Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Menanam Benih Empati di Bumi Al-Husna: Mengukir Kasih Sayang dalam MPLS SMP Qur’an Al-Hamidy dan SMA Plus Al-Hamidy

Menanam Benih Empati di Bumi Al-Husna: Mengukir Kasih Sayang dalam MPLS SMP Qur’an Al-Hamidy dan SMA Plus Al-Hamidy

PRINGSEWU, BUKIT RAJA WALI – Langit Pringsewu pagi itu tampak cerah, memayungi Bumi Al-Husna dengan keteduhan yang menenangkan. Di bawah naungan langit tersebut, Masjid Najmun Nasri menjadi saksi bisu bagi dimulainya sebuah perjalanan suci para santri baru SMP Qur’an Al-Hamidy dan SMA Plus Al-Hamidy. Kamis (16/07/2026), di tengah heningnya ruang ibadah, sebuah ikrar kasih sayang dilantunkan, membasuh hati dari debu-debu permusuhan yang seringkali mencemari benih-benih kebaikan generasi muda.

Pemilihan Masjid Najmun Nasri sebagai pusat kegiatan ini bukan sekadar solusi atas keterbatasan kapasitas aula sekolah yang belum memadai. Lebih dari itu, langkah ini merupakan bentuk “kembali ke akar”—menjadikan masjid sebagai jantung peradaban dan pusat pendidikan sejati. Di lingkungan PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali, masjid diposisikan sebagai ruang suci tempat ilmu tidak hanya dibaca dari kitab, tetapi dirasakan dalam atmosfer keberkahan. Dengan menjadikan masjid sebagai “bengkel hati”, para santri diajak menyadari bahwa setiap gerak-gerik mereka senantiasa berada dalam pengawasan Allah SWT. Tidak ada sekat antara ibadah dan pendidikan; di tempat inilah, komitmen untuk menjadi insan yang mulia ditempa.

Kepala Sekolah SMP Qur’an Al-Hamidy, Diana Arianti, M.Pd., Al-Hafizhah, membuka acara dengan penuh apresiasi kepada Ust. Tubagus Muhammad Nasarudin, S.H., M.H., seorang praktisi hukum dan pendidik yang hadir berbagi ilmu.

Dalam nasehat hukumnya yang tajam, Ust. Tubagus menekankan pentingnya kesadaran hukum dan etika sejak dini:
“Anak-anakku, dalam koridor hukum, perbuatan bullying bukan sekadar kenakalan remaja, melainkan pelanggaran hak asasi manusia yang memiliki konsekuensi serius bagi pelaku maupun korban.

Namun, di pondok ini, saya ingin kalian melihat hukum bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai bentuk perlindungan bagi kehormatan orang lain. Jika kalian mampu menahan lisan dan tangan kalian, berarti kalian telah menjadi ‘penegak hukum’ bagi diri kalian sendiri. Jadilah santri yang taat, karena santri yang beradab adalah mereka yang mengerti bahwa kemerdekaan dirinya dibatasi oleh hak dan kenyamanan orang lain di sekitarnya.”

Kehangatan majelis mencapai puncaknya saat Pendiri dan Pengasuh PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., Al-Hafizh, mengajak para santri melakukan perenungan fisik.

“Beliau meminta setiap santri mencubit punggung tangan mereka sendiri, lalu bertanya, “Sakit bukan?”
Beliau melanjutkan dengan argumentasi tajam khas seorang akademisi: “Jika engkau saja merasa sakit, maka secara logis dan nurani, engkau harus memahami bahwa menyakiti orang lain adalah tindakan yang tidak rasional. Dalam hukum kehidupan, apa yang engkau perbuat akan kembali kepadamu”.

Maka, empati adalah cara paling cerdas untuk menjaga diri sendiri dari keburukan yang kita tebar kepada orang lain.” Sebagai puncak kesadaran, sebelum pembubuhan tanda tangan pada banner anti-bullying, beliau membimbing santri untuk mengikrarkan janji suci:

“Kami, satu keluarga santri PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali; dalam satu kelas, dalam satu asrama, berjanji dengan segenap jiwa: tidak akan pernah ada kata yang melukai lisannya, tidak akan pernah ada tangan yang mencederai fisiknya. Sebab bagiku, saudaraku adalah cerminan dari kemanusiaanku sendiri. Menyakitinya adalah mengkhianati nurani, menjaganya adalah bentuk tertinggi dari bakti kepada Ilahi.”

Landasan filosofis ini diperkuat oleh sabda Rasulullah SAW:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
(Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.) – (HR. Bukhari).

Serta peringatan tegas dari kalam Ilahi dalam QS. Al-Hujurat ayat 11:
وَلَا تَلْمِزُوٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ
(…dan janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk…)
Setelah doa dipanjatkan, acara ditutup dengan aksi simbolik: pembubuhan tanda tangan pada banner anti-bullying. Dari Masjid Najmun Nasri ini, harapan besar diletakkan: agar lahir generasi yang tidak hanya tangguh secara intelektual dan sadar akan hukum, namun memiliki hati selembut sutra, memahami bahwa kedamaian adalah buah dari benih kasih yang kita tanam hari ini.

(Kontributor: Achmad Husen)

#PonpesImpian

#PonpesTerbersihSeLampung

#BukitRajaWali

#SantriEmpati

#SantriPembawaRisalah