Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Memeluk Keluarga di Malam Asyura: Menjemput Luasnya Rahmat Ilahi

Memeluk Keluarga di Malam Asyura: Menjemput Luasnya Rahmat Ilahi

Pringsewu-Bukit Raja Wali, Kamis malam Jumat, 25 Juni 2026, suasana di Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali tampak berbeda. Hening malam seolah menyambut datangnya 10 Muharram. Di teras kediaman pengasuh, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I, al-Hafizh, tampak duduk bersimpuh bersama para asatidz dan beberapa santri senior.

Suara jangkrik bersahutan dengan angin malam yang sejuk, namun suasana menjadi syahdu ketika Kiai Hamid mulai membuka obrolan tentang keutamaan Asyura yang akan menyapa esok hari.

“Malam ini kita berada di ambang pintu Asyura,” ujar Kiai Hamid memulai wejangannya. “Malam di mana langit seakan lebih dekat, dan doa-doa kita seperti butiran embun yang siap diserap oleh rida-Nya. Ingatlah, Muharram bukan sekadar penanggalan, ia adalah akronim perjalanan jiwa kita:”

  • Memikul amanah, menunduk dalam Muhasabah diri.
  • Untaian kasih dalam Ukhuwah yang tulus sejati.
  • Hidupkan Harapan meski badai dunia datang menghampiri.
  • Ayunkan langkah dalam Amal yang tak henti menanti.
  • Raih Ridha-Nya, melepas lelah pada Ilahi Rabbi.
  • Rengkuh Rahmah keluarga, karena merekalah surga kecil di bumi ini.
  • Awasi Amanah usia, agar tak sia-sia diri ini mencari arti.
  • Menuju Ma’rifat, puncak cinta pada Sang Kekasih Abadi.

Kiai Hamid kemudian mengambil secangkir kopi, lalu menatap para santri dengan pandangan yang teduh. “Dalam napas MUHARRAM itu, ada pesan yang sangat spesifik untuk kita pegang malam ini.

Sebuah janji langit yang disampaikan oleh Baginda Nabi melalui lisan para perawi:”

مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي سَنَتِهِ كُلِّهَا

Barangsiapa yang melapangkan nafkah kepada keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun itu.

“Anak-anakku,” lanjut beliau dengan nada yang lebih akrab, “Asyura esok hari adalah momentum untuk ‘melapangkan’. Lapangkanlah nafkah untuk orang rumah, bagi yang sudah berkeluarga, berikanlah yang terbaik untuk istri dan anak-anak. Jangan dihitung dengan kalkulator duniawi, karena hitungan Allah tidak pernah mengenal angka yang terbatas.”

“Melapangkan nafkah tidak selalu soal nominal besar,” Kiai Hamid menjelaskan sambil tersenyum ke arah salah satu asatidz. “Kadang, itu adalah tentang memberi perhatian lebih, menyajikan hidangan yang lebih istimewa dari biasanya, atau sekadar membelai kepala anak-anak dengan kasih sayang yang tulus.

Saat kita membahagiakan mereka di hari Asyura, kita sedang mengikat janji dengan Allah agar setahun ke depan, hidup kita pun ikut dilapangkan oleh-Nya.”

Di sela obrolan, seorang santri bertanya dengan malu-malu, “Kiai, bagaimana jika keadaan sedang pas-pasan?”

Kiai Hamid menjawab dengan lembut, “Justru saat itulah Asyura menjadi ujian iman.

Bukankah Allah itu Maha Luas? Jika kamu memberikan ‘kelapangan’ bagi keluargamu dengan hati yang ikhlas di hari yang mulia ini, maka Allah akan membalasnya dengan kelapangan yang datang dari arah yang tak terduga.

Jangan takut miskin karena memberi, takutlah jika hidup kita setahun ke depan tidak diberkahi.”

Obrolan malam itu pun ditutup dengan lantunan doa yang dipimpin langsung oleh Kiai Hamid, memohon agar 10 Muharram 1448 H ini menjadi awal yang penuh keberkahan bagi keluarga besar PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali dan PPM Baitul Qur’an serta seluruh umat Islam.

( Kontributor: Achamd Husen)