
Kala Kitab Kuning Mempertemukan Jiwa: Catatan Sunyi dari Bilik Kemenag Pringsewu
Jumat Sunyi yang Bersemi di Pringsewu.Pagi tadi, Jumat, 17 Juli 2026, udara di Kabupaten Pringsewu berembus tenang membawa aroma takzim di Aula Kantor Kementerian Agama.
Di sudut ruang yang biasa riuh oleh urusan administratif, bersimpuh keheningan yang berbeda. Hari itu bukan sekadar hari kerja biasa, melainkan sebuah ruang perjumpaan spiritual dan intelektual yang menggetarkan sanubari. Niat Silaturahmi dan Sabda Baginda Bagi seorang pendidik jiwa, pengasuh PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali dan PPM Baitul Qur’an, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I al-Hafizh, panggung-panggung birokrasi bukanlah tempat yang beliau cari.
Namun, ketika undangan dari Kasi Bimas Islam layaknya ketukan pintu takdir, hati sang kiai luluh. Beliau diundang sebagai penguji dalam kegiatan tersebut. Di balik itu semua, tersembunyi niat yang agung di relung hatinya—sebuah kerinduan untuk membangun kembali “rumah” yang telah lama tak disinggahi: jembatan silaturahmi yang terbentang jarak dan waktu. Beliau mengamalkan pesan luhur dalam sabda Baginda Nabi Muhammad SAW:
زُرْ غِبًّا تَزْدَدْ حُبًّا
“Ziarahilah (kunjungilah) sesekali, niscaya akan bertambah rasa cinta.” (HR. Thabrani)

Saat tiba di lokasi, Kiai Hamid merasa begitu rikuh dan malu. Dalam bayangan awalnya, ujian kualifikasi keagamaan ini diadakan untuk para pemula yang ingin mendaftar menjadi Kepala KUA. Namun ternyata, di hadapan beliau kini duduk berjejer para Kepala KUA definitif se-Kabupaten Pringsewu (mulai dari KUA Pringsewu, Pagelaran, Pardasuka, Gadingrejo, Sukoharjo, Adiluwih, Banyumas, Ambarawa, hingga Pagelaran Utara).
Dari Harapan, Doa, hingga Ujian
Acara pun dimulai dengan sebuah ketulusan yang terjalin rapi. Kasi Bimas Islam, H. M. Rizza Apriano, S.Sos., M.M., mengawali sambutan nya dengan tutur kata yang santun, memaparkan realita krusial bahwa di balik setiap sudut negeri, terdapat 5.917 kekosongan posisi Kepala KUA—sebuah tanggung jawab besar yang memerlukan pengabdian tulus.
Suasana semakin khidmat saat Kepala Kantor Kemenag Pringsewu, Hi. Khuzil Afwa Kahuripan, S.H., M.H.I., menyampaikan sambutannya. Pada Jumat, 17 Juli 2026 yang penuh berkah itu, sela-sela sambutan nya beliau melangitkan doa agar Kiai Hamid segera diangkat derajat akademisnya menjadi seorang Profesor (Guru Besar) seutuhnya.
Sebuah isyarah langit yang diaminkan dengan penuh haru oleh sang kiai, dan juga seluruh hadirin, termasuk Kasubbag Tata Usaha, Ubaidullah, S.Pd.I., serta Kasi Bimas Islam sendiri.
Puncak keheningan tiba ketika sang Kiai, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I al-Hafizh, diminta memimpin doa. Dengan suara yang lirih namun bertenaga, beliau memanjatkan permohonan agar ilmu yang diuji hari itu menjadi keberkahan bagi pelayanan umat di Pringsewu. Setelah doa ditutup dengan penuh khusyuk, suasana hening menyelimuti ruangan.

Pada kegiatan tersebut, materi ujian kualifikasi dibagi menjadi dua bagian utama yang diampu oleh dua penguji berbeda:
Penguji 1: Bertanggung jawab atas kompetensi Al-Qur’an, yang mencakup hafalan Surat Al-Fatihah, membaca ayat acak dengan mushaf, membaca naskah sholawat Nabi, serta menulis Surat Al-Fatihah dan ayat terkait tugas KUA.
Penguji 2 (Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I al-Hafizh): Bertanggung jawab atas kompetensi kitab dan penulisan maqolah ulama, yang meliputi pembacaan kitab Fathul Qorib Al-Mujib dan Kifayatul Akhyar, serta menulis maqolah ulama dalam huruf Arab mengenai kaidah Ushul Fiqh dan nasihat ulama tentang akhlak.
Nama khuzil Afwa
Di tengah keheningan pasca-do’a itulah, Kiai Hamid menegaskan sebuah isyarah langit yang tak disangka-sangka.
Beliau merenungkan nama Kepala Kantor kementerian agama kabupaten Pringsewu “Khuzil Afwa”—yang memiliki arti “Ambillah Pemaafan”—ternyata merupakan cerminan ilahiah yang selaras sempurna dengan Surah Al-A’raf ayat 199.
Beliau memaparkan bahwa nama pemimpin di Kemenag ini seolah menjadi nasehat penuntun bagi setiap abdi negara:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”
Kiai Hamid merinci tiga pelajaran kunci dari ayat ini sebagai bekal bagi para Kepala KUA dan siapapun yang hadir termasuk para pembaca, yang ia kaitkan dengan filosofi nama Khuzil Afwa:
- “Khudzil ‘Afwa” (Jadilah Pemaaf): Sebagaimana nama beliau, seorang pemimpin harus menjadi teladan dalam memaafkan, berhati lapang dalam melayani masyarakat yang beragam.
- “Wa’mur bil ‘Urfi” (Perintahkanlah yang Makruf): Jadilah mercusuar kebaikan dengan cara yang elegan, santun, dan menyejukkan.
- “Wa A’ridh ‘anil Jahilin” (Berpalinglah dari Orang yang Bodoh): Jangan habiskan energi untuk provokasi atau caci maki; fokuslah pada integritas dan pelayanan nyata.
Setelah penyampaian isyarah yang mendalam tersebut, gerbang ujian pun terbuka—dan ujian baca kitab kuning dimulai dengan suasana yang penuh takzim. Melalui bimbingan dan keikhlasan Kiai Hamid hari itu, jalinan silaturahmi yang kokoh telah kembali didirikan. Sebuah hari di mana kekuasaan tunduk dengan takzim di hadapan keagungan ilmu dan akhlak

(Kontributor: Achamd Husen)
#KemenagPringsewu
#UjianKitabKUA
#PengsuhAlhusna
#BukitRajaWali
#BaitulQur’an
#SantriNusantara
#PonPesTerbersihSeLampung
#PomPesTahfizhUnik