
Jejak Hati di Bawah Bayang-Bayang Piramida: Tasawuf Huruf Mishr dan Tafsir Al-Awtad dari Negeri Para Nabi
GIZA, MESIR — Langkah kaki sang musafir agung, pengasuh Pondok Pesantren Tahfizhul Quran (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali sekaligus PPM Baitul Qur’an, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., al-Hafizh, terus berlanjut menembus lorong waktu di tanah para anbiya. Hari ini, rihlah ruhaniah beliau membuncah menuju tanah bersejarah Giza, menyaksikan dari dekat megahnya bangunan agung yang membentang di ufuk gurun: Piramida dan patung megah Sphinx.
Piramida di dataran tinggi Giza dibangun pada era Kerajaan Lama Mesir (Dinasti Keempat), yaitu sekitar tahun 2550 hingga 2490 SM (sekitar 4.500 tahun yang lalu). Kompleks utama ini terdiri dari tiga bangunan megah dengan ukuran dan dimensi yang luar biasa:
1) Piramida Khufu (The Great Pyramid): Piramida terbesar, tertinggi, dan tertua yang dibangun oleh Firaun Khufu. Dengan tinggi asli mencapai 146,6 meter (saat ini sekitar 138,5 meter) dan panjang sisi dasar 230,3 meter, bangunan agung ini tersusun dari jutaan blok batu raksasa dan sempat memegang rekor sebagai bangunan tertinggi di dunia selama ribuan tahun.
2)Piramida Khafre: Dibangun oleh putranya, Firaun Khafre, dengan tinggi asli 143,5 meter dan panjang sisi dasar 215,5 meter. Piramida ini memiliki ciri khas berupa sebagian lapisan batu kapur asli yang masih bertahan kokoh di puncaknya.
3)Piramida Menkaure: Piramida terkecil dari tiga struktur utama, dibangun oleh Firaun Menkaure dengan tinggi asli 65,5 meter serta sentuhan batu granit merah di bagian bawahnya.
Tak jauh dari sana, berdiri gagah patung Sphinx (Abu Hol) yang dipahat dari batu kapur alami pada era yang sama, sekitar tahun 2500 SM, di bawah kekuasaan Firaun Khafre. Patung berbadan singa dengan kepala manusia ini menyimbolkan perpaduan antara kekuatan fisik yang tangguh (singa) serta kebijaksanaan dan intelek manusia (kepala penguasa).
Berdiri di hadapan mahakarya dunia yang berdiri kokoh ribuan tahun, pandangan sang kiai menerawang jauh melintasi sejarah. Piramida bukan sekadar tumpukan batu raksasa yang membisu, lautan batu-batu itu seakan berbisik tentang kefanaan dunia dan keperkasaan Sang Pencipta. Menatap langsung bentuk geometrisnya yang meruncing ke langit, batin beliau langsung tertegun pada ayat-ayat kauniyah yang menegaskan betapa kecilnya manusia di hadapan kebesaran Allah SWT.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Fajr ayat 9-10:
وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ
“Dan (terhadap) Firaun yang mempunyai pasak-pasak (bangunan yang kukuh).”
Mengupas kedalaman ayat tersebut, Imam al-Qurthubi di dalam kitab tafsirnya, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, menjelaskan bahwa para ulama tafsir menguraikan makna kata al-awtad (pasak-pasak) yang dinisbahkan kepada Firaun ke dalam beberapa pandangan:
a) Pendapat Ibnu Abbas RA: Bahwa yang dimaksud dengan al-awtad adalah para tentara dan bala bantuan yang memperkuat serta mengokohkan singgasana kekuasaannya, bagaikan pasak-pasak yang menancap kuat untuk menegakkan sebuah tenda.
b)Alat Penyiksaan Keji: Sebagian ulama menjelaskan bahwa Firaun dijuluki dzi al-awtad karena ia memiliki tradisi keji menyiksa manusia dengan cara membeberkan tangan dan kaki mereka pada empat buah pasak yang ditancapkan ke tanah hingga wafat—seperti siksaan yang ia timpakan kepada istrinya sendiri, Asiah binti Muzahim, serta Masyithah.
c)Siksaan Batu Raksasa: Sebagaimana riwayat dari Abdurrahman bin Zaid, dikisahkan pula tentang penggunaan pasak besi di sekeliling korban yang dibentangkan di tanah, lalu dijatuhi batu besar dengan bantuan katrol.
Piramida dan jejak sejarah di Giza berdiri sebagai saksi bisu atas silih bergantinya peradaban manusia, mengingatkan setiap musafir bahwa sehebat apapun monumen kekuasaan dibangun, hanya keimanan dan amal saleh yang kekal abadi di sisi Allah SWT.
Menyusuri hembusan angin padang pasir Giza, permenungan sang kiai semakin larut dalam keindahan bahasa dan hikmah tasawuf. Nama مصر (Mishr)—Negeri Mesir—yang terukir indah dalam sejarah ternyata menyimpan rahasia makna ilahiah yang tersusun dari tiga huruf hijaiyah: Mim (م), Shad (ص), dan Ra (ر).
Sebuah hikmah makrifat yang menyejukkan jiwa terungkap dari ketiga huruf tersebut:
➢Huruf Mim (م) — Mushibah, Maslahah, wa Imtihan
Huruf pertama ini menyimbolkan setiap takdir kehidupan yang harus dilewati manusia; mulai dari ujian, musibah, hingga berbagai problema dan dinamika maslahah yang silih berganti menghampiri hamba-Nya di muka bumi.
➢Huruf Shad (ص) — Shabr
Huruf kedua adalah kunci keteguhan: kesabaran. Bahwa di tengah datangnya segala ujian dan musibah, tidak ada jalan lain bagi seorang mukmin selain melangkah dengan shabr—ketulusan, ketegaran, dan keindahan kesabaran dalam menghadapi serta menjalani setiap ketetapan-Nya.
➢Huruf Ra (ر) — Rahmah
Dan buah manis dari kesabaran menghadapi ujian berbalut ridha itu tidak akan pernah sia-sia. Allah SWT menjanjikan huruf ketiga: Rahmah—curahan kasih sayang, ampunan, serta keberkahan hidup yang melimpah ruah bagi hamba-hamba-Nya yang sabar.
Begitulah hakikat kehidupan seorang musafir di dunia. Bahwa hidup di bumi Mesir—bahkan hidup di dunia secara keseluruhan—adalah perjalanan merajut sabar di tengah ujian demi menggapai luasnya rahmat Allah SWT.
Kontributor: Achamd Husen
#GizaPyramids #SphinxGiza #TafsirAlQurthubi #FilosofiMishr #RihlahIlmiah #KairoMesir #PPTQAlHusna
#Bukitrajawali #BaitulQuran #TasawufNusantara #MusafirMustajab
#Pejuangalquran