
Merawat Istiqomah di Rumah Allah: Pengasuh PPTQ Al-Husna Hadiri Yasinan Putaran ke-8 di Masjid Al-Hidayah
PRINGSEWU — Suasana keakraban dan khidmat menyelimuti kegiatan rutin pembacaan surat Yasin yang diselenggarakan oleh warga jemaah setempat. Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I al-Hafizh, hadir mengikuti rangkaian kegiatan keagamaan ini setelah sebelumnya menikmati obrolan ringan dan penuh kehangatan di kediaman Bapak Hi. Agung.
Usai dari kediaman tersebut, beliau bersama Ketua Takmir dan para pengurus bergerak bersama menuju Masjid Al-Hidayah untuk mengikuti puncak acara pengajian.
Ketua Takmir Masjid Al-Hidayah, Ustadz Arpan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan rutin ini dapat terlaksana dengan baik berkat komitmen istiqomah para jemaah.
“Kegiatan ini terlaksana karena kita istiqomah melaksanakan yasinan setiap hari Jumat secara bergiliran di rumah-rumah jemaah. Dan ketika sampai pada giliran yang ke-8, maka tempat pelaksanaannya dipusatkan di masjid,” ujar Ustaz Arpan di hadapan para jemaah.
Dalam tausiyahnya, Kiai Abdul Hamid menyampaikan berbagai nilai filosofis dan keistimewaan yang berkaitan dengan angka delapan (8). Merujuk pada catatan dan telaah literatur klasik, secara khusus beliau mengutip langsung Kitab Mafatih Al-Ghaib (Tafsir al-Kabir) karya Imam Fakhruddin al-Razi mengenai keutamaan kalimat hamdalah serta pintu-pintu kebaikan:
الْحَمْدُ لِلَّهِ ثَمَانِيَةُ أَحْرُفٍ. وَأَبْوَابُ الْجَنَّةِ ثَمَانِيَةٌ. فَمَنْ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ تُفْتَحُ الْأَبْوَابُ الثَّمَانِيَةُ
“Kalimat ‘Alhamdulillah’ terdiri dari delapan huruf. Pintu-pintu surga pun berjumlah delapan. Barang siapa yang mengucapkan ‘Alhamdulillah’, maka dibukakanlah untuknya kedelapan pintu surga tersebut.”
Lebih lanjut, beliau menuturkan bahwa sebaik-baik doa adalah ucapan puji syukur ke hadirat Ilahi:
خَيْرُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ
“Sebaik-baik doa adalah ucapan ‘Alhamdulillah’.”
Mengaitkan hal tersebut dengan dinamika kehidupan manusia, apapun yang Allah berikan kepada kita—entah itu berupa kenikmatan, kebahagiaan, maupun kesedihan dan ujian—hendaklah kita senantiasa memalingkan pandangan pada karunia-Nya yang begitu luas, alih-alih terjebak dalam keluh kesah akibat ujian atau musibah tersebut. Al-Qur’an telah mengisyaratkan prinsip kesyukuran yang agung ini tatkala merekam jejak para nabi terdahulu dalam Surah Al-A’raf ayat 69:
وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً ۖ فَاذْكُرُوا آلَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan ingatlah oleh kamu sekalian ketika Allah menjadikan kamu pengganti-pengganti (penguasa) sesudah kaum Nuh, dan didakwakan kamu kelebihan pada tubuh dan postur (badan) yang tegap. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-A’raf: 69)
Menjabarkan hakikat syukur tersebut dalam realitas keseharian yang membumi, Kiai Hamid memberikan contoh kearifan lokal yang sangat dekat dengan masyarakat, khususnya tradisi orang Jawa. Ketika seseorang tertimpa musibah atau cobaan hidup, kata pertama yang secara refleks terucap dari lisan mereka bukanlah ratapan duka, keluh kesah, atau putus asa, melainkan kata “untung”. Ungkapan reflektif ini sejatinya merupakan bentuk kearifan mental tingkat tinggi—sebuah cara pandang spiritual yang secara spontan mengalihkan fokus dari beratnya musibah kepada besarnya karunia Allah yang masih diselamatkan. Sebagai ilustrasi dalam kehidupan sehari-hari, ketika seseorang mengalami musibah kecelakaan di jalan raya, kata pertama yang secara refleks meluncur dari lisan mereka bukanlah ratapan keputusasaan, melainkan ungkapan syukur seperti:
“Untung yang rusak hanya motor atau mobilnya saja, diri kita masih selamat,” atau “Untung jiwa raga masih dilindungi Allah.” Di sinilah letak esensi syukur yang diajarkan para masayikh; bahwa di balik setiap celah musibah, selalu ada rahmat dan pertolongan Allah yang layak untuk disyukuri.
Menyempurnakan kedalaman hikmah tersebut, Kiai Hamid menguraikan keajaiban hitungan waktu pelaksanaan kegiatan yang bertepatan pada tanggal 23 Juli. Angka 23 tersebut selaras dengan urutan Surah Al-Mu’minun sebagai surat ke-23 yang secara spesifik mengupas rahasia penciptaan manusia dari setetes mani (nuthfah) sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (nuthfah) dalam tempat yang kokoh (rahim).” (QS. Al-Mu’minun: 12–13)
Lebih takjub lagi, jika dicermati dari sisi bilangan biologis penciptaan, angka 23 berpasangan menjadi 23 pasang (23 + 23 = 46), yang merepresentasikan jumlah kromosom sel kelamin manusia. Angka 46 ini merujuk langsung dengan sangat indah pada Surah An-Najm ayat 46:
مِنْ نُطْفَةٍ إِذَا تَُمْنَىٰ
“Dari mani apabila disemprotkan.” (QS. An-Najm: 46)
Keterpaduan antara momentum waktu, renungan ayat-ayat kauniyah, dan zikir di majelis ini menegaskan betapa sempurnanya tatanan ciptaan serta kebesaran ilmu Allah SWT yang meliputi segala sesuatu.

Sebagai seorang kiai yang dikenal luas sangat ahli dalam meracik akronim hikmah, Kiai Hamid turut menjelaskan pesan mendalam yang terangkum dalam akronim JULI sebagai panduan pembinaan umat:
J – Jaga Istiqomah, Jaga Keluarga, dan Jaga Kebersamaan
Poin utama dalam pilar huruf J ini mencakup tiga hal esensial yang saling melengkapi:
- Jaga Istiqomah Majelis Yasin: Merawat rutinitas ibadah, zikir, dan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an secara istiqomah adalah wujud kecintaan kita kepada jalan kebaikan. Allah SWT berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqomah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu’.” (QS. Fussilat: 30)
- Jaga Keluarga: Memelihara akidah, akhlak, dan ibadah rumah tangga dari api neraka. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (QS. At-Tahrim: 6)
- Jaga Kebersamaan: Memupuk kerukunan, persaudaraan, dan semangat gotong royong dalam kebaikan, karena pertolongan dan keberkahan Allah senantiasa membersamai jemaah. Rasulullah SAW bersabda:
يَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ
“Tangan (pertolongan) Allah beserta golongan/jemaah.” (HR. Tirmidzi)
U – Usaha Bersama Menghidupkan Nilai Agama dan Kemakmuran Masjid
Segala bentuk kebaikan, kemajuan majelis yasinan, dan keharmonisan antarwarga tidak akan tercapai tanpa adanya ikhtiar dan kerja sama yang nyata. Rasulullah SAW bersabda tentang kekuatan kerja sama:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan suatu bangunan, sebagiannya menguatkan bagian yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)
L – Lakukan Kepedulian Sosial di Lingkungan Terdekat
Perkuat solidaritas antarjemaah dengan saling peduli, menjenguk yang sakit, membantu yang kesusahan, dan memuliakan tetangga. Semangat kepedulian ini juga mencakup kebersamaan dalam merawat fasilitas umum keagamaan; termasuk di dalamnya apabila masjid sedang melaksanakan renovasi, maka sudah sepatutnya para jemaah menunjukkan kepedulian yang tinggi, baik melalui uluran dana maupun dukungan tenaga secara gotong royong. Nabi SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
I – Ikhlas dalam Menjalankan Segala Amal Kebaikan
Seluruh rangkaian usaha bersama, kepedulian sosial, serta amal bakti dalam memakmurkan rumah Allah harus senantiasa dilandasi dengan semangat huruf I, yakni Ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah SWT. Ketulusan niat inilah yang menjadi kunci utama keberkahan dan kelanggengan ukhuwah. Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Kegiatan yasinan putaran ke-8 di Masjid Al-Hidayah ini ditutup dengan do’a bersama, memohon agar majelis taklim senantiasa membawa keberkahan, kelapangan rezeki yang halal, serta mempererat tali persaudaraan antarwarga di lingkungan setempat.
( Kontributor: Achmad Husen)
#PPTQAlHusna #BukitRajaWali #TahfizhQur’an #PondokTerbersihLampung
#PejuangAQuran
#AkronimJuli
#IsyarahLangit #PemgamalAlQuran #AhliTaarifAlQuran