
Di Depan Ikon Pringsewu, Pengasuh PPTQ Al-Husna Ajak Umat Meneladani Filosofi Bambu
PRINGSEWU, Di tengah padatnya agenda dakwah dan pendidikan, Pengasuh Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Rajawali, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., al-Hafizh, mengalami sebuah momentum perenungan yang tak terduga. Tepat pada Rabu, 24 Juni 2026 atau bertepatan dengan 9 Muharram 1448 H, dalam perjalanan menuju Bandar Lampung, kiai yang akrab disapa Kiai Hamid ini menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak di ikon wisata kebanggaan masyarakat, yakni tulisan “PRINGSEWU” yang berdiri megah di tengah hamparan persawahan hijau.
Di tengah desir angin dan hijaunya pemandangan, Kiai Hamid justru menemukan ruang untuk bermuhasabah. Terlebih, saat ini umat Islam tengah berada di hari-hari mulia bulan Muharram, sebuah fase yang menuntut setiap Muslim untuk mengevaluasi diri guna menyongsong hari esok yang lebih bermakna di tahun yang baru.
Refleksi Filosofi Pringsewu
Sembari menatap tulisan ikonik tersebut, Kiai Hamid merenungkan filosofi di balik nama “Pringsewu” yang secara etimologi berasal dari kata pring (bambu) dan sewu (seribu). Menurut beliau, bambu adalah simbol kekuatan yang unik bagi seorang pejuang dakwah.
“Jadilah seperti bambu. Ia tumbuh berkelompok, saling menguatkan, fleksibel mengikuti arah angin namun tidak mudah patah, dan akarnya yang kuat mencengkeram bumi. Inilah filosofi hidup seorang mukmin dalam bermasyarakat; kuat dalam prinsip, namun tetap luwes dalam bergaul,” ujar Kiai Hamid.
Beliau juga menyoroti keunikan jumlah huruf pada kata “PRINGSEWU” yang berjumlah tepat 9 huruf. Angka sembilan, yang bertepatan dengan hari istimewa 9 Muharram (Tasua), dalam khazanah sejarah Islam di Nusantara sangat identik dengan Wali Songo.
Angka ini melambangkan kesempurnaan, kematangan, dan metode dakwah yang merangkul, bukan memukul, serta menjadi pengingat bagi setiap individu untuk terus menapaki derajat kesempurnaan iman.
Muhasabah dan Kunci Rezeki
Dalam momen perenungan tersebut, Kiai Hamid mengaitkan situasi ini dengan QS. Al-A’raf ayat 10:
وَ لَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ ۗ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ
“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di bumi dan Kami berikan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.”
Dalam khazanah spiritualitas Islam, Kiai Hamid menjelaskan bahwa ayat ini merupakan wasilah doa yang sangat baik untuk memohon kelancaran rezeki. Menurut beliau, terdapat beberapa poin penting dalam mengamalkan ayat ini:
Pertama, ayat ini adalah pernyataan ketetapan Allah yang menegaskan bahwa Dia telah menyediakan ma’ayis (sarana penghidupan) bagi manusia. Dengan membacanya, seorang hamba melakukan “tauhid rezeki”, menyadari bahwa penghidupannya telah dijamin oleh Allah di tanah tempat ia berpijak.
Kedua, frasa qalilan ma tasykurun menjadi pengingat bahwa rezeki yang lancar berbanding lurus dengan syukur; wirid ini berfungsi memperbaiki “wadah” rezeki, yaitu hati yang pandai bersyukur atas apa yang sudah ada di daerah sendiri.
Beliau menganjurkan agar ayat ini dijadikan wirid dengan membacanya sebanyak 7 kali secara istiqamah, terutama setelah shalat fardhu atau di waktu pagi hari. Amalan ini diyakini dapat membantu seseorang menemukan potensi lokal—membuka mata batin untuk melihat peluang di lingkungan sekitar sehingga tidak perlu jauh mencari ke tempat lain—serta menanamkan rasa qana’ah (merasa cukup) dan keberkahan pada tanah yang dipijak.
“Wirid ini sebaiknya dibarengi dengan ikhtiar nyata. Sebagaimana filosofi bambu yang tumbuh kuat dengan akar yang menghujam ke bumi, pengamalan ayat ini akan semakin efektif jika dibarengi dengan kerja keras, kedisiplinan, dan sinergi dengan sesama di lingkungan tempat tinggal kita,” pungkas Kiai Hamid.
Perjalanan singkat di depan monumen Pringsewu ini, bagi Kiai Hamid, bukan sekadar istirahat fisik, melainkan perjalanan spiritual untuk menyelaraskan kembali niat. Bahwa di tahun baru Hijriyah yang masih hangat ini, setiap pribadi hendaknya tumbuh seperti bambu yang bermanfaat bagi sesama, serta memiliki kelapangan jiwa sebagaimana luasnya hamparan sawah yang memayungi kehidupan manusia di muka bumi.
(Kontributor: Achmad Husen)