Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Menyelami Samudra Mahabbah dan Makrifat: Ziarah Spiritual ke Pusara Para Auliya dan Abū ‘Alī al-Rudzbarī

Menyelami Samudra Mahabbah dan Makrifat: Ziarah Spiritual ke Pusara Para Auliya dan Abū ‘Alī al-Rudzbarī

KAIRO — Rangkaian rihlah spiritual dan keilmuan yang ditapaki oleh pengasuh Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali sekaligus PPM Baitul Qur’an Lampung, Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I, seakan tak pernah kehabisan oase keberkahan di bumi Kairo. Semilir angin lembah Nil seolah menuntun langkah sang kiai bersama rombongan untuk terus mereguk hikmah. Usai menziarahi pusara para imam mazhab pencetak fondasi syariat, perjalanan batin ini berlanjut menyelami samudra tasawuf dan makrifat, dengan bertawajjuh ke makam tokoh sufi legendaris Rabi’ah al-Adawiyah, Dzun Nun al-Mishri, serta pesarehan seorang wali agung bergelar Abū ‘Alī al-Rudzbarī rahimahullah.

Menghadirkan diri di kompleks pemakaman para kekasih Allah ini bukanlah sekadar napak tilas sejarah, melainkan ikhtiar batin untuk menyambung frekuensi cinta mahabbah dan pengenalan sejati kepada Sang Khalik makrifat, sebuah tradisi tabarruk yang senantiasa dihidupkan oleh para ulama Ahlussunnah wal Jamaah.

Titik perhentian yang menggetarkan sanubari adalah saat rombongan berdiri di hadapan pesarehan yang dinisbatkan kepada tokoh sufi perempuan paling ikonik, Rabi’ah al-Adawiyah. Beliau adalah mahkota para zahid yang mengubah paradigma ibadah pada zamannya, dari sekadar rasa takut khauf dan harap raja’, menuju puncak ketulusan yang murni: Cinta Mahabbah.

Di pusara ini, teringat kembali munajat beliau yang sangat menggetarkan arasy:

“Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka-Mu, maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga-Mu, maka haramkanlah aku darinya. Namun jika aku menyembah-Mu semata-mata karena-Mu, maka janganlah Engkau haramkan aku dari memandang wajah-Mo yang Maha Mulia.”

Ziarah sang kiai ke pusara perintis madzhab mahabbah ini menjadi pijakan penting bagi pendidikan pesantren; bahwa di atas lautan hafalan Al-Qur’an dan deretan kitab kuning yang dikaji, harus bermuara pada satu titik terdalam, yakni cinta yang tak bersyarat kepada Allah SWT.

Perjalanan sang kiai kemudian bergeser menuju makam waliyullah agung, Dzun Nun al-Mishri. Pemilik nama asli Tsauban bin Ibrahim ini adalah lentera spiritual dari daratan Mesir yang pertama kali merumuskan batasan-batasan dan tahapan maqamat dalam ilmu tasawuf. Beliau adalah tonggak yang memisahkan antara pengetahuan akal dan pengenalan batin makrifatullah.
Di bawah naungan makam Dzun Nun al-Mishri, mengalir sebuah hikmah agung tentang betapa berharganya kejernihan hati.

Dzun Nun pernah berpesan bahwa “Orang yang makrifat mengenal Allah itu selalu merasa bersama Allah, matanya tak pernah lepas dari memandang keagungan-Nya dalam setiap ciptaan.”

Kehadiran rombongan dari Travel Rehlata di makam beliau merupakan wujud penghormatan, memohon aliran barakah agar hati para santri senantiasa dianugerahi ketajaman bashirah mata batin untuk menangkap hikmah di balik setiap takdir Ilahi.

Menyempurnakan perjalanan ruhani hari itu, langkah rombongan berlabuh di pesarehan seorang tokoh sufi besar abad ke-4 Hijriah yang makamnya diziarahi di Kairo, yaitu Abū ‘Alī al-Rudzbarī rahimahullah.

Nama lengkap beliau Abū ‘Alī Aḥmad bin Muḥammad bin al-Qāsim bin Manṣūr. Beliau adalah seorang imam tasawuf yang memadukan secara sempurna antara keluasan ilmu syariat fikih dan hadis serta kedalaman hakikat.
Abū ‘Alī al-Rudzbarī tercatat pernah berguru kepada tokoh-tokoh sufi besar seperti al-Junaid al-Baghdadi dan Abū ‘Abdillāh al-Nūri, serta meriwayatkan hadis dari para ulama terkemuka. Beliau wafat pada tahun 322 Hijriah.

Di antara mutiara hikmah beliau yang masyhur adalah penegasannya tentang integritas seorang sufi:

“Barang siapa yang mengenakan pakaian sufisme atas dasar kejernihan hati al-shafā’, maka seluruh jalannya adalah kesungguhan, dan barang siapa yang mencampuradukkannya dengan kepalsuan, maka ia telah merusaknya.”

Kehadiran sang kiai dan rombongan di makam Abū ‘Alī al-Rudzbarī meneguhkan kembali nilai-nilai luhur tasawuf sunni—bahwa kedekatan kepada Allah harus selalu dibingkai dengan ketundukan mutlak pada syariat Nabi SAW.

Momen kekhusyukan di pesarehan ini merajut simpul sanad ruhani yang mendalam, berharap agar ketulusan para wali terdahulu dapat menitis ke dalam dada para pengemban dakwah di Nusantara.

Semoga rangkaian ziarah di bumi para wali ini menjadi asbab turunnya rahmat yang tak terputus. Membawa pulang oleh-oleh mahabbah Rabi’ah, makrifat Dzun Nun, dan hikmah kesucian jiwa Abū ‘Alī al-Rudzbarī untuk terus menghidupkan dan menyuburkan ruh dakwah di pondok pesantren tercinta. Amin, ya rabbal ‘alamin.

Kontributor: Achmad Husen

#RihlahSpiritual #ZiarahKairo
#KiaiAbdulHamid
#BukitRajawali
#BaitulQuran
#RabiahAlAdawiyah #DzunNunAlMishri #AbuAliAlRudzbari #Tasawuf #SejarahIslam #PesantrenLampung #Mahabbah