
Hikmah di Bukit Raja Wali: Silaturahmi KH. Abdun Nasir Kediri, Peneguhan Sanad dan Estafet Perjuangan
Pringsewu- Bukit Raja Wali– Sabtu (20/06/2026), suasana Pondok Pesantren Tahfihzul Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali dilingkupi keberkahan yang tak terduga. Kediaman Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I, al-Hafizh, kedatangan tamu agung: KH. Abdun Nasir, pengasuh PPTQ Al-Hikmah Purwoasri, Kediri.
Kehadiran putra dari ulama kharismatik Kediri, KH. Badrus Sholeh Arif (Alm.), ini membawa gelombang kesejukan spiritual. Dalam kunjungan ini, Kiai Abdun Nasir didampingi oleh Ust. Rosyid. Semoga kehadiran beliau berdua membawa Rasyid (petunjuk) yang terang bagi kemajuan dan kemaslahatan pesantren ke depan.
Perjalanan beliau ke Bukit Raja Wali terlaksana berkat wasilah penjemputan oleh Ust. Zainal Arifin. Nama “Zainal Arifin” sendiri bermakna “perhiasan orang-orang yang ma’rifat”, sebuah simbol indah bahwa pertemuan ini adalah rangkaian jemputan ilahiyah yang mempertemukan para pencari ilmu dengan para pewaris risalah Nabi.
Dalam obrolan hangat, terungkap bahwa rencana kedatangan Kiai Abdun Nasir sejatinya sudah diundang oleh KH. Muballighin Adnan sejak tiga tahun silam. Kiai Hamid, yang dikenal memiliki ketajaman batin dalam membaca isyarah, menanggapi hal tersebut dengan senyum penuh makna. Beliau mengungkapkan bahwa setiap nama dan peristiwa selalu menyimpan hikmah yang mendalam.

“Mbah Yai datang dari PP Al-Hikmah, tentu ada hikmah yang mengiringi. Hikmah itu bahkan sudah terpaut sejak putra kami, Gus Fatih, menimba ilmu di sana dua tahun lalu. Kini, hikmah itu hadir secara nyata di Bukit Raja Wali,” tutur Kiai Hamid dengan nada jenaka namun sarat makna. Beliau pun mengaitkan nama ‘Nashir’ (Penolong) dengan harapan agar kehadiran Kiai Abdun Nasir benar-benar menjadi wasilah bagi kokohnya pembangunan dakwah di Bukit Raja Wali.
Ketajaman isyarah Kiai Hamid kembali terbukti tatkala beliau menautkan kehadiran tamu agungnya dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 269:
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
(Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat).
Di sela obrolan, Kiai Abdun Nasir menanyakan satu hal yang mengguncang batin: “كَيْفَ مَنْ بَعْدَكُمْ؟” (Kaifa man ba’dakum? – Bagaimana nasib orang-orang setelah kalian nanti?). Sebuah pesan pengingat agar Kiai Hamid senantiasa memikirkan kaderisasi dan kelangsungan estafet perjuangan di Bukit Raja Wali.
Mutiara “Man Ana” dan Falsafah Kerendahan Diri
Usai salat Maghrib berjamaah, Kiai Abdun Nasir memberikan tausiyah berharga mengenai hakikat Man Ana (مَنْ أَنَا؟ – Siapa saya?).
Beliau merumuskan empat dimensi jati diri santri:
Siapa saya? Aku adalah santri yang dikirim orang tua untuk mencari ilmu.
Siapa saya? Aku adalah santri yang nanti pulang membawa ilmu, bukan membawa masalah dan bukan membuat masalah.
Siapa saya? Aku adalah santri penerus guruku.
Siapa saya? Aku adalah orang yang bertanggung jawab atas generasi setelahku.
Puncak nasehat beliau adalah falsafah kemuliaan penuntut ilmu: “ذَلَلْتُ طَالِبًا فَعَزَزْتُ مَطْلُوبًا” (Dzalaltu thaaliban fa ‘azaztu mathluuban), artinya: “Aku (pernah) merasa hina saat menjadi pencari ilmu, maka aku menjadi mulia saat dicari (karena ilmu tersebut).”
Momen Takzim: Surban dan Ketulusan Hati
Puncak kehangatan terjadi ketika momen foto bersama santri diabadikan.

Dalam sebuah gestur yang penuh takzim, KH. Abdun Nasir secara spontan melepaskan surban dari pundaknya dan melingkarkannya ke pundak Kiai Hamid.
Tindakan simbolis ini membuat Kiai Hamid tertegun. Di balik senyum yang merekah, Kiai Hamid merasakan getaran rasa yang sulit dilukiskan. Baginya, surban itu bukan sekadar kain, melainkan simbol estafet doa dan kepercayaan ulama yang melintasi jarak antara Kediri dan Bukit Raja Wali. “Tindakan beliau meruntuhkan segala sekat; ada tanggung jawab besar yang dititipkan melalui selembar surban ini,” ungkap Kiai Hamid dengan mata berkaca-kaca penuh haru.
Malam itu ditutup dengan doa khusyuk yang dipimpin oleh Kiai Nasir, memohon agar perjuangan di Bukit Raja Wali senantiasa dalam naungan keberkahan dan bimbingan Allah SWT.

(Kontributor: Achmad Husen)