Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Menjemput Berkah di Tanah Haromain: Filosofi Rambut Jatuh dan Genteng yang Menyentuh Langit

Menjemput Berkah di Tanah Haromain: Filosofi Rambut Jatuh dan Genteng yang Menyentuh Langit

Pringsewu, Sri Rahayu — Momentum kepulangan dari tanah suci kerap dimanfaatkan untuk menyambung silaturahmi dengan para sesepuh dan guru. Hal itulah yang dilakukan oleh Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., al-Hafizh, Pengasuh Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali dan PPM Baitul Qur’an Lampung.

Kiai Hamid, yang dikenal sebagai sosok pengasuh yang gemar merenungi filosofi kehidupan dan piawai membaca isyarah (pertanda) langit, senantiasa memegang teguh petuah luhur dari nenek moyangnya. Baginya, sebaik-baik bangunan di dunia ini bukan sekadar susunan bata dan semen, melainkan ikatan persaudaraan. “Bangunlah rumah sebanyak mungkin, yakni silaturahmi,” begitu nasehat yang selalu ia tanamkan dalam langkahnya. Baginya, rumah fisik bisa hancur oleh waktu, namun rumah silaturahmi akan menjadi istana yang abadi di dunia hingga akhirat.

Pada Selasa malam (14/07/2026), Kiai Hamid sowan ke kediaman Mbah Abu Na’im di Sri Rahayu- Banyumas. Hubungan keduanya begitu mendalam, mengingat Mbah Abu Na’im adalah sesepuh sekaligus kakek dari salah satu wali santri di Bukit Raja Wali. Bagi Kiai Hamid, sosok Mbah Abu Na’im bukan sekadar keluarga santri, melainkan sosok yang menjadi saksi sekaligus “penentu” terkabulnya doa-doa besar di pesantrennya.
Di Bukit Raja Wali sendiri, Kiai Hamid telah membangun miniatur Ka’bah sebagai sarana edukasi spiritual.

Harapannya sederhana namun mulia: agar para santri serta keluarga mereka dimudahkan langkahnya untuk berziarah ke Tanah Suci. Melalui keberkahan doa dan ikhtiar bersama, harapan itu kini menjadi kenyataan yang menggembirakan. Lebih dari 50 persen santri, orang tua, maupun keluarga besar pesantren telah mendaftarkan diri, bahkan banyak di antaranya yang telah menuntaskan ibadah umrah dan haji ke Baitullah.
Dalam ajaran Islam, silaturahmi kepada ulama dan orang saleh adalah bagian dari cara menjemput keberkahan. Hal ini selaras dengan hadits Rasulullah saw:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَءَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw bersabda: ‘Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya (diberkahi), maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.'” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam perbincangan yang penuh kekeluargaan itu, Mbah Abu Na’im berkisah tentang pengalaman batin yang sangat mengharukan saat beliau menunaikan ibadah umrah. Ada dua peristiwa yang ia bagikan kepada Kiai Hamid.

Pertama, Mbah Abu Na’im menceritakan bagaimana ia mengajak bicara kakinya sendiri. Di tengah keterbatasan fisik, beliau berpesan kepada kakinya, “Jangan sakit dan kuatlah kamu wahai kaki, karena kamu akan kuajak beribadah, menapaki tanah Haromain.” Sebuah ungkapan yang menunjukkan betapa kuatnya tekad dan kecintaan seorang hamba untuk bertamu ke Baitullah.

Kedua, adalah saat prosesi tahalul. Saat rambutnya dicukur, Mbah Abu Na’im memanjatkan doa khusus. Beliau berdoa agar seluruh keluarga yang ditinggalkan di tanah air dimudahkan oleh Allah untuk bisa menunaikan ibadah ke tanah suci.

Mbah Abu Na’im mengibaratkan doa tersebut seperti jatuhnya rambut beliau ke tanah Haram. “Semoga semua keluarga bisa ibadah ke tanah suci dengan mudah, semudah jatuhnya rambutku ke tanah Haromain ini,” tutur Mbah Abu Na’im. Beliau memberi filosofi bahwa rambut yang berada di posisi atas akan jatuh ke bawah dengan sangat cepat dibandingkan sesuatu di bawah yang hendak naik.
Mendengar filosofi tersebut, Kiai Hamid terkesan dan menimpali dengan kenangan pribadinya. Sebelum memiliki rumah, Kiai Hamid mengaku telah membeli genteng terlebih dahulu.

“Genteng itu posisinya di atas. Insya Allah, jika yang di atas sudah ada, maka seluruh perangkat di bawahnya akan mudah didapat,” ujarnya. Terbukti, tak berselang lama, rumah impian tersebut segera terwujud atas izin Allah SWT.

Kiai Hamid pun berpesan kepada siapa pun yang hingga kini belum berkesempatan ke Tanah Suci, “Seringlah kalian menyambangi atau berkunjung kepada mereka yang telah pulang dari ibadah umrah maupun haji. Insya Allah, energi kesalehan dan keberkahan dari tanah suci itu akan menular kepada kita. Allah memiliki sejuta cara untuk memanggil hamba-hamba-Nya ke tanah suci, asalkan kita terus memupuk kerinduan dan menjaga silaturahmi,” pungkasnya.

Pertemuan ini ditutup dengan doa bersama, mengharap keberkahan umrah yang telah dilaksanakan serta keberkahan ilmu bagi para santri di PPTQ Al-Husna dan PPM Baitul Qur’an.

( Kontributor: Achamd Husen)