
Goresan Perjalanan dari Negeri Para Anbiya: Cahaya Nusantara di Bumi Kenanah dan Tasawuf Karakter Manusia
KAIRO — Udara pagi di Bandara Internasional Kairo, Jumat, 18 September 2026, tepat pukul 07.15 waktu setempat, menyambut kedatangan seorang musafir agung. Beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Tahfizhul Quran (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali sekaligus PPM Baitul Qur’an, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., al-Hafizh.
Kedatangan sang kiai di bumi para anbiya ini bukan sekadar sebuah perjalanan fisik melintasi benua, melainkan sebuah rihlah ruhaniah yang menghujam, menyingkap lapis demi lapis hikmah Ilahi yang terhampar di tanah Kairo.
Setibanya di area imigrasi bandara, sebuah pemandangan batin yang menakjubkan langsung menyapa pandangan. Subhanallah, hampir 90 persen isi ruangan imigrasi dipadati oleh wajah-wajah ramah anak bangsa—orang Indonesia yang menuntut ilmu dan mencari berkah di negeri piramida ini. Nusantara seolah hadir merajut ufuk timur dan barat.
Lebih mengharukan lagi, ketika sang kiai menyerahkan paspornya kepada petugas, pandangan beliau tertuju pada sebuah tulisan indah yang terukir di meja sang petugas imigrasi:
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات
لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين
Sebuah doa ampunan universal dan zikir pengakuan hamba yang langsung mengetuk pintu hati, seakan menegaskan bahwa setiap langkah musafir senantiasa berada dalam naungan zikir dan istighfar kepada Sang Khaliq.
Langkah kaki sang kiai berlanjut keluar bandara. Di sana, seorang pemuda bernama Ibrahim telah menanti dengan senyuman hangat penyambutan. Spontan, imajinasi sang kiai melayang jauh menembus lorong waktu, mengingatkan pada keteladanan Nabi Ibrahim AS, sang bapak para nabi yang penuh kepasrahan dan keimanan.
Kejutan kecil kembali terjadi saat beliau tiba di Hotel Pyramids Front di kawasan Giza. Takdir menakdirkan kamar beliau berada di lantai 1, kamar nomor 17—angka yang begitu selaras dengan tanggal keberangkatan beliau, yakni 17 September. Sebuah kebetulan yang sarat makna, mengingatkan bahwa tiada sehelai daun pun yang gugur tanpa izin-Nya.
Perjalanan seorang musafir di muka bumi ini senantiasa membawa dua sisi mata uang takdir. Sebagaimana ungkapan penuh hikmah: “Kalau tidak Musa ya Fir’aun.”
Bagi seorang musafir, perjalanan hidup adalah cermin. Bagi mereka yang senantiasa menjaga sujud dan tali shalatnya, ia akan memancarkan cahaya ketulusan dan keberanian moral Nabi Musa AS. Namun sebaliknya, bagi mereka yang lalai dan enggan bersujud, perangai kesombongan Fir’aun lah yang akan merajai jiwa.
Terlebih lagi, status mulia sebagai seorang musafir membawa keistimewaan agung di sisi Allah SWT.
Baginda Nabi Muhammad SAW pernah bersabda mengingatkan kita dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Abu Daud, dan Ibnu Majah:
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ
“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi tentang kemustajabannya: doa orang yang dizalimi, doa seorang musafir, dan doa orang tua kepada anaknya.”
Di atas tanah Kairo inilah, setiap derap langkah sang kiai sebagai musafir menyimpan isyarat ijabah yang membentang luas.

Membicarakan tabiat manusia adalah membicarakan kebesaran ayat-ayat Allah SWT. Al-Qur’an telah mengabarkan dengan sejelas-jelasnya bahwa umat manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, tiada lain agar kita saling mengenal (li ta’arafu).
Perbedaan karakter bangsa—mulai dari masyarakat Pringsewu, Lampung hingga ramahnya warga Mesir—adalah rahmat yang memperkaya batin.
Mengutip pandangan agung sejarawan muslim Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah, kondisi iklim dan geografis memegang peranan besar dalam membentuk tabiat manusia:
➢Masyarakat yang hidup di daerah beriklim panas cenderung lebih mudah bergembira, bersemangat, spontan, namun terkadang tergesa-gesa akibat pengaruh uap panas yang membakar temperamen jiwa.
➢Sebaliknya, masyarakat di daerah berhawa dingin digambarkan lebih tenang, berhati-hati, dan penuh perhitungan.
Ibnu Khaldun menjelaskan secara filosofis bagaimana panas udara mencairkan dan menyebarkan uap ruhani (ar-ruuh al-hayawaniy), memicu gejolak kegembiraan yang meluap-luap.
Di antara seluruh bangsa Arab, Mesir memancarkan kehangatan yang berbeda. Meski terkadang perangai mereka membuat dada mendidih karena keunikannya, di saat yang sama pula rasa kagum membuncah.
Sebagaimana pesan seorang sahabat bijak di tanah Kairo: di bumi Mesir ini terhimpun seluruh spektrum sifat manusia—dari yang setinggi mulianya akhlak Nabi Musa AS hingga yang serendah hinanya watak Fir’aun.
Perjalanan ini mengajarkan kita satu hal: bahwa perbedaan bukanlah dinding pemisah, melainkan jembatan emas bagi kita untuk saling belajar, saling asah, saling asih, dan saling menyayangi sebagai hamba-hamba Allah yang beradab di atas bumi Nusantara hingga tanah Kairo.
Kontributor: Achamd Husen
#KiaiKampungMenembusBatas #RihlahIlmiah #KairoMesir #PPTQAlHusna
#Bukitrajawali #BaitulQuran #IbnuKhaldun #TasawufNusantara #MusafirMustajab
#Pejuangalquran #PringsewuLampung