
Menapak Jalan Pengetahuan: Pelepasan Kunjungan Industri STIT Pringsewu Menuju Jogja-Bandung
PRINGSEWU — Ada yang berbeda dari deru mesin 2 unit bus yang bersiap membelah jalanan pada Ahad pagi, 13 September 2026. Di lapangan samping Polsek Gadingrejo, pelepasan rombongan mahasiswa untuk Kunjungan Industri dengan rute Yogyakarta–Bandung terasa bukan sekadar agenda akademis biasa, melainkan sebuah bentuk rihlah ilmiyah yang dibalut hikmah mendalam.
Pelepasan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Yayasan Startech, Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., al-Hafizh. Turut hadir membersamai dan melepas keberangkatan rombongan, Ketua STIT Pringsewu, Ibu Iis Maisaroh, M.Pd., al-Hafizhah, para Wakil Ketua II dan III, serta jajaran dosen dan staf kampus. Di hadapan puluhan mahasiswa yang siap menimba pengalaman nyata di luar kelas itu, pimpinan menitipkan pesan-pesan ruhani yang menuntun langkah kaki agar tetap berpijar dalam koridor nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadits.
Dalam arahannya, Kiai Hamid—sapaan akrab beliau—mengajak para mahasiswa untuk menata niat dan menjaga marwah diri. Perjalanan seorang mahasiswa perguruan tinggi tentu memiliki bobot yang jauh melampaui perjalanan anak-anak sekolah dasar, menengah pertama, maupun menengah atas.

“Kalian ini mahasiswa. Perjalanan kalian bukan lagi tamasya biasa. Apa yang kalian lihat di luar sana, saksikan dengan mata hikmah; jadikan ia ilmu, jadikan ia pelajaran. Jaga akhlak di mana pun bumi dipijak,” pesan beliau penuh kehangatan.
Kiai Hamid juga mengingatkan tentang agungnya posisi seorang musafir. Dalam tradisi keilmuan Islam, perjalanan adalah ruang terkabulkannya doa.
Rasulullah SAW mengingatkan melalui sabdanya:
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ
(“Ada tiga doa yang mustajab tanpa diragukan lagi: doa orang yang dizalimi, doa seorang musafir, dan doa orang tua kepada anaknya.” — HR. Tirmidzi & Abu Dawud).
Sehingga, lanjut Kiai Hamid, setiap kilometer yang ditempuh oleh armada bus ini sejatinya adalah bentangan lembaran doa yang terbang ke langit.
Dengan gaya tutur yang membumi namun menyentuh—diselingi gelak tawa ringan para mahasiswa—beliau menyelipkan pesan praktis penuh keakraban seputar adaptasi di penginapan. Maklum, bagi sebagian mahasiswa yang datang dari berbagai daerah dan mungkin baru pertama kalinya bermalam di hotel saat tiba di Yogyakarta esok malam, urusan keran air pun bisa menjadi ‘misteri’ tersendiri.

“Esok malam kalian tidur di hotel. Anggaplah itu sebagai latihan kecil… bayangkan seolah-olah kalian sedang menginap di hotel dekat Masjidilharam di Makkah atau Masjid Nabawi di Madinah, bersiap menjadi tamu-tamu Allah kelak. Cuma ingat ya, kalau masuk kamar mandi hotel, pastikan cek kran airnya dulu sebelum nyebur—jangan sampai keburu mandi atau wudu ternyata airnya panas pol, nanti malah bikin kaget!” canda Kiai Hamid yang disambut gelak tawa dan riuh tepuk tangan hangat seluruh barisan mahasiswa.
Langkah pun dilepas. Doa safar dilantunkan oleh Bapak Fuad Hasan, M.Pd sebagai pendamping perjalanan mengiringi roda-roda yang mulai berputar dari halaman samping Polsek Gadingrejo, membawa serta asa agar kepulangan mereka nanti bukan hanya membawa oleh-oleh cinderamata, tetapi ‘oleh-oleh’ peradaban yang siap diruwat di tanah Pringsewu.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ
(“Katakanlah: ‘Berjalanlah di muka bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya’…” — QS. Al-‘Ankabut: 20).

Kontributor: Achamd Husen
#Stitpringsewu
#Nyanrisakkuliahe
#KunjunganIndustri
#MahasiswaOkey