
Rihlah di Bawah Langit Giza: Menunggang Unta Padang Pasir dan Mengais Makna Ruhaniah Al-Qashwa’
GIZA, MESIR —jumat, 18 September 2026, Hamparan pasir keemasan Giza yang berbisik ditiup angin gurun menyimpan saksi bisu atas rangkaian perjalanan seorang musafir agung. Pengasuh Pondok Pesantren Tahfizhuk Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali sekaligus PPM Baitul Qur’an, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., al-Hafizh, melanjutkan rihlah ilmiyah dan ruhaniahnya dengan sebuah pengalaman batin yang unik: menaiki unta mengitari kawasan megah piramida.
Langkah demi langkah tegap sang hewan gurun membawa lamunan sang kiai melayang jauh menembus lorong sejarah. Pemandangan ini menghadirkan memori batin yang karib dengan denyut perjuangan di tanah air. Di pesantren yang beliau asuh, terdapat sebuah bangunan kelas kebanggaan yang dinamai Al-Qashwa’—mengabadikan nama unta kesayangan Baginda Nabi Muhammad SAW.
Menatap langsung postur agung unta yang ditumpanginya, batin sang kiai tertegun dalam permenungan tasawuf yang mendalam, menghubungkan kebesaran ciptaan Allah SWT dengan pesan-pesan abadi di dalam Al-Qur’an.
Keberadaan unta di padang pasir bukan sekadar sarana transportasi purba, melainkan salah satu ayat kauniyah terbesar yang Allah SWT abadikan di dalam Kitab Suci-Nya. Allah berfirman dalam Surah Al-Ghasyiyah ayat 17:
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan?”
Ayat ini secara khusus menyeru akal manusia untuk merenungkan keunikan fisiologis dan mental seekor unta. Hewan ini dianugerahi ketahanan luar biasa menghadapi terik panas gurun yang membakar, mampu berjalan berhari-hari tanpa air, serta memiliki kesabaran yang luar biasa di bawah beban berat sekalipun.
Mengupas kedalaman ayat tersebut melalui kacamata pakar tafsir yang masyhur dengan keindahan sastra bahasanya, Imam Abul Qasim Mahmud bin Umar az-Zamakhsyari dalam kitab tafsirnya, Al-Kasysyaf ‘an Haqa’iq Ghawamid al-Tanzil, memberikan penjelasan yang sangat memukau.
Imam az-Zamakhsyari menjelaskan bahwa penggunaan kata al-ibil (unta) secara khusus dalam ayat ini—mendahului penyebutan langit, gunung, dan bumi pada ayat-ayat sesudahnya—mengandung isyarat sastra dan teologis yang sangat tinggi:
➢Bukti Kekuasaan yang Paling Dekat dengan Kehidupan Arab: Unta adalah aset paling berharga, penopang kehidupan ekonomi, sekaligus teman setia masyarakat padang pasir. Dengan segala keistimewaan fisiknya, unta menjadi manifestasi paling nyata dari kekuasaan Sang Pencipta dalam merancang makhluk yang adaptif terhadap ekstremnya alam.
➢Refleksi Kesabaran dan Kepatuhan: Dalam analisis sastra Al-Kasysyaf, penciptaan unta mengajarkan manusia tentang ketahanan (tahammul). Hewan berukuran besar ini tunduk di bawah kendali penuntunnya, melangkah tenang di atas pasir yang ganas, mengajarkan kepada para musafir kehidupan bahwa perjalanan panjang menuju ridha Allah membutuhkan keteguhan hati, daya tahan mental, dan kepatuhan mutlak kepada Sang Maha Pengatur.
Menyaksikan padang pasir Giza dari atas punggung unta, jiwa sang kiai merajut benang merah antara nama agung unta Nabi, Al-Qashwa’, dengan denyut nadi pendidikan di pesantren. Sebagaimana unta Al-Qashwa’ yang setia mengantarkan Rasulullah SAW dalam berbagai momen historis penting—termasuk penentuan tempat berdirinya Masjid Nabawi—nama tersebut disematkan pada ruang kelas di pondok dengan harapan agar para santri kelak memiliki ketahanan mental, daya juang yang tangguh, serta kesabaran baja dalam mengarungi samudera ilmu agama.
Rihlah ini mengajarkan satu hikmah agung: bahwa setiap jengkal ciptaan Allah di muka bumi, dari megahnya piramida hingga sabarnya seekor unta di padang pasir, adalah sekolah kehidupan bagi seorang musafir yang senantiasa menautkan hatinya kepada Allah SWT.
#RihlahIlmiah #UntaAlQashwa #TafsirAlKasysyaf #GizaPyramids #KiaiKampungMenembusBatas #PPTQAlHusna
#Bukitrajawali
#PonPesTerberisihSeLampung
#BaitulQuran #TasawufNusantara #MusafirMustajab