Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Menjemput Isyarah di Bukit Raja Wali: Perjumpaan Dua Hati, Mengetuk Pintu Langit

Menjemput Isyarah di Bukit Raja Wali: Perjumpaan Dua Hati, Mengetuk Pintu Langit

Usai menunaikan amanah menguji para Kepala KUA di Kantor Kemenag Pringsewu, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I al-Hafizh kembali ke kediamannya di Bukit Raja Wali dengan membawa gema doa-doa dari koleganya. Namun, pintu rumah sang Kiai tak membiarkan jiwanya terlelap dalam sunyi. Sesampainya di sana, kejutan manis telah menanti. Di balik keteduhan Bukit Raja Wali, sosok kawan lama telah bersimpuh menunggu—Kiai Dimyati dari Bantul, Yogyakarta.

Perjumpaan itu menyeruak keharuan yang dalam. Sang Kiai merasa Bukit Raja Wali seakan menjadi titik temu semesta. Belum kering kenangan dari kunjungan jamaah umrah yang singgah semalam, kini hadir sahabat dari tanah Jawa yang menempuh perjalanan jauh. Bagi Kiai Hamid, yang terbiasa membaca isyarah di balik peristiwa, perjumpaan ini bukanlah kebetulan belaka.

Ada getar spiritual saat Kiai Hamid meresapi nama sang tamu. Nama Dimyati mengingatkannya pada sosok ulama agung, Syekh Dimyati. Begitu pula dengan asal sang tamu, Bantul. Dengan mata batinnya, Kiai Hamid merangkai makna filosofis tentang hakikat perjalanan manusia.

Baginya, hidup ini layaknya sebuah roda BAN—bulat, terus berputar, tak pernah henti dalam satu titik, melainkan terus bergulir mengikuti skenario takdir. Beliau tertegun merenungi pergantian masa yang silih berganti dalam petikan ayat suci:

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia…”

Bagi sang Kiai, nama BANTUL menyimpan rahasia “MANTUL” atau memantul. Sebagaimana roda yang berputar, jika ia dilemparkan ke tanah dengan penuh harap, ia akan memantul kembali ke atas. Maka, beliau memaknai kedatangan Kiai Dimyati sebagai simbol doa-doa yang sedang dipantulkan.

Beliau berharap, doa-doa yang dipanjatkan dari Bukit Raja Wali hari itu akan memantul menembus pintu langit yang terbuka, disambut ijabah oleh Allah SWT.

Dalam suasana yang penuh kehangatan persaudaraan, Kiai Hamid akhirnya memohon kesediaan Kiai Dimyati untuk menjadi khatib di Masjid Bukit Raja Wali. Kesediaan sang sahabat menyempurnakan rasa syukur Kiai Hamid.

Usai menunaikan kewajiban ibadah, Kiai Hamid mengajak sang tamu berkeliling meninjau proses pembangunan asrama putri. Di tengah deru suara tukang dan tumpukan material yang perlahan membentuk bangunan, Ust. Syaiful Anwar pun hadir bergabung, melengkapi hangatnya perjumpaan di kediaman sang Kiai. Perjumpaan para kiai dan sahabat itu menjadi saksi bisu bagaimana silaturahmi mampu membangunkan semangat, tak hanya di hati manusia, tetapi juga pada dinding-dinding fisik yang sedang dikerjakan. Di Bukit Raja Wali, hari itu, sejarah ditulis bukan dengan tinta, melainkan dengan ketulusan hati yang memantul menuju keagungan Ilahi.

(Kontributor: Achamd Husen)

#KiaiDimyati

#PengsuhAlhusna

#BukitRajaWali

#BaitulQur’an

#SantriNusantara

#PonPesTerbersihSeLampung

#PomPesTahfizhUnik

#ProgesBangunanAsramaPutri