
Makna Filosofis Thawaf dan Sa’i: Pesan Ruhani Pengasuh PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali untuk Menemukan Ketenangan Hidup
MAKKAH, 26 September 2026 Ibadah haji dan umroh bukan sekadar rangkaian ritual fisik yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan sebuah teater spiritual yang merekam hakikat perjalanan hidup manusia di bumi. Di balik setiap langkah thawaf mengelilingi Baitullah dan derap sa’i di antara bukit Shafa serta Marwah, tersimpan mutiara hikmah yang mendalam tentang tauhid, ikhtiar, dan kepasrahan total kepada Sang Pencipta.
Hal tersebut disampaikan oleh pengasuh Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali, Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., Al-Hafizh, dalam renungan spiritualnya mengenai hakikat manasik di Tanah Suci.
Menurut beliau, ibadah thawaf mengajarkan kepada setiap hamba bahwa sejauh apa pun kaki melangkah dan bergerak dalam dinamika kehidupan, poros dan pusat perjalanan haruslah tetap kepada Allah SWT.
“Saat kita berputar mengelilingi Ka’bah, kita seakan diingatkan bahwa hidup ini bukan tentang ke mana kaki melangkah membawa kita, tetapi kepada siapa hati ini dikembalikan. Hidup boleh bergerak ke segala arah, namun hati tidak boleh kehilangan kiblatnya, yaitu Allah Yang Maha Kuasa,” ujar beliau.
Landasan tauhid ini dikuatkan oleh firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-An’am ayat 162-163, yang menegaskan orientasi hidup seorang hamba:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Artinya: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam; tidak ada sekutu bagi-Nget; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)’.” [QS. Al-An’am: 162-163]
Selepas thawaf, rangkaian ibadah dilanjutkan dengan sa’i—berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah. Sa’i, lanjut beliau, adalah kelanjutan perjalanan hidup ketika hati telah mengenal kepada siapa ia bersandar.
Kaki belajar menempuh sebab-sebab dan ikhtiar yang telah Allah tetapkan.
Peristiwa ini merujuk pada keteladanan agung Ibunda Hajar saat berlari antara Shafa dan Marwah demi mencari air untuk putranya, Ismail AS. Ibunda Hajar sedang menempuh sebuah maqam tawakkal yang tinggi: tangan berikhtiar dan kaki melangkah, namun hati tidak bersandar kecuali kepada Allah SWT. Beliau tidak mengetahui dari mana pertolongan akan datang, tetapi beliau sangat yakin kepada siapa ia harus berharap. Dari ketulusan ikhtiar tersebut, air zamzam pun memancar dari tempat yang tidak pernah disangka-sangka.
Kisah agung tentang tawakkal dan ikhtiar ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, di mana Nabi bersabda:
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
Artinya: “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.” [HR. Tirmidzi, beliau berkata: hadis hasan sahih]
Dari sinilah tersimpan rahasia kedamaian hati yang meyakini bahwa Allah SWT tidak selalu memberikan pertolongan di tempat yang kita cari, tetapi Allah selalu tahu di mana pertolongan itu paling sempurna bagi kita. Doa saat thawaf membersihkan ketergantungan hati kepada selain Allah, sementara berjalan dalam sa’i menyempurnakan adab seorang hamba terhadap takdir-Nya.
Kiai Hamid menambahkan, ibadah thawaf dan sa’i yang dihayati secara mendalam akan menghasilkan ketenangan jiwa yang membebaskan hati dari rasa gelisah terhadap hasil akhir.
Ketika hati telah sampai kepada Allah, ikhtiar tidak lagi menjadi sandaran mutlak, doa tidak lagi menjadi tuntutan yang mendikte takdir, dan ketentuan Allah tidak lagi dipertentangkan.
Yang tersisa pada akhirnya hanyalah seorang hamba yang berjalan di atas muka bumi dengan kaki yang berusaha, tangan yang menengadah berdoa, dan hati yang sepenuhnya berserah diri. Nilai-nilai luhur ketawakkalan inilah yang terus dipesan untuk ditanamkan kepada para santri di PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali dan PPM Baitul Qur’an agar senantiasa menyandarkan setiap langkah ilmu dan amal hanya kepada ridha Allah SWT.
Kontributor: Achamd Husen
#KHAbdulHamid
#Ngobroldgnalquran
#IsyarahLangit
#RihlahIlmiah MadinahAlMunawwarah
#MakkahAl Mukarramah
#Filosofi ThawafSai
#PPTQAlHusnaBukit RajiWali
#PesantrenTerbersihSeLampung
#KurikulumLangit