
Sambut Tahun Baru Islam 1448 H, Pengasuh PPTQ Al-Husna & PPM Baitul Qur’an: Jadikan JUNI sebagai Spirit Hijrah Santri
PRINGSEWU, Bukit Raja Wali – Memasuki bulan Muharram 1448 Hijriah, Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali dan Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) Baitul Qur’an Pringsewu, Lampung, menyambut tahun baru Islam dengan penuh khidmat dan semangat spiritualitas yang tinggi.
Tepat pada malam 17 Juni 2026, suasana pesantren diselimuti kedamaian. Pengasuh PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali dan PPM Baitul Qur’an, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., al-Hafizh, dalam nasehatnya mengajak santri merenungi angka 1448 H. Beliau menuturkan bahwa angka 48 mengandung filosofi kemantapan dan keberlanjutan.
“Angka 4 melambangkan empat fondasi kokoh (Iman, Islam, Ihsan, dan Ilmu), sementara angka 8 yang menyerupai simbol infinity atau tak terhingga, menjadi pengingat bahwa semangat mencari ilmu dan menjaga hafalan Al-Qur’an haruslah terus mengalir tanpa henti,” jelas Kiai Hamid.Untuk mengaplikasikan semangat tersebut, Kiai Hamid memberikan pesan khusus melalui akronim spiritual JUNI: Jaga iman dan akhlak, Usaha keras dalam menuntut ilmu, dan Nikmati setiap prosesnya sebagai ibadah.
Sebagai bentuk upaya melatih diri dan meniru jejak para ulama salaf, para santri menuliskan lafadz Basmalah sebanyak 113 kali merujuk pada kitab Kanz an-Najah Wa-Surur karya Imam Abdul Hamid al-Syafi’i. Setelah itu, para santri melakukan tabarukan dengan meminum susu putih bersama. Sebelum meminumnya, santri membaca doa:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ، وَزِدْنَا مِنْهُ
“Allahumma baarik lana fiihi, wa zidna minhu”
(Ya Allah, berkahilah minuman kami, dan tambahkanlah darinya untuk kami).
Momen Muharram ini terasa kian mengharukan karena bertepatan dengan haul almaghfurlah KH. Abdul Qodim Jember, guru sekaligus kiai pertama bagi pengasuh. Kiai Hamid mengenang kembali nasehat emas beliau, “Jangan punya cita-cita jadi Kiai,” sebuah pengingat akan pentingnya ketulusan dalam berkhidmah.
Sebagai penutup dari keseluruhan agenda, para santri melangitkan doa untuk menyambut tahun baru:
اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ، وَالإِيمَانِ، وَالسَّلامَةِ وَالإِسْلامِ، وَرِضْوَانٍ مِنَ الرَّحْمَنِ، وَجِوَارٍ مِنَ الشَّيْطَانِ
“Allahumma adkhilhu ‘alaina bil-amni, wal-imani, was-salamati, wal-islami, wa ridhwanim minar-rahmani, wa jiwarim minasy-syaithan.”(Ya Allah, masukkanlah kami pada bulan ini dengan keamanan, keimanan, keselamatan, Islam, keridaan dari Allah Yang Maha Pengasih, dan perlindungan dari gangguan setan).
Seluruh rangkaian acara kemudian ditutup dengan suasana kekeluargaan yang mendalam, di mana para santri saling berjabat tangan dan bermaaf-maafan antara sesama putra dan sesama putri sebagai simbol kesucian hati memasuki tahun yang baru.(Kontributor: Achmad Husen)