
GEMURUH “JAZ HIJAU” DI BUKIT RAJA WALI
Menerpakan Cahaya Gurumu, Meneguhkan Langkah dengan Bercermin Kitab dan Bertongkat Pena
PODOMORO, PRINGSEWU — Selasa 20 Oktober 2026, sang fajar terbit membelah kabut tipis di hamparan Bukit Raja Wali, Podomoro. Di Halaman Putra Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna, ketenangan pagi berubah menjadi samudera khidmat yang menggetarkan jiwa.
Ratusan santri berpakaian serba putih, jajaran pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Pringsewu, derap langkah mungil para siswa dan pendidik PAUD Insan Cemerlang, serta kehadiran anggun Ibu-Ibu Muslimat NU yang dibalut busana serba hijau berbaris rapi dalam satu shaf yang kokoh. Warna hijau khas Muslimat dan NU berpadu indah dengan putihnya pakaian santri, menjelma menjadi simbol keteduhan, kedamaian, dan keteguhan perjuangan di bawah kibaran sang Merah Putih serta panji Nahdlatul Ulama yang berkibar gagah diterpa angin perbukitan.
Bertindak sebagai Pembina Upacara, Pengasuh PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali sekaligus akademisi, Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., al-Hafizh.
Anggun dan kharismatik, sang pengasuh berdiri tegak di atas mimbar upacara dengan mengenakan jas berwarna hijau khas Nahdliyin—sebuah wujud visual yang selaras dan mempertegas pesan utama yang beliau gaungkan di hadapan ratusan jamaah.
Dengan suara yang mantap dan sarat kedalaman makna, beliau menggemakan narasi besar bertajuk “Jas Hijau: Jangan Sekali-kali Hilangkan Jasa Ulama!”.
Dalam amanatnya yang memukau ratusan pasang mata, Dr. KH. Abdul Hamid menegaskan bahwa “Jas Hijau” bukan sekadar slogan atau warna pakaian yang dikenakan, melainkan ikrar suci sanubari warga Nahdliyin—termasuk keteguhan Ibu-Ibu Muslimat yang tak pernah lelah menjaga benteng keluarga dan syiar Nahdliyin—untuk menjaga sanad keilmuan dan perjuangan para kiai.
“Jika sejarah bangsa memahat narasi Jas Merah, maka di tempat yang penuh berkah ini kita mematri Jas Hijau! Kemerdekaan ini tidak berdiri di atas tanah kosong, melainkan ditegakkan di atas air mata, darah, dan doa khusyuk para ulama dan santri,” pangkas beliau diiringi keheningan peserta upacara.
Beliau kemudian menyitir kaidah hikmah klasik tentang simbiotik agama dan negara:
اَلدِّيْنُ أُسٌّ وَالسُّلْطَانُ حَارِسٌ، فَمَا لَا أُسَّ لَهُ فَمَهْدُوْمٌ، وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ فَضَائِعٌ
“Agama adalah fondasi, sedangkan negara adalah penjaganya. Sesuatu yang tak berfondasi akan roboh, dan sesuatu yang tak berpenjaga akan sirnah.”
Melintasi paparan angin Bukit Raja Wali, pesan-pesan spiritual beliau mengalir membasahi sanubari seluruh elemen peserta upacara yang hadir:
Pertama, Mengingatkan sanad keilmuan yang tak boleh terputus, beliau menyampaikan maqolah agung:
فَإِنَّ كُلَّ مُرِيدٍ نُورُهُ مُسْتَمَدٌّ مِنْ نُورِ شَيْخِهِ
“Sesungguhnya setiap santri, cahayanya dipancarkan dan ditimba dari jernihnya cahaya sang guru.”
Beliau berpesan agar para santri takzim dan menjaga keridhaan para kiai dan asatidz, karena dari situlah pintu keberkahan ilmu akan terbuka lebar.
Kedua, kepada jajaran pengurus MWC NU Pringsewu, Ibu-Ibu Muslimat NU, serta segenap warga Nahdliyin, beliau memicu gelora pengabdian melalui kaidah:
مَنْ خَدَمَ خُدِمَ
“Barangsiapa yang tulus melayani, maka Allah sendiri yang akan melayani dan memuliakannya.”
Melayani umat melalui jam’iyyah NU dan Muslimat adalah jalan kemuliaan yang takkan pernah sia-sia.
Ketiga, kepada ratusan santriwan-santriwati serta anak-anak PAUD Insan Cemerlang sebagai tunas masa depan, beliau menekankan pentingnya keteguhan:
مَنْ ثَبَتَ نَبَتَ
“Barangsiapa yang teguh dan sabar meniti jalan tirakat, maka ia akan tumbuh menjadi pohon rindang yang berbuah manis.”
Sebagai penutup amanatnya yang menggetarkan, Dr. KH. Abdul Hamid menitipkan sebuah ajakan filosofis yang sangat mendalam bagi santri zaman ini:
“Di era gelombang peradaban modern ini, jadilah santri yang senantiasa BERCERMIN PADA KITAB dan BERTONGKAT PENA. Jadikan kitab-kitab turats sebagai cermin akhlak dan penuntun jalanmu, lalu jadikan pena, ilmu pengetahuan, serta teknologi sebagai tongkat penguat langkahmu membela agama dan bangsa!”
Kebersamaan
Usai barisan upacara dibubarkan dengan tertib, suasana penuh keakraban berlanjut menuju Aula Hud-Hud PPTQ Al-Husna. Di tempat ini, jajaran pengurus MWC NU Pringsewu, jajaran Syuriah dan Tanfidziyah, Ibu-Ibu Muslimat NU, serta para tokoh agama berkumpul dalam majelis ramah tamah dan makan bersama.
Puncak rasa syukur ditandai dengan prosesi pemotongan tumpeng. Sang Pengasuh, Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., al-Hafizh, secara simbolis memotong puncak tumpeng sebagai simbul tasyakur atas nikmat Hari Santri. Potongan tumpeng kehormatan tersebut kemudian diserahkan berturut-turut kepada Rois Syuriah MWC NU Pringsewu, KH. Shodiqin, serta Ketua Tanfidziyah MWC NU Pringsewu, Ustadz Kabul Muliarto.
Momen pemotongan tumpeng ini menjadi simbol manis berpadunya restu kiai, kekuatan jajaran Syuriah, serta semangat gerak Tanfidziyah dalam satu simpul kebersamaan. Acara ramah tamah di Aula Hud-Hud diakhiri dengan santap bersama yang penuh kehangatan, mempererat tali silaturahmi serta mengukuhkan komitmen untuk terus membumikan syiar Nahdlatul Ulama di bumi Pringsewu.
Kontributor: Achamd Husen
#UpacaraHSN2026
#BukitRajaWali
#Pptqalhusna
#BaitulQuran
#NUPringsewu
#Muslimat
#Paud
#SantriNusantara
#PonPesTerbersihSeLampung