Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Dari Kontrakan Pringsewu ke Bukit Raja Wali: Napak Tilas Sang Perintis PPTQ Al-Husna dalam Wisuda Tafsir Hadits UIN RIL

Dari Kontrakan Pringsewu ke Bukit Raja Wali: Napak Tilas Sang Perintis PPTQ Al-Husna dalam Wisuda Tafsir Hadits UIN RIL

BANDAR LAMPUNG, – Hari ini, Kamis 2 Juli 2026, menjadi saksi bisu atas tuntasnya sebuah babak perjuangan panjang. Di bawah langit cerah Bandar Lampung, kampus UIN Raden Intan Lampung bergemuruh dalam sukacita wisuda. Di tengah kerumunan wisudawan yang berbaris rapi, sosok istimewa Melatul Ulfa Hasanah binti Hi. Sahrudin berdiri dengan penuh ketawadhuan, menerima gelar Sarjana S1 Prodi Tafsir Hadits.
Kelulusan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sebuah “fajar” baru bagi Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna.

Cikal Bakal dari Lorong Sempit Pringsewu Barat

Kisah Melatul Ulfa adalah kisah tentang benih yang tumbuh dari tanah yang penuh kerendahan hati. Jauh sebelum PPTQ Al-Husna berdiri megah di Bukit Raja Wali, ia bermula dari sebuah rumah kontrakan sederhana di Pringsewu Barat. Di sanalah, di antara sekat-sekat ruang yang sempit namun hangat, sejarah Al-Husna pertama kali ditulis.

Melatul Ulfa bukan hanya santri pertama; ia adalah nyala api pertama yang menghidupkan majelis tahfizh di kontrakan tersebut. Di balik kesederhanaan kontrakan itu, Melatul Ulfa menempa diri dengan istiqamah hingga berhasil merampungkan hafalan Al-Qur’an 30 Juz secara sempurna di bawah bimbingan langsung pengasuh pondok. Rumah kontrakan itu menjadi saksi bisu lantunan ayat suci yang khatam dibaca dan dihafal, menjadi “pesantren darurat” yang kini membuahkan hasil manis di hari ini.
Hijrah ke Podomoro: Menemukan Panggung di Bukit Raja Wali
Bak musafir yang menemukan mata air, perjuangan di kontrakan Pringsewu menemui jalan kemudahan dan kemudian membesar. Pondok berpindah lokasi ke Podomoro, dan bertransformasi menjadi PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali.

Tempat ini menjadi saksi mekarnya perjuangan santri pertama ini. Melatul Ulfa, sang perintis, terus membersamai pengasuh dalam mengembangkan sayap dakwah Al-Qur’an dengan berbekal kematangan hafalan dan akhlak yang telah ia tanam sejak awal.
Momen Haru di Hari Wisuda
Kebahagiaan wisuda Melatul Ulfa semakin lengkap dengan kehadiran sang guru sekaligus pengasuh pondok, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I dan Bu Nyai Husnul Fadhilah, M.Pd., al-Hafizhah. Di sela-sela prosesi wisuda, keduanya tampak menatap penuh haru pada santri pertama mereka ini.
“Melihatnya hari ini, seolah memutar kembali memori saat kami memulai semuanya dari rumah kontrakan di Pringsewu. Dari seorang anak yang berjuang menghafal 30 juz di keterbatasan, kini ia berdiri sebagai sarjana Tafsir Hadits. Ini adalah buah kesabaran yang luar biasa,” ungkap KH. Abdul Hamid dengan nada haru. Bu Nyai Husnul Fadhilah pun menambahkan, “Dia bukan hanya santri, dia adalah saksi sejarah bagaimana Al-Husna berproses dari bawah. Kami sangat bangga melihatnya tuntas menempuh pendidikan ini.”

Puncak Perjalanan: Tafsir dan Hadits

sebagai Bekal Dakwah
Hari ini, gelar Sarjana Tafsir Hadits dari UIN Raden Intan Lampung adalah mahkota dari proses panjang tersebut. Bagi Melatul Ulfa, gelar akademis ini adalah pelengkap atas hafalan 30 Juz yang telah menyatu dalam jiwanya. Ilmu yang didapatkannya di bangku kuliah bukanlah untuk kebanggaan semata, melainkan alat untuk membedah dan memahami lebih dalam kalam Ilahi yang telah ia hafal, agar menjadi lentera yang menerangi jalan umat.
Ia adalah bukti hidup bahwa dari mana kita berasal tidak membatasi seberapa tinggi kita bisa terbang. Selamat, Melatul Ulfa Hasanah.
Perjuanganmu di Pringsewu, keteguhan hafalanmu, dan pengabdianmu di Bukit Raja Wali adalah inspirasi bagi kita semua.

( Kontributor: Achmad Husen)