Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Meniti Jalan Langit di Bukit Raja Wali: PPTQ Al-Husna Sambut 132 Santri dengan Wasiat Tauhid

Meniti Jalan Langit di Bukit Raja Wali: PPTQ Al-Husna Sambut 132 Santri dengan Wasiat Tauhid

Pringsewu – Bukit Raja Wali, Suasana khidmat menyelimuti Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna, Bukit Raja Wali, saat prosesi penyerahan santri baru dilakukan.

Di tangan dingin sang Pengasuh, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I al-Hafizh, yang dikenal memiliki kedalaman batin dan kepekaan dalam membaca isyaroh-isyaroh langit, jumlah santri baru yang per hari ini, Minggu 12 Juli 2026, telah mencapai 132 orang, tidak dibaca sekadar sebagai angka statistik biasa.

Bagi sang Pengasuh, angka 132 adalah “tanda” yang sengaja dihadirkan oleh Allah SWT sebagai pesan ilahiah yang selaras dengan ayat suci Al-Qur’an dalam QS. Al-Baqarah ayat 132:
وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. ‘Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.'”

Dalam pandangan sang Pengasuh, angka 132 bukan sekadar jumlah santri, melainkan wujud istifa (pilihan Allah) bagi 132 jiwa tersebut untuk meniti jalan penuntut ilmu syar’i. Mereka adalah amanah yang sedang dititipkan untuk dididik agar memegang teguh wasiat Islam hingga akhir hayat. Kehadiran santri ke-132, Sholehudin Al-Ayubi, pada hari ini dimaknai sebagai doa nyata agar angkatan ini menjadi pilar kesalehan yang kokoh. Tentu, Bukit Raja Wali tetap membuka pintu bagi calon santri baru yang nantinya akan menyusul, karena proses dakwah adalah perjalanan berkelanjutan.
Lebih dalam, sang Pengasuh mengaitkan angka 132 dengan filosofi surat Al-Baqarah.

Sebagaimana kisah penyembelihan sapi betina yang melambangkan kepatuhan total di atas logika akal, 132 santri ini hadir dengan tujuan yang jelas: mencari kebenaran dan ilmu. Ketaatan seekor “sapi” dalam perintah syariat diubah menjadi ketaatan santri dalam menuntut ilmu. Santri Al-Husna diharapkan menjadi pribadi yang “produktif”—bukan sekadar berdiam diri, tetapi aktif menyebarkan keberkahan ilmu dan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitar Bukit Raja Wali, sebagaimana sapi yang memberikan hasil (susu dan tenaga) bagi kehidupan. Selain itu, pendidikan di pesantren adalah proses “penyembelihan” ego diri sendiri agar bertransformasi menjadi insan yang muslim atau berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT.

Dalam kesempatan tersebut, sang Pengasuh juga menyoroti angka 17 yang terukir di gerbang pondok sebagai simbol “rakaat kehidupan” bagi setiap santri, yang secara konsisten menjadi pengingat untuk senantiasa menjaga shalat lima waktu dengan sempurna, sekaligus merujuk pada QS. Al-Qamar ayat 17 tentang kemudahan dalam menghafal Al-Qur’an yang menjadi ruh perjuangan di pesantren ini. Beliau menegaskan bahwa untuk mencapai keberhasilan tersebut, diperlukan satu tujuan yang sama; visi dan misi antara orang tua, santri, dan pengasuh haruslah selaras dan bersatu.
Sebagai penutup yang penuh keberkahan, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I al-Hafizh memberikan ijazah amalan bathiniyah bagi para orang tua. Beliau berpesan, setibanya di rumah, bacalah surat Al-Fatihah sebanyak 41 kali, kemudian tiupkan ke kasur putra-putri agar mereka senantiasa mudah beradaptasi dan betah dalam menuntut ilmu di pesantren. Jika nantinya rasa rindu yang mendalam datang menyapa dan dirasa belum hilang, beliau mengijazahkan untuk membaca QS. Ibrahim ayat 37 sebanyak 3 kali:
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Saat matahari mulai condong ke barat, dan saatnya orang tua melangkah mundur dari gerbang yang membatasi antara dunia luar dan taman surga di Bukit Raja Wali, sebuah keheningan yang agung jatuh di antara mereka. Di balik gerbang ini, anak-anak kalian tidak sedang kehilangan kebebasan. Mereka sedang dipinjamkan oleh waktu kepada Sang Pemilik Ilmu. Lihatlah langkah mereka yang kini mulai pelan, memikul tas berisi Al-Qur’an dan harapan yang lebih berat dari gunung-gunung di sekeliling pondok.
Bapak dan Ibu, lepaskanlah genggaman tangan itu dengan doa yang paling tulus.

Jangan menoleh dengan rasa cemas, sebab di dalam sana, mereka tidak sedang sendirian. Mereka sedang bersama ayat-ayat Allah yang menjaga napasnya, bersama guru yang mampu membaca isyaroh langit, dan bersama malaikat yang membentangkan sayap bagi penuntut ilmu.
Anak-anakku, saat gerbang besi itu beradu, biarkanlah ia menutup pintu masa lalumu yang egois dan membuka pintu masa depanmu yang tangguh. Kalian bukanlah anak yang ditinggalkan, melainkan anak yang sedang dipersiapkan untuk terbang. Jadilah seperti Rajawali di bukit ini; gunakan badai kerinduan, badai keletihan, dan badai ujian untuk melambung lebih tinggi. Orang tuamu pulang membawa rindu, namun mereka menitipkan amanah langit yang tidak akan mereka ambil kembali hingga ia tumbuh menjadi pohon yang rindang, yang buahnya kelak menjadi syahadat yang teguh saat mereka kembali kepada Ilahi.

Di gerbang ini, cinta tidak berakhir. Ia justru baru saja dimulai—dalam sujud-sujud panjang orang tua di tengah malam, dan dalam lantunan ayat-ayat yang akan kalian genggam hingga ke surga-Nya. Selamat berjuang, wahai para penjaga wasiat langit.

( Kontributor: Achamd Husen)