Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Menghidupkan Sanad dan Akhlak di Tanah Haram: Rihlah Silaturahmi KH. Abdul Hamid ke Majelis Sayyid Ahmad Al-Maliki

Menghidupkan Sanad dan Akhlak di Tanah Haram: Rihlah Silaturahmi KH. Abdul Hamid ke Majelis Sayyid Ahmad Al-Maliki

MAKKAH AL-MUKARRAMAH — Perjalanan spiritual dan intelektual Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., al-Hafizh (pengasuh Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an [PPTQ] Al-Husna Bukit Raja Wali sekaligus PPM Baitul Qur’an Lampung) di Tanah Suci Makkah al-Mukarramah terus berlanjut dengan agenda sowan dan silaturahmi penuh keberkahan.

Setelah sebelumnya larut dalam ziarah batin ke makam para Masyayikh di Jannatul Ma’la, Kiai Abdul Hamid bersama rombongan—yang di antaranya membersamai KH. Muhammad Faiz Syukron Makmun, Bupati Blora H. Arief Rohman, owner Rehlata Ust Itho Ithoillah, Ust Adrian serta para jamaah lainnya—bersilaturahmi langsung ke kediaman dan majelis mulia Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani.

Suasana keakraban dan keilmuan langsung terasa mengalir hangat begitu pertemuan dimulai. Washilah perbincangan bermula dari kitab Mafahim Yajibu an Tusohhah (Pemahaman yang Harus Diluruskan) yang dibawa khusus oleh Kiai Abdul Hamid.

Kitab karya agung ayahanda Sayyid Ahmad, yaitu Al-Allamah Al-Muhaddits Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki, menjadi pembuka obrolan yang cair dan bermakna mendalam.

Sebelum kitab tersebut ditandatangani (ijazah/tanda tangan sanad) oleh Sayyid Ahmad—sebagai putra kandung dan penerus sang pengarang—terlebih dahulu KH. Muhammad Faiz Syukron Makmun (Gus Faiz) diminta untuk membacakan bagian muqoddimah (pembukaan) kitab tersebut. Pembacaan kemudian dilanjutkan oleh muthowif rombongan, Ust. Mahsyar (alumni Universitas Al-Azhar, Mesir).

Penandatanganan kitab Mafahim Yajibu an Tusohhah dan kitab Khoshois Ummat Muhammad oleh Sayyid Ahmad menjadi simbol kuat atas ketersambungan sanad keilmuan (ittishal ush-shuruth) antara Kiai Hamid beserta pesantren yang diasuhnya dengan garis keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah di Makkah.

Di tengah kehangatan majelis, sebuah momen nasihat yang unik tersaji ketika Sayyid Ahmad membuka kitab Al-Busyro. Beliau memberikan pesan khusus agar kitab tersebut cukup dibaca sebulan sekali saja, tidak perlu setiap malam, sebagai bentuk penjagaan amalan yang proporsional dan istiqamah.

Selama berada di majelis, Kiai Abdul Hamid mengamati dari dekat keluhuran akhlak Sayyid Ahmad al-Maliki. Teladan utama yang sangat membekas di hati adalah sifat Ikromudh Dhuyuf (memuliakan tamu) yang luar biasa, mencerminkan akhlak Rasulullah SAW.
Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rombongan Rehlata mendapatkan kehormatan untuk menunaikan shalat Dzuhur berjamaah yang diimami langsung oleh Sayyid Ahmad. Usai shalat, rangkaian majelis dilanjutkan dengan pembacaan Surah Yasin dan doa bersama. Doa penuh kekhusyukan tersebut dipanjatkan langsung oleh beliau—singkat namun sarat makna—disertai tiupan atau semburan dari lisan mulia beliau ke arah bara bukhur yang masih menyala di hadapannya sebagai isyarat penutup majelis.

Suasana keakraban kian memuncak tatkala Sayyid Ahmad menunjukkan kemurahan hati dan tawadhu’nya dengan mengajak seluruh rombongan menikmati hidangan jamuan makan bersama dalam satu nampan (jufnah), mengikuti tradisi khas kuliner Arab yang penuh berkah dan mempererat kebersamaan.

Menjelang kepulangan, kebahagiaan para rombongan semakin bertambah. Selain mendapatkan curahan ilmu, keberkahan doa yang tersemat dari lisan mulia beliau, serta pengalaman jamuan makan bersama, setiap anggota rombongan juga dijamu dengan kenang-kenangan istimewa berupa 1 kg kurma dan minyak wangi langsung dari sang tuan rumah.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa…” (QS. Al-Ma’idah: 2).

Rihlah spiritual ini tidak hanya mempererat silaturahmi antartokoh dan umat, tetapi juga menghujamkan nilai-nilai ketulusan, adab, dan kecintaan yang mendalam kepada para ulama pewaris para nabi, untuk kemudian dibawa pulang dan ditebarkan di bumi Nusantara—khususnya di lingkungan Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Al-Husna Bukit Raja Wali dan PPM Baitul Qur’an Lampung.

Kontributor: Achamd Husen

#KHAbdulHamid
#IsyarahLangit
#RihlahIlmiah MadinahAlMunawwarah
#MakkahAl Mukarramah
#SayyidAhmad
#MafahimYajibuAntushohhah
#KhoshoisUmmatMuhammad
#PPTQAlHusnaBukit RajiWali
#PesantrenTerbersihSeLampung
#KurikulumLangit