Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Meneladani Akhlak Rasulullah di Kota Thaif: Pesan Mendalam Pengasuh PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali

Meneladani Akhlak Rasulullah di Kota Thaif: Pesan Mendalam Pengasuh PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali

THAIF, Sabtu 26 September 2026. Perjalanan napak tilas sejarah Islam di kota Thaif tidak hanya menghadirkan kenangan tentang perjuangan dakwah masa lalu, tetapi juga menyisipkan mutiara hikmah yang sangat mendalam bagi para musafir pengisi peradaban. Usai menunaikan ziarah ke makam sahabat mulia sekaligus sepupu Rasulullah SAW, Abdullah bin Abbas ra., di Thaif, pengasuh Pondok Pesantren Tahfizhul Quran PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali, Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., Al-Hafizh, menyampaikan nasehat berharga mengenai keluhuran akhlak Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi ujian dan penolakan.

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma adalah sepupu sekaligus sahabat Nabi Muhammad SAW yang dijuluki sebagai Turjuman al-Quran (Penerjemah Al-Quran) dan Hibrul Ummah (Tinta Umat/Orang yang sangat berilmu). Beliau dikenal memiliki kecerdasan yang luar biasa, ketajaman berpikir, serta pemahaman mendalam tentang tafsir Al-Quran dan hukum Islam berkat doa langsung dari Rasulullah SAW:

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ
Artinya: “Ya Allah, fahamkanlah ia dalam urusan agama dan ajarkanlah takwil (tafsir Al-Quran) kepadanya.”

Dari sosok Ibnu Abbas ra., kita dapat mengambil pelajaran besar tentang pentingnya mencintai ilmu, berkhidmat kepada para ulama, serta menggunakan kecerdasan dan usia muda untuk mendalami kedalaman makna agama.

Di kota Thaif yang menyimpan lembaran sejarah di mana Rasulullah SAW pernah datang membawa cahaya cinta namun disambut dengan lemparan batu hingga berdarah, tersimpan pula pelajaran abadi tentang bagaimana membalas luka dengan kasih sayang. Ketika malaikat penunggu gunung menawarkan untuk menghancurkan penduduk Thaif yang menolak dakwah, Baginda Nabi justru tidak memilih kebinasaan.

Beliau justru berharap agar dari keturunan mereka kelak lahir orang-orang yang beribadah kepada Allah SWT.

Dalam refleksi spiritualnya, peristiwa Thaif mengajarkan bahwa rahmah (kasih sayang) sejati bukanlah berarti seseorang tidak merasakan sakit, melainkan ketika rasa sakit tersebut tidak lantas mengubah hati menjadi keras. Rasulullah SAW tidak sibuk membalas saat disakiti, melainkan sibuk berharap akan hidayah di masa depan.
Keteladanan agung ini sejalan dengan ajaran Islam yang senantiasa menyeru umatnya untuk membalas keburukan dengan kebaikan, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Fussilat ayat 34:

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُمْ وَلِيُّ حَمِيمٌ

Artinya: Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah teman yang sangat setia.

Sikap pemaaf dan keluhuran jiwa ini juga dikuatkan oleh hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, di mana beliau bersabda mengenai sifat kasih sayang:
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
Artinya: Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah penduduk bumi, niscaya Zat yang di langit akan menyayangi kalian. [HR. Abu Dawud dan Tirmidzi]

Usai berziarah ke makam Ibnu Abbas di Thaif, pengasuh mengingatkan kita semua nya agar senantiasa menjaga kelembutan hati di tengah dinamika kehidupan. Dunia hari ini tidak selalu membutuhkan orang yang gemar membalas luka, melainkan membutuhkan hati manusia yang mampu mengubah luka menjadi kasih sayang.
Nasehat yang terus dirawat dari para guru mursyid terdahulu menegaskan: “Jangan biarkan keburukan orang lain menentukan akhlak kita. Tetaplah menjadi hamba yang membawa rahmat, meski dunia belum selalu memperlakukan kita dengan rahmat.” Bisa jadi, orang yang hari ini memberi ujian dan membuat hati terluka, kelak menjadi bagian dari takdir Allah yang mengajarkan betapa luasnya kasih sayang-Nya.

Semoga ziarah ke kota Thaif dan makam Abdullah bin Abbas tidak hanya menjadi kenangan sejarah perjalanan fisik semata, tetapi juga membawa pulang buah keluhuran akhlak untuk terus menebar kasih, bahkan kepada mereka yang pernah menyakiti. Semoga kita semua nya diberikan kemudahan untuk mengamankan nya.

Kontributor: Achamd Husen

#KHAbdulHamid
#Thaif
#IbnuAbbas
#Ngobroldgnalquran
#IsyarahLangit
#RihlahIlmiahMadinahAlMunawwarah
#MakkahAl Mukarramah
#PPTQAlHusnaBukit RajiWali
#PesantrenTerbersihSeLampung
#KurikulumLangit