
Menyingkap Cahaya Makrifat di Bumi Mesir Perjalanan Buku Rekam Jejak Setangkai Pena dan Percik Firdaus di Taman Seribu Bambu
KAIRO Perjalanan sebuah karya tulis bukan sekadar merangkai huruf menjadi kalimat, melainkan ikhtiar menyalakan obor keteladanan yang menembus batas ruang dan waktu. Buku biografi berjudul Rekam Jejak Setangkai Pena dan Percik Firdaus di Taman Seribu Bambu yang mengisahkan rihlah hidup dan perjuangan pengasuh Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali, Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., Al-Hafizh, kini telah membentang hingga ke bumi para anbiya, Kairo, Mesir.

Di sela-sela langkah takzim menziarahi pusara para kekasih Allah dan bersimpuh di pelataran megah Masjid Al-Azhar al-Syarif serta pusara agung Imam al-Busiri di Alexandria, sang kiai membawa serta karya literasi tersebut.
Kehadiran buku ini di tanah rantau para pencari ilmu seakan merefleksikan pesan agung para ulama salaf tentang pentingnya mencatat ilmu dan menyebarkan hikmah.

Imam Al-Ghazali rahimahullah dalam risalahnya sering kali mengingatkan betapa mulianya aktivitas menulis dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat sebagai amal jariyah yang tak pernah putus, sebagaimana termaktub dalam pandangan para ulama bahwa aktivitas qalam pena adalah penjaga keabadian peradaban:
أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ
Artinya: Atau ilmu yang bermanfaat. (HR. Muslim).
Petuah luhur ini juga diperkuat dengan mutiara hikmah para pujangga dan sejarawan yang menegaskan pentingnya menulis:
لَوْ لَمْ تَكُنْ مِنْ أَبْنَاءِ الْمُلُوكِ فَأَلِّفْ
Artinya: Jika engkau bukan anak seorang raja, maka menulislah.
Serta penegasan para ulama terdahulu:
لَوْلَا الْعِلْمُ وَالْكِتَابَةُ لَانْدَثَرَتْ آثَارُ الْعُلَمَاءِ
Artinya: Kalaulah bukan karena ilmu dan tulis-menulis, niscaya jejak-jejak para ulama akan musnah.

Hal ini mengisyaratkan bahwa jika seseorang bukan terlahir dari darah biru yang istana dan kekuasaannya dicatat sejarah dunia, atau jika ia bukan penguasa besar yang monumennya dipahat di atas batu, maka menulislah. Melalui goresan pena, orang biasa dari pelosok desa atau pesantren dapat mengabadi melampaui usianya, memastikan mata rantai keteladanan tidak terputus dari generasi ke generasi.
Perjalanan buku ini kemudian berlanjut menuju deburan ombak Laut Mediterania yang membentang luas. Di tepi samudera yang bersejarah tersebut, buku ini dibuka dengan mengusung bab mendalam tentang hijrah bertajuk Busur Takdir dan Melesatnya Menuju Cahaya. Laksana busur panah yang ditarik ke belakang sebelum anak panahnya melesat jauh, hijrah adalah proses penempaan jiwa yang membutuhkan kesabaran dan keimanan kokoh untuk menggapai cahaya Ilahi, bagaikan ombak yang tak pernah lelah menghantam karang demi mencapai pesisir.

Tidak hanya itu, lembaran buku ini juga dibuka pada bagian pernikahan bertajuk Di Atas Tangisan Embun, Cinta Mengukir Takdir. Menghadap langsung ke arah laut lepas, bab ini merefleksikan bahwa mahligai rumah tangga adalah sebuah bahtera yang menuntut kesabaran, ketulusan, serta doa-doa yang diukir melalui air mata perjuangan demi mengarungi samudera kehidupan menuju ridha Allah SWT.
Lebih dari sekadar catatan perjalanan, buku ini sarat dengan muatan spiritual dan nilai Kurikulum Langit yang menuntut keikhlasan mutlak dalam berkhidmat.
Dalam momen penuh kehangatan di Kairo, buku Rekam Jejak ini turut diserahkan secara langsung kepada para mahasiswa asal Indonesia yang tengah menimba ilmu di Universitas Al-Azhar, di antaranya adalah Ust. Amrullah dan Ust. Dzul Fikri serta Ust. Adrian.
Penyerahan ini menjadi simpul ukhuwah sekaligus penyemangat agar para generasi muda penuntut ilmu senantiasa merawat keteguhan niat, sebagaimana nasihat Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengenai keutamaan niat dalam menuntut ilmu:
طَلَبْنَا الْعِلْمَ لِغَيْرِ اللَّهِ فَأَبَى أَنْ يَكُونَ إِلَّا لِلَّهِ
Artinya: Kami menuntut ilmu bukan karena Allah pada awal mulanya, namun ilmu itu enggan kecuali hanya untuk Allah pada akhirnya.

Semoga kehadiran buku ini, yang kini merambah lintas wilayah hingga ke bumi Mesir, Masjid Imam al-Busiri, dan pesisir Mediterania, mampu menginspirasi para santri dan pembaca untuk terus merajut mimpi dan menuliskan sejarah kebaikan di atas landasan iman, ilmu, dan amal saleh.

Kontributor: Achamd Husen
#Buku Inspiratif
#KHAbdulHamid #RekamJejak
#NULiterasi
#KhidmahSantri #Kurikulum Langit #PPTQAlHusnaBukitRajaWali #MesirAlAzharKairo #MasjidImamBushry #LautMediterania