
Menemukan Sir di Balik Putihnya Dinding Rumah dan Relief Semar Tidur: Catatan Silaturahmi serta Hikmah Al-Qur’an di Gunung Kancil Pringsewu
PRINGSEWU —Tepat pada hari Kamis malam Jumat, 23 Juli 2026, Langkah kaki seorang ulama penjelajah hikmah, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I al-Hafizh, pengasuh Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Al-Husna Bukit Raja Wali, senantiasa menyimpan cerita tentang pertemuan batin yang mendalam. Sebelum menunaikan mandat dakwah di Masjid Al-Hidayah, Gunung Kancil, Kabupaten Pringsewu, kiai yang dikenal luas dengan ketajaman ilmu agama dan keahlian membaca isyarat langit ini terlebih dahulu menyempatkan diri bersilaturahmi ke kediaman seorang tokoh masyarakat sekaligus pengusaha dermawan, Hi. Agung Utomo.
Ada yang unik dan memantik perenungan batin manakala pertama kali menjejakkan kaki di halaman kediaman tersebut. Tepat pada daun pintu gerbang rumah, terdapat sebuah ornamen ukiran relief berbentuk Semar tidur (miring) di dalam bingkai oval yang artistik—sebuah simbol pewayangan yang sarat dengan kearifan lokal, perlambang kontemplasi batin yang mendalam, ketulusan pengabdian, serta cerminan kebijaksanaan seorang pamomong sejati.
Menatap pahatan relief yang sarat makna itu berpadu dengan kemegahan arsitektur rumah yang begitu besar berselimut warna putih bersih, di dalam relung hati sang kiai yang juga digelari sebagai ahli ta’wil oleh Prof. Dr. KH. Said Agil Husen Al Munawar ini langsung terbesit sebuah getaran batin: “Pasti beliau ini punya sir atau rahasia hidup yang luar biasa.”
Intuisi seorang ulama besar jarang sekali keliru. Benar adanya, selepas berbincang hangat bersama Hi. Agung Utomo serta jajaran pengurus Masjid Al-Hidayah—di antaranya Ust. Kabul Muliarto, Ust. Arpan, Ust. Sariadi, dan Ust. Fauzi—terkuaklah rahasia di balik kesuksesan dan ketenangan sang tuan rumah.
Di tengah kesibukannya sebagai seorang pengusaha, Hi. Agung ternyata mendedikasikan hidupnya untuk mempraktikkan secara nyata setiap kandungan isi Al-Qur’an. Segala perintah-Nya dijalankan dengan ketulusan mutlak tanpa tawar-menawar. Beliau juga dikenal sangat gemar mengurusi dan memuliakan para penghafal Al-Qur’an.Dalam untaian kisahnya, Hi. Agung membagikan prinsip hidup yang bersumber langsung dari kalam ilahi. Terkait urusan timbangan dagang, beliau senantiasa melebihkannya untuk para pelanggan sebagai wujud kehati-hatian dalam mencari kehalalan. Urusan hak karyawan, ketika standar umumnya sekian, beliau selalu memilih untuk memberikan lebih. Begitu pula dalam urusan muamalah utang-piutang, beliau memilih untuk tidak pernah menagihnya kepada mereka yang kesulitan.
Bahkan, jejak keikhlasan beliau teruji tatkala badai kehidupan menerpa, beliau sempat mengalami masa-masa kebangkrutan hingga harta yang tersisa kala itu hanyalah sebidang tanah di Bengkulu. Tanpa ragu, tanah terakhir tersebut beliau wakafkan semuanya untuk kepentingan majelis taklim. Dari ketulusan mutlak berwakaf di jalan Allah itulah, barokah datang melimpah dan perlahan ekonomi beliau kembali dipulihkan serta dibukakan pintu kelapangan rezeki oleh-Nya. Dalam setiap detik perjalanan hidupnya—terutama tatkala diterpa musibah atau ujian apa pun—beliau selalu menjadikan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai penawar dan penasihat jiwa.

Prinsip ketundukan mutlak pada Al-Qur’an ini berpijak pada pengamalannya terhadap firman Allah SWT dalam Surah An-Nur ayat 35:
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٍّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُورٌ عَلَى نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌMenanggapi kisah sarat hikmah tersebut, Kiai Hamid memberikan ulasan spiritual yang mendalam. Sang kiai menegaskan bahwa orang yang telah diberikan keyakinan dan kedalaman spiritual melalui Al-Qur’an, maka seluruh hidupnya pasti akan dimudahkan dan dituntun langsung oleh Allah SWT. Beliau juga menambahkan sebuah renungan agung bahwa Al-Qur’an sendiri diawali dan diakhiri dengan pesan-pesan ilahi agar manusia senantiasa berjalan di atas keyakinan tanpa ada keraguan sedikit pun.
Suasana silaturahmi semakin syahdu tatkala Kiai Hamid mengenang kembali episode spiritual dalam hidupnya pada tahun 2006 silam. Menjelang pernikahannya dengan hanya berbekal uang tunai senilai Rp56.000 di kantongnya, beliau meneguhkan hatinya dengan memegang erat janji Allah dalam Surah An-Nur ayat 32:
وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
(Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (bernikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui).Keyakinan mutlak pada ayat inilah yang kemudian membuka pintu-pintu kemudahan, membuktikan bahwa pertolongan Allah datang dari arah yang tidak disangka-sangka bagi hamba-hamba-Nya yang tulus berjalan di jalan-Nya. Perjumpaan di Gunung Kancil hari itu—yang disambut oleh filosofi relief Semar tidur tepat di pintu gerbang rumah—bukan sekadar perjumpaan fisik antara ulama dan dermawan, melainkan sebuah simpul pertautan batin yang merajut kembali kesadaran umat untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai kompas sejati dalam menapaki kehidupan dunia menuju ridha Ilahi.

( Kontributor: Achmad Husen)
PPTQAlHusna #BukitRajaWali #TahfizhQur’an #PondokTerbersihLampung #PejuangAlQur’an #IsyarahLangit #PemgamalAlQuran #AhliTaarifAlQuran