
Menyapa Bukit Kesetiaan: Air Mata Rihlah dan Cinta Abadi di Lereng Jabal Uhud
MADINAH, Jejak langkah para pencari hikmah di tanah haram kembali menorehkan lembaran batin yang begitu dalam. Selepas merengkuh nur di Masjid Nabawi, pengasuh Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali, Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., Al-Hafizh, melanjutkan perjalanannya menyapa tapak-tapak sejarah agung di Kota Madinah Al-Munawwarah. Kali ini, pandangan dan langkah beliau tertuju pada sebuah bentangan batu cadas yang menyimpan sejuta derap rindu dan isak tangis masa silam: Jabal Uhud, sang gunung yang menyendiri namun mendekap cinta tak bertepi.
Dari kejauhan, Uhud berdiri menjulang layaknya raksasa tidur di utara kota Nabi, membentang sepanjang tujuh kilometer dengan warna kemerahan yang memantulkan bias cahaya padang pasir. Berbeda dengan deretan pegunungan lain, Uhud berdiri terpisah—sebagaimana namanya yang menyiratkan kesendirian. Namun, di balik kesunyian batu-batu gersang dan terjal itu, tersimpan gelora cinta yang teramat agung. Di sinilah, pada tahun ketiga Hijriah, lembaran sejarah Islam diukir dengan tetesan darah, keringat, dan ketulusan jiwa para syuhada.
Menapaki tanah Uhud bersama Dr. KH. Abdul Hamid laksana membaca kembali epik agung tentang pahit getir perjuangan Rasulullah ﷺ dan para sahabat dalam menegakkan kalimat Allah. Di lembah dan lereng inilah 70 syuhada gugur dalam pelukan cinta yang mutlak kepada Sang Pencipta, termasuk paman tercinta sekaligus panglima perang Nabi, Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib—sang Asadullah yang kemudian bergelar Sayyidusy Syuhada. Konon, di tempat inilah Baginda Nabi ﷺ pernah menangis hingga sesegukan sekeras-kerasnya tatkala memeluk jasad suci sang paman.
Di balik ketegangan Perang Uhud, gunung ini menyimpan keistimewaan ruhani yang teramat agung. Ia bukan sekadar saksi bisu tumpahnya darah para kekasih Allah, melainkan sebuah entitas yang memiliki ikatan batin dengan surga. Kecintaan Nabi ﷺ kepada Uhud diabadikan dalam sabda suci beliau yang sarat akan kehangatan:
«أُحُدٌ جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ»
Artinya: “Uhud adalah gunung yang mencintai kita dan kita (juga) mencintainya.” (HR. Anas RA).
Bahkan, dalam riwayat lain yang agung, Rasulullah ﷺ menegaskan kedudukan mulia gunung tersebut, bersabda bahwa Uhud merupakan salah satu dari pilar keindahan alam akhirat:
«أُحُدٌ جَبَلٌ مِنْ جِبَالِ الْجَنَّةِ»
Artinya: “Uhud adalah salah satu gunung dari gunung-gunung di surga.”

Ziarah yang dilakukan oleh Dr. KH. Abdul Hamid ke Jabal Uhud ini menjelma menjadi sebuah renungan jiwa yang mendalam. Menatap bebatuan Uhud adalah belajar tentang arti kesetiaan pada sebuah pilihan hidup—menjadi hamba yang taat di tengah gelombang godaan duniawi. Dari tanah yang disapa cinta oleh Nabi ﷺ ini, nilai-nilai keteguhan, pengorbanan, dan keikhlasan khidmat dipetik kembali untuk kelak dialirkan menjadi nafas kehidupan bagi para santri di PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali.
Dari lereng Jabal Uhud yang penuh berkah ini, di bawah naungan doa para syuhada, kami menengadahkan tangan memohon kebaikan untuk seluruh kaum muslimin dan muslimah, khususnya saudara-saudara kami tercinta di Pringsewu, Lampung:
Ya Allah, limpahkanlah rahmat, keberkahan, kesehatan, serta kelapangan rezeki kepada seluruh kaum muslimin dan muslimah di Pringsewu, Lampung. Titiskanlah ketenangan di hati mereka, kuatkanlah iman dan takwa mereka, serta mudahkanlah langkah mereka untuk suatu saat nanti dapat menginjakkan kaki di tanah suci ini, berziarah ke makam Rasulullah ﷺ, dan memandang keindahan Baitullah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Kontributor: Achamd Husen
#KHAbdulHamid
#Ngobroldgnalquran
#IsyarahLangit
#RihlahIlmiah MadinahAlMunawwarah
#MakkahAl Mukarramah
#PPTQAlHusnaBukit RajiWali
#PesantrenTerbersihSeLampung
#KurikulumLangit