
Menemui Cahaya Makrifat di Pintu Kewalian: Ziarah Spiritual Dr. KH. Abdul Hamid ke Maqam Sayyidah Nafisah
KAIRO — Rihlah spiritual dan intelektual pengasuh Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali sekaligus PPM Baitul Qur’an Lampung, Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I, terus melangkah membawa derap kecintaan yang mendalam kepada para ahlulbait dan para kekasih Allah. Usai merajut ziarah di pesarehan para imam besar, perjalanan dilanjutkan dengan bertawajjuh penuh kekhusyukan menuju makam seorang perempuan agung yang menjadi mercusuar ilmu dan kewalian di bumi Mesir: Sayyidah Nafisah radhiyallahu ‘anha.
Berdiri di hadapan pesarehan Sayyidah Nafisah, suasana batin seakan ditarik ke dalam kedalaman makrifat dan kesucian jiwa. Beliau dikenal sebagai Nafisatul ‘Ilmi (wanita tempat rujukan ilmu) dan ahli ibadah yang maqam spiritualnya sangat tinggi. Dalam lembaran sejarah keilmuan Islam, Sayyidah Nafisah bukan sekadar keturunan Nabi yang dimuliakan, melainkan juga salah satu guru ruhani yang sangat dihormati oleh para ulama besar di masanya—termasuk Imam al-Syafii rahimahullah yang kerap datang bersimpuh mengambil ijazah spiritual, memohon doa, serta menimba hikmah dari keluhuran akhlak beliau.
Suasana ziarah di masjid yang dinaungi keberkahan Sayyidah Nafisah ini semakin menyentuh hati tatkala sang kiai mendapati pemandangan yang sarat makna. Di masjid tersebut, beliau membersamai suasana di mana begitu banyak jenazah dishalatkan secara bergantian. Suasana batin mengalirkan perenungan bahwa hal tersebut barangkali disebabkan oleh sejarah agung di masa lampau, di mana Imam al-Syafii—sang muassis mazhab—pernah disemayamkan dan dishalatkan jenazahnya di tempat mulia ini, meninggalkan jejak keberkahan dan syafa’at yang terus mengalir hingga hari ini.

Di tengah kekhusyukan ibadah tersebut, sebuah anugerah tak terduga menghampiri perjalanan sang pengasuh. Kiai Hamid mendapatkan kesempatan berharga untuk maju ke depan menjadi imam, memimpin pelaksanaan shalat jamak qashar Dhuhur dan Ashar bagi rombongan di bumi penuh barakah ini, merajut simpul kekhusyukan yang menyatu dengan keagungan sejarah para wali.
Sayyidah Nafisah memiliki garis keturunan (nasab) suci yang langsung bersambung kepada Baginda Nabi Muhammad SAW melalui garis cucu beliau, Sayyidina Hasan ra. Secara lengkap, nasab beliau adalah: Nafisah binti Hasan al-Anwar bin Zaid al-Ablaj bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum.
Beliau dilahirkan di Makkah al-Mukarramah pada tahun 145 Hijriah dan menghabiskan hari-hari hidupnya dengan qiyamul lail, puasa, serta menyebarkan ilmu dan ketulusan. Darah Ahlulbait yang mengalir deras dalam diri beliau memancarkan kewibawaan ruhani yang membuat namanya harum abadi melintasi lintas generasi.
Ziarah batin yang dilakukan oleh kiai Hamid ke maqam Sayyidah Nafisah memberikan teladan serta pelajaran luhur yang sangat mendalam bagi para penuntut ilmu dan pengemban dakwah:
Pertama, Kemuliaan Derajat Wanita Shalihah dalam Peradaban Islam: Sayyidah Nafisah membuktikan bahwa kesucian jiwa, keilmuan yang mendalam, dan kedekatan kepada Allah SWT tidak dibatasi oleh gender. Beliau menjadi rujukan para ulama besar mazhab, menunjukkan bahwa wanita salehah mampu menjadi tiang penyangga peradaban umat.
Kedua, Koneksi Ruhani dan Tawadhu’nya Para Ulama: Kedekatan Imam al-Syafii kepada Sayyidah Nafisah mengajarkan pentingnya sifat tawadhu’ (rendah hati). Seorang mujtahid besar tidak merasa gengsi untuk mengambil inspirasi, meminta doa, dan memuliakan seorang wali perempuan yang alim, meneguhkan bahwa ilmu harus selalu diiringi dengan pengagungan terhadap kemuliaan Ahlulbait.
Ketiga, bahwa beliau Menghidupkan Waktu dengan Ketaatan: Di antara riwayat masyhur mengenai Sayyidah Nafisah adalah bagaimana beliau menghabiskan sebagian besar umurnya untuk beribadah di tempat beliau menggali liang lahatnya sendiri, membaca Al-Qur’an hingga khatam ribuan kali. Hal ini menjadi pengingat agung bagi umat Islam akan pentingnya memanfaatkan waktu di dunia untuk membekali diri menuju akhirat.
Semoga ziarah batin ke maqam Sayyidah Nafisah ini melimpahkan keberkahan yang luas, memperkuat keteguhan dakwah, serta merajut simpul sanad mahabbah yang kelak menerangi langkah para santri di bumi Nusantara. Amin, ya rabbal ‘alamin.

Kontributor: Achmad Husen
#RihlahSpiritual #ZiarahKairo #SayyidahNafisah #AhlulBait #SejarahIslam #KHAbdulHamid #PesantrenLampung #ZiarahMesir