
Di Bawah Langit Najmun Nasri: Menanam Doa, Menjemput Cahaya
Pringsewu, Bukit Raja Wali – Di bawah kubah Masjid Najmun Nasri yang sakral, angin seakan berhenti berdesir. Ratusan santri putri duduk bersimpuh dalam barisan rapi, menundukkan kepala, menyerap setiap untaian kalimat yang meluncur dari lisan sang mursyid, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., al-Hafizh, didampingi Ibu Nyai Husnul Fadhilah, M.Pd., al-Hafizhah.
Masjid ini bukan sekadar bangunan bata dan semen; ia adalah saksi bisu detak jantung para penghafal Kalam Ilahi.Namun, seiring bertambahnya tunas-tunas baru penuntut ilmu, Masjid Najmun Nasri kini tak lagi cukup menampung rindu santri putra dan putri dalam satu ruang. Sebuah keputusan pun diambil: santri putra kini mengalunkan takbir di Aula Hud Hud, sementara santri putri melangitkan doa di Masjid Najmun Nasri.
Kiai Hamid, dengan mata yang memancarkan keteduhan samudra, menatap santri-santrinya.Bagi beliau, keterbatasan ruang bukanlah alasan untuk merasa asing. Beliau merajut makna di balik sekat-sekat itu. “Anak-anakku, perpisahan ruang ibadah ini bukanlah sebuah jarak yang memisahkan hati.
Jadikan ia isyarah langit; sebuah penanda bahwa kelak, dari ketulusan sujud kalian di sini, Allah akan menghadirkan musholla yang megah di komplek putri, hingga Masjid Najmun Nasri ini kembali menjadi rumah ibadah yang syahdu bagi putra,” tutur Kiai Hamid dengan nada yang menghangatkan kalbu.
Di sela-sela nasehatnya, beliau menyapa jiwa-jiwa muda itu, “Apakah kalian sehat dan bahagia? Bagaimana rasa syukur kalian saat melihat wajah-wajah saudara baru yang datang menghiasi hari-hari kalian tahun ini?”
Pertanyaan yang sederhana, namun mampu meruntuhkan dinding ego, menguatkan ikatan ukhuwah sebagaimana janji Allah dalam Al-Qur’an:إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
(Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara) – (QS. Al-Hujurat: 10).
Saling mencintai karena Allah adalah ruh kehidupan pesantren. Sebagaimana sabda Baginda Nabi Muhammad SAW:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَهَادِّهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى بَعْضُهُ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُهُ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
(Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut terjaga dan merasa demam) – (HR. Muslim).Menjelang akhir pertemuan, suasana menjadi hening. Kiai Hamid berdiri, diikuti seluruh santri yang beranjak bangkit. Dengan suara yang menggetarkan sukma, beliau membacakan ikrar santri. Kalimat demi kalimat diucapkan dengan khusyuk, menjadi janji yang tidak hanya tertulis di atas kertas, tapi terukir abadi di atas lembaran hati.
Kini, meski terpisah oleh dinding Aula dan Masjid, mereka tetap satu dalam irama tarbiyah. Menunggu janji Allah yang pasti, sembari terus memahat ayat-ayat suci di dalam dada.( Kontributor: Achamd Husen)
#PPTQAlHusna #BukitRajaWali #SantriMenulis #KiaiHamid #PesantrenModern #GenerasiAlQuran #SantriPutri #UkhuwahIslamiyah #IkrarSantri #KisahPesantren #MenanamHarapan