Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Risalah Salak: Menapak Jalan Suluk Menuju Ridho Ilahi

Risalah Salak: Menapak Jalan Suluk Menuju Ridho Ilahi

Tanggamus – Sumberejo, Setelah memetik hikmah dari alpukat, perjalanan dakwah Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I al-Hafizh, dan Ibu Nyai Husnul Fadhilah, M.Pd. al-Hafizhah, berlanjut menuju kebun salak milik Bapak Novi Andreanto.

Menunggangi motor di bawah naungan langit Sumberejo yang teduh, perjalanan ini bukan sekadar berpindah tempat, melainkan sebuah rihlah—pendakian jiwa yang mencari isyarat di balik rimbun dedaunan.

Di tengah kebun yang tenang, Kiai Hamid tertegun melihat keajaiban lain dari pohon salak. Beliau mendapati ilmu baru dari sang tuan rumah, Bapak Novi Andreanto, perihal hakikat “perkawinan” tanaman tersebut. Bahwa salak, layaknya manusia, diciptakan berpasang-pasangan—ada pohon jantan yang membawa serbuk sari dan pohon betina yang menanti untuk dibuahi.
Sembari belajar cara mengawinkan serbuk sari ke bunga betina, Kiai Hamid merasakan getaran spiritual yang dalam. “Subhanallah,” gumamnya, “Ternyata salak mengajarkan kita tentang kerendahan hati untuk saling melengkapi.

Sang jantan tidak sombong dengan serbuknya, dan sang betina tidak angkuh dalam menunggu. Keduanya berikhtiar, lalu Allah yang menetapkan buahnya.”

Di hadapan Ibu Nyai Husnul Fadhilah, Bapak Novi, dan keluarga, Kiai Hamid kemudian menautkan pengalamannya dengan sabda Rasulullah SAW:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang menempuh (salaka) suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya dengan ilmu tersebut jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Beliau menjelaskan bahwa salaka—akar kata dari salak—adalah perjalanan menuntut ilmu yang penuh duri.

“Kulit salak yang bersisik adalah simbol ujian, namun di baliknya ada manis yang harus diperjuangkan,” tuturnya.

Kiai Hamid kemudian membuka cakrawala ilmu thoriqoh kepada mereka yang hadir. Beliau menjelaskan bahwa santri sejatinya adalah seorang Salik, sang pengembara yang sedang meniti jalan spiritual.

Sementara Suluk adalah proses pembersihan hati di sepanjang jalan tersebut.
“Sebagaimana Bapak Novi mengajarkan saya cara mengawinkan salak hari ini, begitulah seorang guru membimbing salik untuk mengawinkan niat dengan ikhtiar, agar lahir buah keshalihan,” tegas Kiai Hamid.

“Dalam Suluk, seorang santri harus seperti pohon salak: akarnya menghujam kuat pada tauhid, tubuhnya tabah menghadapi duri kehidupan, dan hatinya selalu terbuka untuk menerima ‘serbuk ilmu’ dari guru-gurunya agar bisa berbuah manfaat bagi semesta.”

Pesan untuk Santri
Menutup pertemuan di bawah naungan pohon salak, Kiai Hamid menitipkan pesan bagi para santri di PPTQ Al-Husna dan PPM Baitul Qur’an:

  • Tabah seperti Kulit Salak: Jangan takut pada tantangan. Kulit yang tajam adalah pelindung bagi kemanisan isi di dalamnya. Begitu pula santri, tempaan hidup adalah pelindung integritas diri.
  • Saling Menggenapi: Seperti salak yang membutuhkan pertemuan antara serbuk jantan dan putik betina, santri tidak bisa berjalan sendiri. Hidup adalah tentang silaturahmi, saling membantu, dan saling mendoakan dalam kebaikan.
  • Hadirkan Tuhan dalam Setiap Langkah: Jadikan setiap langkah kaki dalam mencari ilmu sebagai Suluk yang nyata. Setiap duri yang tergores adalah penghapus dosa, dan setiap langkah adalah jemputan menuju surga.

Perjalanan siang itu ditutup dengan doa yang syahdu di sela-sela rimbun kebun. Kiai Hamid dan Ibu Nyai meninggalkan kebun dengan hati yang penuh, membawa pesan dari alam bahwa menjadi santri adalah tentang terus menempuh jalan, meski harus melewati duri, demi memetik manisnya ridho Ilahi.

(Kontributor: Achmad Husen)