
Menyapa, Mengalirkan Sejarah: Jejak Kasih dan Bait Doa di Kubah Tertua Masjid Amr bin Ash
KAIRO Senin, 21 September 2026 pukul 10.10 waktu Mesir, di bawah naungan langit Kairo yang membentang luas menyimpan ribuan kisah para salaf, langkah kaki sang pengasuh Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali, Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., Al-Hafizh, kembali menorehkan tinta emas dalam rihlah ilmiahnya. Beliau hadir dan melihat langsung kemegahan Masjid Amr bin Ash—masjid tertua di benua Afrika yang mulai dibangun pada tahun 641–642 Masehi atau 21 Hijriah oleh sang panglima besar sahabat Nabi, Amr bin Ash, setelah pembebasan Mesir atas arahan Khalifah Umar bin Khattab.
Sebagai masjid pertama dan tertua di Mesir serta seluruh benua Afrika yang kini telah menginjak usia 1.385 tahun pada 2026 ini, bangunan bersejarah tersebut berdiri tegak menjadi saksi bisu keagungan peradaban Islam sejak masa awal penyebarannya.
Menyusuri setiap jengkal pelataran masjid bersejarah yang pertama kali berdiri di tanah Mesir ini, laksana membaca lembaran sejarah yang ditulis dengan tetesan air mata perjuangan dan keikhlasan para sahabat.

Dinding-dinding batu dan tiang-tiang kokohnya seolah berbisik tentang ketulusan niat para pendahulu yang menancapkan panji tauhid di tanah kinan. Di tempat suci inilah napas sejarah berpadu dengan ketukan hati yang dalam, mengingatkan setiap jiwa yang hadir bahwa sebuah legasi kebaikan tidak akan pernah lekang oleh gerusan zaman. Masjid agung yang usianya terpaut jauh sekitar 330 tahun lebih awal dibanding Masjid Al-Azhar (yang baru dibangun pada tahun 970 Masehi oleh Panglima Jauhar al-Siqilli) ini juga menyimpan warisan intelektual yang sangat agung, termasuk menjadi salah satu pusat majelis ilmu dan tempat mengajar bagi Imam Syafi’i rahimahullah ketika beliau tiba dan berada di Mesir pada tahun 199 Hijriah, di mana tiang-tiang majelisnya hingga kini menjadi saksi abadi mengalirnya samudra ilmu keislaman.

Lebih dari sekadar menapak tilas, langkah beliau ke dalam ruang suci masjid tertua di Afrika ini terasa semakin istimewa dan penuh khidmat karena membawa serta buku risalah aurad dan doa harian Pondok Pesantren Al-Husna Bukit Raja Wali. Buku aurad tersebut dijinjing penuh takzim untuk mendapatkan limpahan keberkahan dari bumi para anbiya. Pagi ini, di hadapan mihrab masjid yang penuh sejarah, beliau membaca secara langsung bait-bait syair tawasul dan doa penuh makna yang secara khusus digubah oleh sahabat sekaligus rekan seperjuangan beliau di Mesir, Ustaz Amrullah.
Bait-bait tawasul yang mengalirkan derap cinta kepada para masyayikh dan pendiri pesantren itu bergema lembut, merajut ukhuwah batin antara bumi Nusantara dan tanah Mesir.

Perjalanan spiritual ini kian terasa mendalam ketika menelusuri rentang jarak yang membentang antara kompleks masjid bersejarah tersebut dengan lokasi makam sang panglima agung Amr bin Ash di kawasan Al-Mokattam, yang berjarak sekitar 4 kilometer. Jarak yang memisahkan antara tempat sujud beliau semasa hidup dan tempat peristirahatan terakhirnya seakan merekam rentang pengabdian panjang seorang sahabat Nabi dalam memperjuangkan Islam di tanah Afrika.
Kehadiran beliau di masjid yang didirikan pada abad ketujuh masehi ini membawa sebuah perenungan mendalam tentang keteguhan hidup.

Laksana akar pohon yang menghunjam jauh ke dalam bumi demi menopang rindangnya dedaunan, perjuangan menegakkan kalimat Allah membutuhkan keistiqamahan yang mengakar kuat di dalam jiwa. Setiap tiang masjid yang disapa dan setiap sudut ruang yang dipandang menjadi cerminan bahwa amal saleh dan ketulusan khidmat seorang hamba akan terus memancar, menerangi kegelapan zaman laksana matahari yang tak pernah lelah menghangatkan semesta tanpa meminta balasan.
Perjalanan menapak tilas masjid yang menjadi simbol awal mula masuknya cahaya Islam ke tanah Afrika ini juga mengingatkan kita pada janji Allah SWT tentang keutamaan orang-orang terdahulu yang berhijrah dan berjuang di jalan-Nya, sebagaimana firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 100:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Artinya: “Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.”

Semoga kunjungan penuh barokah ke Masjid Amr bin Ash ini, serta alunan doa dari bait syair yang dibacakan langsung di tanah rantau para pencari ilmu, semakin memperkaya khazanah batin, meneguhkan semangat dakwah dan literasi, serta mengalirkan inspirasi abadi bagi para santri dan generasi muda untuk terus merajut kebaikan di bumi Nusantara.
Kontributor: Achamd Husen
#KHAbdulHamid #MasjidAmrbinAsh #KairoMesir
#Rihlah Ilmiah
#SejarahIslamPeradaban #PPTQAlHusnaBukit RajaWali #PesantrenTerbersihSeLampung
#KurikulumLangit #AuradMasyaikh
#Tabarrukan