
Menusuk Arus Abadi: Menyantap Hidangan di Atas Nil dan Menyelami Dahsyatnya Ayat Keselamatan
KAIRO, MESIR — Gelombang peradaban di bumi Mishr tidak pernah berhenti menawarkan teka-teki iman dan tasawuf sejarah. Di tengah rihlah ilmiyah yang padat, langkah musafir agung pengasuh Pondok Pesantren Tahfizhuk Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali sekaligus PPM Baitul Qur’an, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., al-Hafizh, melangkah menuju episode yang paling syahdu sekaligus penuh permenungan: menyusuri urat nadi kehidupan bangsa Mesir, Sungai Nil.
Siang itu, perjalanan sang kiai dikemas dalam kehangatan yang tak biasa. Beliau melanjutkan agenda makan siang di atas sebuah kapal yang membelah kelembutan air Sungai Nil (Nile Cruise).
Bukan sekadar menikmati jamuan kuliner di atas geladak yang mengapung, panggilan jiwa seorang murabbi membawanya turun langsung menginjakkan kaki di pinggiran sungai terpanjang di dunia ini.
Di tepian air yang legendaris itu, beliau meresapi sebuah keyakinan dan doa kultural yang mashur di kalangan masyarakat Mesir: barang siapa orang asing yang meminum air mentah Sungai Nil, maka suatu saat ia pasti akan kembali lagi ke tanah Mesir.
Dengan tangannya sendiri, beliau menyentuh, menciduk, dan meminum langsung air Sungai Nil yang keramat, menyatu dengan tradisi dan doa para musafir yang merindukan berkah bumi Mishr.
Berbicara tentang Nil berarti berbicara tentang hidup mati bangsa Mesir. Sejak ribuan tahun lalu, sungai ini telah menjadi nyawa yang menyuburkan tanah tandus, tempat peradaban tertua dunia bersemi hingga dijuluki Ummu Dunya (Ibu Dunia).
Kemuliaan air Nil bukan sekadar isapan jempol sejarah, melainkan ditegaskan langsung oleh lisan mulia Nabi Muhammad ﷺ. Keutamaan sungai ini terekam dalam riwayat sahih dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, di mana Rasulullah ﷺ bersabda dalam Shahih Muslim (Kitab Al-Jannah wash Sifat Na’imiha wa Ahliha, Bab Fi Ba’qi Anhar Al-Jannah, no. 2839):
صَيْحَانُ، وَسَيْحَانُ، وَالنِّيلُ، وَالْفُرَاتُ، كُلٌّ مِنْ أَنْهَارِ الْجَنَّةِ
“Saihan, Saihan, Nil, dan Eufrat, semuanya adalah termasuk sungai-sungai surga.”
Bahkan, dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, kemuliaan itu semakin ditegaskan tatkala Rasulullah ﷺ diperlihatkan secara maknawi sumber air di Sidratul Muntaha. Dalam Shahih Al-Bukhari (Kitab Al-Manaqib dan Bad’ul Khalq) serta Shahih Muslim (Kitab Al-Iman), Nabi ﷺ bersabda:
فَارْتَفَعْتُ بِإِلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى، فَإِذَا نَهْرُ بَارِجَةَ وَنَهْرُ أُمّ الْحَيَاةِ وَالنِّيلُ وَالْفُرَاتُ تَخْرُجُ مِنْ أَصْلِهَا، فَسَأَلْتُ جِبْرِيلَ فَقَالَ: أَمَّا النَّهْرَانِ الْبَاطِنَانِ فَنَهْرَانِ فِي الْجَنَّةِ، وَأَمَّا النَّهْرَانِ الظَّاهِرَانِ فَالْنِّيلُ وَالْفُرَاتُ
(Lalu aku diangkat menuju Sidratul Muntaha. Tiba-tiba di pangkalnya memancar Sungai Barijah, Sungai Ummul Hayah, Nil, dan Eufrat. Aku pun bertanya kepada Jibril, lalu ia menjawab: “Adapun dua sungai yang tersembunyi (batin) adalah dua sungai di surga, sedangkan dua sungai yang tampak (zahir) adalah Nil dan Eufrat.”)
Keagungan ini turut diabadikan oleh seorang wali dan ulama besar, Imam Tajuddin As-Subki, dalam bait syairnya yang masyhur:
وَأَفْضَلُ الْمِيَاهِ مَاءٌ قَدْ نَبَعْ * مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِ النَّبِيِّ الْمُتَّبَعْ
يَلِيهِ مَاءُ زَمْزَمٍ فَالْكَوْثَرُ * فَنِيلُ مِصْرَ ثُمَّ بَاقِي الْأَنْهُرِ
(Air terbaik adalah yang memancar dari jari-jari Nabi yang diikuti, kemudian air Zamzam, lalu Al-Kautsar, Sungai Nil di Mesir, dan kemudian sungai-sungai lainnya).
Berdiri di tepi aliran Nil, batin sang kiai larut dalam permenungan teologis yang amat dalam. Sungai ini bukan sekadar aliran air, melainkan saksi bisu atas takdir Allah yang mempermainkan logika manusia. Di sinilah lembaran kisah agung Nabi Musa AS diukir oleh sunnah Allah.
Ketika tirani Firaun berada di puncaknya—membantai setiap bayi laki-laki Bani Israil—Allah SWT justru memerintahkan ibunda Nabi Musa dengan titah yang secara akal penuh dengan risiko maut. Peristiwa dramatis ini diabadikan dalam Surah Al-Qashash ayat 7:
وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّ مُوسَىٰ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي ۖ إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ
“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: ‘Susuilah dia, dan apabila engkau khawatir terhadapnya, maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang dari para rasul’.”
Secara kasat mata, menghanyutkan bayi ke sungai adalah bentuk keputusasaan. Namun, dengan ketaatan mutlak dan tawakal tingkat tinggi, arus Sungai Nil yang ganas berubah menjadi eskalator penyelamatan. Air yang ditakuti justru mengantarkan Musa kecil langsung ke pelukan istana musuhnya—diberi makan, dibesarkan di bawah atap sang tiran, sebagai strategi langit yang paling sempurna untuk meruntuhkan kekuasaan Firaun dari dalam.
Sebaliknya, bagi Firaun yang sombong dan mengaku tuhan, air Sungai Nil yang sama menjadi instrumen pemusnahan yang menghinakan, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 50: “Dan (ingatlah) ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan Firaun dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.”
Berabad-abad setelah era kenabian, tatkala Islam telah memeluk bumi Mesir di bawah kepemimpinan gubernur bijak sahabat ‘Amru bin ‘Ash, sisa-sisa tradisi jahiliyah masih membayangi. Ketika Sungai Nil mengalami surut ekstrem dan nyaris mengering, masyarakat setempat berniat menghidupkan kembali ritual kuno: mempersembahkan seorang gadis perawan untuk dilemparkan ke dasar sungai agar airnya kembali mengalir.
Mendengar kemungkaran itu, ‘Amru bin ‘Ash menolak dengan tegas: “Ini termasuk perkara yang tidak boleh lagi terjadi di masa Islam, sesungguhnya Islam datang untuk menghancurkan kebiasaan buruk sebelumnya.” Beliau lantas bersurat kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab di Madinah.
Mendengar laporan tersebut, Khalifah Umar mengirimkan balasan monumental yang berisi secarik surat untuk dilemparkan ke tengah sungai:
بسم الله، من عبد الله أمير المؤمنين عمر بن الخطاب إلى نيل مصر، وبعد: إن كنت تجري من قبلك، فلا تجري، وإن كنت تجري بإذن الله وأمره وقدرته، فاسأل الله تعالى أن يجريك.
(Bismillahir rahmanir rahim, dari hamba Allah, Amirul Mukminin Umar bin Khattab, kepada Nil Mesir. Amma ba’du: Jika engkau mengalir dari sisimu sendiri, maka janganlah mengalir. Namun, jika engkau mengalir atas perintah, izin, dan kekuasaan Allah Yang Maha Esa, maka kami memohon kepada Allah agar Dia mengalirkanmu kembali.)
Surat itu dilemparkan, dan atas izin Allah, seketika itu juga Sungai Nil kembali menderu, melimpahkan airnya dengan deras. Sebuah bukti abadi bahwa alam tunduk mutlak pada tauhid, bukan pada sesaji dan ketakutan manusia.
Menyaksikan aliran Nil sambil meneguk airnya secara langsung dan membawa harapan untuk kembali, Dr. KH. Abdul Hamid menyerap kearifan agung: bahwa hidup manusia bagaikan aliran sungai ini. Apa yang ditakuti bisa berubah menjadi rahmat keselamatan di tangan iman, dan apa yang dibanggakan bisa menjadi kuburan kebinasaan di tangan kesombongan.
Kontributor: Achamd Husen
#SungaiNile #RihlahMesir #KisahNabiMusa #KaramahUmar #PPTQAlHusna #BaitulQuran #TasawufNusantara #MishrAlUmm
#BukitRajawali
#Pejuangalquran
#Tadabburalam