
Semarak Selamatan Desa ke-99 di Pekon Podomoro: Kiai Abdul Hamid Kupas Rahasia Angka 99 dan Spirit Hijrah
Pringsewu,– Masyarakat Dusun II Pekon Podomoro, Kabupaten Tanggamus, menyambut tradisi “Suran” dengan khidmat dan meriah. Gelaran bertajuk “Selamatan Desa ke-99” ini menjadi momentum memperkuat tali silaturahmi serta spiritualitas warga setempat.
Rangkaian acara yang dipusatkan di halaman kediaman Bapak Hendro ini diawali dengan panggung seni budaya pada Jumat malam (3/7/2026). Pentas seni yang menampilkan suguhan estetis penuh pesan moral tersebut berhasil memukau warga. Setiap bait syair dan gerak seni yang ditampilkan mengandung nasihat kehidupan, mengajak audiens merenungi hakikat pengabdian dan kerukunan.
Kemeriahan acara semakin lengkap dengan kehadiran puluhan santri dari PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali. Kehadiran para santri tidak sekadar meramaikan, melainkan menjadi simbol dukungan generasi muda dalam melestarikan tradisi dan menjaga kesinambungan nilai religius di Pekon Podomoro.
Dalam sambutannya, Pengasuh PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I, Al-Hafizh, menyampaikan rasa haru dan bangganya. “Saya merasa sangat bersyukur dan terhormat dapat diterima sebagai bagian dari keluarga besar warga Pekon Podomoro. Semoga kehadiran saya dan para santri Al-Husna di sini membawa manfaat dan keberkahan bagi kita semua,” ungkap Kiai Hamid dengan hangat.
Memasuki sesi tausiyah, Kiai Hamid mengajak masyarakat merefleksikan usia desa yang telah menginjak angka 99 tahun. Beliau membedah filosofi mendalam angka 99 dalam kacamata ilmu hikmah dan Abajadun.
“Angka 99 merupakan simbol Asmaul Husna. Namun, jika kita melihatnya dari perspektif lain, angka ini bisa dibalik menjadi 66, yang dalam hitungan Abajadun merujuk pada lafadz Allah. Ini adalah pengingat agar setiap langkah pembangunan desa kita selalu berlandaskan pada keridaan Allah SWT,” jelasnya.
Lebih lanjut, Kiai Hamid memberikan pandangan filosofis tentang nama desa ini. “Nama Podomoro, yang berarti Podo Teko (semua datang), mengandung isyarat masa depan yang besar. Warga Podomoro harus bersiap, karena desa ini akan menjadi titik temu dan tempat berkumpulnya orang dari berbagai daerah. Lihat saja santri-santri kita, mereka datang dari luar Lampung, bahkan lintas provinsi untuk menuntut ilmu di sini. Ini pertanda bahwa Podomoro akan menjadi pusat keberkahan yang terbuka bagi siapa saja yang datang dengan niat baik,” tutur Kiai Hamid yang disambut takzim oleh jamaah.
Di momen tahun baru Islam ini, beliau juga berpesan agar warga menjadikan semangat hijrah sebagai pintu perbaikan diri. Sebagai penguat spirit, beliau mengaitkan bulan Juli dengan filosofi yang harus dipegang teguh oleh warga:
Jaga: Senantiasa menjaga kerukunan, persatuan, dan nilai luhur desa.
Usaha: Terus berikhtiar dan bekerja keras memajukan ekonomi serta kesejahteraan desa.
Lillah: Segala pengabdian dan pembangunan desa diniatkan semata-mata karena Allah SWT.
Rangkaian acara ini berlanjut pada Sabtu malam (4/7/2026) dengan pagelaran seni Wayang Kulit dan Campursari lakon “Puntodewo Suci” oleh Ki Dalang Supardi Romo Putro. Kegiatan yang diinisiasi panitia setempat dan mendapat dukungan penuh dari Kepala Pekon Podomoro, Bapak Supriyo ini, menjadi bukti nyata bahwa tradisi dan agama dapat berjalan beriringan dalam membangun masyarakat yang religius, berbudaya, dan harmonis.
Kehadiran santri dan antusiasme masyarakat diharapkan menjadi energi positif bagi kemajuan Pekon Podomoro, sesuai dengan semangat kebersamaan yang terus dijaga oleh warga Dusun II
( Kontributor: Achmad Husen)