
Menyingkap Makna 132 Santri: Isyarat Ilahiah dan Wasiat Tauhid di PPTQ Al-Husna BR
Pringsewu, Bukit Raja Wali– Penerimaan 132 santri baru di Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali, Lampung, untuk tahun ajaran 2026/2027 membawa kedalaman tafsir yang menjadi landasan visi pendidikan di lembaga tersebut. Pengasuh PPTQ Al-Husna BR, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., al-Hafizh, menekankan bahwa angka 132 ini adalah isyarat langit yang berpijak pada QS. Al-Baqarah ayat 132 tentang wasiat tauhid Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub kepada anak keturunannya.
Keunikan PPTQ Al-Husna BR terletak pada penamaan asrama yang menggunakan nama-nama hewan sebagai bentuk tabarukan (mengambil berkah) dari mukjizat Nabi Sulaiman AS yang mampu berkomunikasi dengan makhluk Allah.
Di lingkungan asrama putri, terdapat berbagai nama asrama seperti Al-Baqarah, An-Nahl (lebah), Al-Ankabut (laba-laba), Merpati, Kupu-kupu, dan Merak.
Penamaan ini memiliki akar historis yang merujuk pada keagungan Surah Maryam ayat 7, yang menegaskan pemberian nama sebagai identitas istimewa dan orisinil nya:
يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَىٰ لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا
“Wahai Zakaria! Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang Kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya.”
Dalam kitab tafsir Al-Kasysyaf, Imam Az-Zamakhsyari menjelaskan bahwa ayat 132 Surah Al-Baqarah merupakan puncak dari pendidikan tauhid. Wasiat Ibrahim dan Ya’qub bukan sekadar nasihat biasa, melainkan pengokohan prinsip Islam (berserah diri) agar anak keturunan menjaga istiqamah hingga ajal menjemput. Inilah yang kemudian diadaptasi oleh pengasuh PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali dalam merumuskan visi pendidikan yang menjadikan 132 santri ini sebagai amanah wasiat untuk dididik agar memegang teguh prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah hingga mencapai derajat husnul khatimah.
Kiai Abdul Hamid mengelaborasi kaitan filosofis antara angka 132 sebagai manifestasi istifa (pilihan Allah) dengan nama Surah Al-Baqarah melalui tiga poin utama:
Pertama, ketaatan Mutlak: Sebagaimana Bani Israil diperintahkan mencari sapi betina sebagai wujud ketaatan mutlak, 132 santri ini hadir dengan satu tujuan: mencari kebenaran ilmu.
Kedua, Transformasi Produktivitas: Karakter santri diharapkan menyerupai keberkahan sapi yang memberikan manfaat luas dan nyata bagi kehidupan. Santri harus menjadi pribadi yang produktif—tidak berdiam diri, melainkan aktif menebar kebaikan, layaknya sapi yang menghasilkan susu untuk memenuhi nutrisi masyarakat, tenaganya digunakan untuk membajak sawah demi ketahanan pangan, hingga keberadaannya yang memberikan nilai manfaat tinggi bagi sesama, bahkan sampai pengabdian terbaiknya di jalan Allah seperti halnya ibadah kurban.
Ketiga, Penyembelihan Ego: Pendidikan di pesantren adalah proses “penyembelihan” hawa nafsu dan ego diri agar bertransformasi menjadi insan yang muslim atau berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT.
Kiai Abdul Hamid juga menegaskan bahwa angka 132 bukanlah batas akhir penerimaan. Hadirnya santri seperti Sholehudin Al-Ayubi di urutan ke-132 bukanlah penanda ditutupnya pendaftaran, melainkan simpul doa bagi angkatan ini.
“Bukit Raja Wali tetap membuka pintu bagi calon santri baru yang menyusul, karena proses dakwah dan menuntut ilmu adalah perjalanan yang berkelanjutan,” tegas beliau. Melalui visi integratif “Mondok Sak Sekolahe, Sekolah Sak Mondoke, Ngaji Sak Kuliahe”, PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali terus menyiapkan generasi Qur’ani yang memadukan kedalaman spiritual dan kecerdasan intelektual sebagai penjaga wasiat tauhid.
(Kontributor: Achmad Husen)