
Meniti Titian Hati di Pusara Syaikhul Islam: Ziarah Spiritual ke Makam Syekh Zakaria al-Anshari
KAIRO — Rihlah spiritual dan intelektual pengasuh Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali sekaligus PPM Baitul Qur’an Lampung, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I, al-Hafizh terus mengalir membawa derap kecintaan yang mendalam kepada para ulama pewaris para nabi. Menembus keheningan bumi Kairo, langkah kaki sang kiai bersama rombongan berayun melanjutkan ziarah penuh takzim menuju maqam seorang ulama besar yang memegang tampuk kepemimpinan keilmuan Islam, Syaikhul Islam Syekh Zakaria al-Anshari rahimahullah.
Berdiri di hadapan pusara Syekh Zakaria al-Anshari, suasana batin seakan tersedot ke dalam samudra kekhusyukan yang luar biasa. Ziarah ini memiliki ikatan batin yang sangat istimewa bagi sang pengasuh, mengingat rantai sanad keilmuan Al-Qur’an yang beliau miliki bersambung secara mulia melalui jalur keilmuan Syekh Zakari Al Anshari.
Menghadirkan diri di pesarehan beliau adalah bentuk tabarruk sekaligus penyambungan sanad ruhani yang sangat mendalam, merajut kembali simpul-simpul mahabbah dengan sang muallif dan ulama besar yang risalah ilmunya terus menerangi dunia Islam.
Sejarah dan literatur biografi ulama mazhab Syafi’i—seperti kitab Al-Kawakib As-Sairah bi A’yani al-Miah ath-Thaminah karya Syekh Najmuddin al-Ghazzi serta Sadzaratuz Dzahab karya Ibnu al-Imad al-Hanbali—terdapat ungkapan masyhur yang menggambarkan posisi strategis Syekh Zakaria al-Anshari:
وَقَعَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ زَكَرِيَّا الْأَنْصَارِيُّ بَيْنَ الْحَجَرَيْنِ: اِبْنِ حَجَرٍ الْعَسْقَلَانِيِّ شَيْخِهِ، وَابْنِ حَجَرٍ الْهَيْتَمِيِّ تِلْمِيْذِهِ
“Syaikhul Islam Zakaria Al-Anshari berada (diapit) di antara dua batu (Hajar): Ibnu Hajar Al-Asqalani sebagai gurunya, dan Ibnu Hajar Al-Haitami sebagai muridnya.”
Secara singkat, keadaan ini diabadikan dalam ungkapan: Tawassatha bainal hajariin (Beliau berada tepat di tengah-tengah dua batu). Kiasan “dua batu” (hajar) ini merujuk kepada dua raksasa hadis dan fikih: al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (guru beliau, penulis kitab Fathul Bari) dan Ibnu Hajar al-Haitami (murid beliau, penulis kitab Tuhfatul Muhtaj).
Posisi ini menunjukkan betapa kokoh dan strategisnya kedudukan Syekh Zakaria al-Anshari sebagai jembatan emas (wasithah) yang menyambungkan poros keilmuan hadis masa mutaqaddimin langsung kepada puncak pakar fikih masa muta’akhirin.
Berkat karunia umur panjang yang mencapai lebih dari 100 tahun (wafat sekitar tahun 926 H), beliau sempat berguru dan menyerap sanad secara penuh dari al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani di masa mudanya, serta tetap bugar mengajar hingga melahirkan murid-murid sekaliber Ibnu Hajar al-Haitami di masa tuanya.
Di tengah ziarah batin yang penuh kekhusyukan tersebut, warisan pemikiran Syekh Zakaria al-Anshari turut menjadi bahan perenungan yang sangat mendalam. Dalam kitab karyanya, al-Ghararul Bahiyyah fi Syarhil Bahjah al-Wardiyyah, beliau mengutip sebuah syair indah perihal hakikat kemerdekaan seorang hamba:
الْعَبْدُ حُرٌّ إنْ قَنِعْ وَالْحُرُّ عَبْدٌ إنْ طَمِعْ
فَاقْنَعْ وَلَا تَطْمَعْ فَمَا شَيْءٌ يَشِينُ سِوَى الطَّمَعْ
“Seorang hamba sahaya layaknya orang merdeka jika ia merasa cukup dengan apa yang ada, dan orang merdeka layaknya seorang hamba sahaya jika ia rakus. Maka terimalah apa yang ada, dan jangan rakus, karena sesungguhnya tidak ada perangai yang lebih jelek selain daripada rakus.”
Menerima apa yang telah ditakdirkan oleh Allah SWT (qana’ah) merupakan puncak tertinggi dari kemerdekaan setiap manusia. Orang yang qana’ah tidak lagi dikekang oleh keinginan nafsunya, melainkan ia yang mengontrol nafsunya. Sebaliknya, sifat rakus dan selalu berharap pada apa yang tidak dimilikinya akan memperbudak manusia, menjadikannya tawanan hawa nafsu duniawi.
Rasulullah SAW mengibaratkan sifat qana’ah sebagai simpanan kekayaan jiwa yang tidak akan pernah rusak, sebagaimana sabda beliau:
الْقَنَاعَةُ كَنْزٌ لَا يَفْنَى
“Menerima apa adanya (qana’ah) merupakan simpanan yang tidak akan pernah rusak.” (HR al-Baihaqi)
Pesan luhur ini selaras dengan wasiat sahabat Nabi, Sa’ad bin Waqqash ra., yang dinukil oleh Syekh Muhammad bin Ahmad Salim al-Hanbali dalam kitab Ghada’ul Albab Syarh Manzhumatil Adab:
يَا بُنَيَّ إذَا طَلَبْت الْغِنَى فَاطْلُبْهُ بِالْقَنَاعَةِ فَإِنَّهَا مَالٌ لا يَنْفُذُ وَإِيَّاكَ وَالطَّمَعَ فَإِنَّهُ فَقْرٌ حَاضِرٌ وَعَلَيْك بِالإِيَاسِ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ فَإِنَّك لا تَيْأَسُ مِنْ شَيْءٍ إلا أَغْنَاك اللَّهُ عَنْهُ
“Wahai anakku! Apabila kamu mencari kekayaan, maka carilah ia dengan qana’ah, karena sesungguhnya ia merupakan harta yang tidak akan pernah habis. Janganlah kamu rakus, karena sesungguhnya ia adalah kefakiran yang akan selalu datang. Dan hendaklah kamu berputus asa terhadap sesuatu yang ada di tangan manusia, karena tidaklah kamu berputus asa dari sesuatu melainkan Allah akan menjadikanmu tidak butuh pada sesuatu.”
Kekayaan sejati bukanlah dinilai dari banyaknya harta dan materi yang melimpah, melainkan kekayaan jiwa (ghina an-nafs) yang senantiasa bersyukur atas setiap ketetapan Allah SWT.
Semoga ziarah ke makam Syaikhul Islam Syekh Zakaria al-Anshari ini semakin meneguhkan ketulusan hati, menyambung keberkahan sanad Al-Qur’an, serta mengalirkan hikmah abadi dalam mengemban amanah dakwah dan pendidikan di bumi Nusantara. Amin, ya rabbal ‘alamin.
Kontributor: Achamd Husen
#RihlahSpiritual #ZiarahKairo #SyekhZakariaAlAnshari
#SejarahIslam #KHAbdulHamid
#BukitRajawali
#BaitulQuran #PesantrenLampung #SanadQur-an #ZiarahMesir