
Melompati Garis Waktu: Niat Awal 2028, Pengasuh PPTQ Al-Husna Berangkat ke Mesir dan Umrah 2026
Suekarno Hatta,
Deru mesin burung besi Lione Air yang lepas landas dari Bandara Internasional Radin Inten II Lampung mengawali lembaran perjalanan sarat makna. Di dalam kabin pesawat, sebuah pengalaman batin yang teramat mengharukan bergemuruh di dada Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., al-Hafizh, Pengasuh Pondok Pesantren Tahfizhuk Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali dan PPM Baitul Qur’an.
Hari ini, Rabu (17/9/2026), beliau bertolak menuju Jakarta didampingi oleh istri tercinta serta kedua buah hatinya, Gus Muhammad Fatih al-Hamidy dan Gus Muhammad Syafiq al-Hamidy. Setibanya di Jakarta nanti, sang istri dan anak-anak tercinta akan kembali, sementara Kiai Abdul Hamid akan melanjutkan langkah sucinya seorang diri menyeberang menuju Mesir dan Tanah Suci untuk menunaikan ibadah umrah.
Ada tetesan haru dan binar bahagia yang tak mampu disembunyikan tatkala sang buah hati merasakan pengalaman pertama menaiki pesawat terbang. Selama ini, setiap kali melintasi bandara atau melihat miniatur Kakbah di sudut jalan mana pun, lisan mungil mereka selalu terlatih berhenti, menengadah, dan memanjatkan doa yang sama.
Kini, doa-doa masa kecil itu menjelma menjadi nyata saat mereka duduk bersama di kabin pesawat. Terucap kalimat penuh kepolosan dan ketulusan dari lisan sang anak:
“Ya Allah, kami sekeluarga saat ini sudah benar-benar berada di dalam pesawat… Walau baru sampai Soekarno-Hatta, hantarkanlah kami terus menuju tanah suci-Mu ya Rabb…”
Sebuah potret penanaman tauhid dan ikhtiar batin yang luar biasa, mengajarkan bahwa mimpi besar harus dipupuk sejak dini melalui lisan yang senantiasa basah dengan doa. Di Jakarta pula, rute kebersamaan keluarga ini akan berlanjut dengan perpisahan sementara; istri dan buah hati mengantar kepulangan ayah tercinta hingga gerbang keberangkatan internasional di terminal 3 suekarno Hatta nanti nya beliau menggunakan pesawat Egypt Air, melepas Sang Kiai terbang seorang diri mengemban misi suci ke bumi para Anbiya’.
Perjalanan seorang diri ini menyimpan rahasia takdir Ilahi yang melampaui perhitungan akal manusia. Semula, dalam catatan azam (tekad) Sang Pengasuh, niat melangkahkan kaki ke Mesir baru dicanangkan pada tahun 2028 mendatang. Agenda utamanya begitu mulia: memberikan support langsung kepada sahabat terdekat beliau, Ust. Amrullah, yang dijadwalkan menghadapi ujian sidang Doktor (promosi disertasi) di sana. Target awal untuk umrah gabung Mesir pun dipatok pada tahun 2027.
Namun, Allah Azza wa Jalla berkehendak lain.
Garis tangan melompati waktu; atas izin-Nya, pintu keberangkatan itu justru dibuka lebar-lebar lebih awal pada tahun 2026 ini—tepat pada tanggal 17 September. Sebuah bukti nyata bahwa ketika Allah memanggil, skenario manusia tunduk pada ketetapan terbaik-Nya.
Mesir bukan sekadar destinasi persinggahan, melainkan rahim peradaban Islam dan pusat ilmu dunia tempat bersemayamnya Universitas Al-Azhar Al-Syarif. Menapakkan kaki seorang diri di sana adalah wujud nyata dari ketulusan niat memperluas cakrawala berpikir, merespons panggilan ilmu, dan membawa pulang inspirasi besar bagi generasi muda di tanah air.
Langkah penuh rindu ini kian sempurna dengan merenungkan firman Allah SWT dalam Surah Al-Mulk yang mengisyaratkan keagungan alam semesta dan luasnya bentangan bumi bagi hamba yang mau berjalan mencari petunjuk-Nya:
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk: 15)
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa Allah SWT telah membentangkan bumi dengan segala kemudahannya agar manusia dapat melangkah, merantau, menuntut ilmu, dan menebar kebaikan. Setiap perjalanan melintasi batas negeri—baik menuju majelis ilmu di Mesir maupun berziarah ke Baitullah—adalah bentuk nyata mentadabburi keluasan ciptaan Allah, menjemput rezeki berupa pengalaman batin dan hikmah, serta menyadari bahwa seluruh ikhtiar manusia pada akhirnya akan bermuara kepada-Nya.
Semoga Allah SWT merahmati perjalanan Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., al-Hafizh yang melangkah sendiri menembus batas negeri, melancarkan urusan sahabat beliau di Mesir, menganugerahkan umrah yang mabrur, serta senantiasa dalam lindungan-Nya hingga kembali membawa pulang berkah yang menular terutama 3 M nya benar-benar wujud menjadi 3 Milyar sehingga dapat di gunakan untuk melanjutkan pembangunan dan fasilitas bagi seluruh santri PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali dan PPM Baitul Qur’an. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Kontributor : Achamd Husen
#PPTQAlHusna #PPMBaitulQuran #KHAbdulHamid
#PikiranmuTaqdirmu
#PelepasanUmrah #MesirMadinahMekkah #SantriAlHusna #KisahInspiratif #BeritaPesantren