Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Obrolan Selepas Jumat: Meneladani ‘Al-Hasan’ di Al-Husna

Obrolan Selepas Jumat: Meneladani ‘Al-Hasan’ di Al-Husna

PRINGSEWU, Bukit Rajawali – Suasana hangat menyelimuti kediaman Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I al-Hafizh, Jumat (19/6/2026) siang. Selepas menunaikan shalat Jumat, Pengasuh Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna yang berlokasi di Bukit Rajawali, Podomoro, Pringsewu, ini kedatangan tamu istimewa, Kiai Hasan.
Pertemuan dua tokoh ini berlangsung santai namun penuh dengan percikan hikmah di ruang tamu Kiai Hamid yang didesain layaknya perpustakaan pribadi. Dikelilingi oleh deretan kitab tafsir dan literatur klasik yang tersusun rapi di lemari kitabnya, obrolan mengalir begitu saja. Kehadiran Kiai Hasan seolah menjadi pemantik ingatan keduanya pada sebuah riwayat sastra Arab yang masyhur tentang nama “Al-Hasan”.

Muthala’ah Bersama di Ndalem

Tak ingin melewatkan momen, Kiai Hamid bergegas menuju lemari kitabnya. Beliau mengambil kitab Al-Jawahir al-Lu’lu’iyyah, sebuah rujukan klasik yang tersimpan apik di sana, lalu memberikannya kepada tamunya. Dengan takzim, Kiai Hamid mempersilakan Kiai Hasan untuk membacakan redaksi yang dimaksud.
Kiai Hasan pun membuka kitab tersebut dan dengan suara yang tenang membaca untaian kalimat pada halaman 290:
“Inna ahsanal husni al-khuluq al-hasan” (Sesungguhnya sebaik-baik kebaikan adalah akhlak yang mulia).

Kiai Hamid mengungkapkan bahwa gaya bahasa sastra dalam hadis ini sangat luar biasa, sebuah permainan kata (wordplay) yang tidak hanya memanjakan telinga, tetapi juga sarat akan pesan moral yang mendalam. “Gaya bahasa sastra dalam riwayat ini sungguh indah, begitu tertata dan sangat efektif dalam menanamkan nilai kebaikan,” puji Kiai Hamid.
Sembari meresapi untaian kalimat tersebut, Kiai Hasan menimpali, “Ini menarik, Kiai. Nama saya dan nama yang meriwayatkan hadis ini sama-sama Hasan.”
Kiai Hamid pun tersenyum penuh makna dan menambahkan, “Benar sekali, Kiai. Dan istimewanya, kita membacanya di PPTQ Al-Husna ini… semuanya serba Hasan.” Beliau lantas menjelaskan keindahan sanad yang dimuat dalam kitab tersebut, di mana terdapat empat tokoh bernama Al-Hasan secara beruntun: Al-Hasan bin Sahl, Al-Hasan bin Dinar, Al-Hasan al-Bashri, hingga cucu Baginda Nabi SAW, Al-Hasan bin Ali.

Menapaki Makna di Balik Nama
Pertemuan di lingkungan PPTQ Al-Husna, Bukit Rajawali

Ini terasa begitu relevan. Nama pondok pesantren yang beliau asuh, Al-Husna, secara etimologis memang berakar dari akar kata yang sama (h-s-n).
“Pesantren ini kita namai Al-Husna, agar santri-santri tidak hanya menghafal ayat-ayat Allah, tetapi juga menjadi perwujudan dari akhlak yang indah (al-khuluq al-hasan). Sesuai maknanya, yaitu segala hal yang baik dan indah,” tutur Kiai Hamid dengan khidmat di tengah sejuknya suasana Bukit Rajawali, Podomoro.

Keberkahan Hari Jumat dan Angka 19

Tak luput dari perhatian, Kiai Hamid juga mengaitkan suasana Jumat ini dengan refleksi spiritual. Hari ini jatuh pada tanggal 19 Juni. Bagi beliau, angka 19 memiliki kedekatan dengan simbolisme Basmalah.
“Kalimat Bismillahirrahmanirrahim itu terdiri dari 19 huruf. Ini menjadi pengingat bagi kita bahwa setiap langkah, termasuk obrolan ringan kita siang ini, harus selalu diawali dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Jika segalanya dimulai dengan basmalah yang 19 huruf itu, Insya Allah, akhlak kita akan terjaga menjadi Al-Hasan,” pungkas beliau.

Obrolan selepas Jumat tersebut pun diakhiri dengan doa bersama, berharap agar kedatangan tamu membawa berkah, dan lembaga pendidikan yang dikelola di Bukit Rajawali ini senantiasa menjadi tempat lahirnya generasi dengan akhlak mulia, sebagaimana filosofi di balik nama Al-Husna.

(Kontributor: Achmad Husen)