat, maupun pribadi (orang shalih).”

Lebih lanjut, Abuya menjelaskan mengenai kemuliaan peninggalan (atsar) Baginda Nabi SAW:

وَقَدْ ثَبَتَ عَنْ بَعْضِ صَحَابَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ كَانُوا يَتَبَرَّكُونَ بِأَشْيَاءَ مُنْفَصِلَةٍ عَنْ بَدَنِهِ كَالشَّعْرِ، وَالْوُضُوءِ، وَالْعَرَقِ وَغَيْرِ ذَلِكَ، مِمَّا جَاءَتْ بِهِ الْأَحَادِيثُ الصَّحِيحَةُ… وَأَمَّا آثَارُهُ الْمَكَانِيَّةُ كَمَكَانٍ سَارَ فِيهِ، أَوْ بُقْعَةٍ صَلَّى فِيهَا، أَوْ أَرْضٍ نَزَلَ بِهَا…

“Dan sungguh telah shahih dari sebagian sahabat Rasulullah SAW bahwa mereka bertabarruk dengan benda-benda yang terpisah dari badan beliau, seperti rambut, air bekas wudhu, keringat, dan selain itu, dari riwayat-riwayat yang dibawa oleh hadits-hadits shahih… Dan adapun peninggalan tempat beliau, seperti tempat yang beliau lewati, atau tempat beliau shalat padanya, atau bumi yang beliau singgahi…”

Rangkaian ziarah batin yang telah ditapaki oleh Dr. KH. Abdul Hamid—mulai dari pusara para wali, maqam cucu Nabi di al-Husain, hingga meresapi jejak sejarah di tanah Kairo—menjelma menjadi manifestasi nyata dari makna tabarruk tersebut.

Menghirup harumnya makam-makam mulia dan membawa pulang risalah ilmu dari Maktabah Darus Salam adalah ikhtiar batin untuk merajut simpul mahabbah, agar berkah para kekasih Allah dan warisan para ulama turut mengalir menghidupkan ruh dakwah serta menyiram sanubari para santri tercinta di bumi Lampung dan Nusantara.

Semoga ziarah keilmuan dan perburuan kitab di bumi para anbiya ini melimpahkan keberkahan yang agung, memperkokoh akar keilmuan pesantren, serta mengalirkan hikmah yang abadi dalam mengemban amanah risalah Nabi SAW. Amin, ya rabbal ‘alamin.

#RihlahSpiritual #MasjidAlAzhar #MaktabahDarusSalam #MafahimYajibAnTusahhah
#KHAbdulHamid
#BukitRajawali
#BaitulQuran #SejarahIslam #PesantrenLampung #SanadKeilmuan #ZiarahMesir