Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Hikmah Perjalanan Langit : Pesawat vs Tawakal

Hikmah Perjalanan Langit : Pesawat vs Tawakal

Mesir—30 September 2026, Perjalanan seorang mukmin melintasi batas-batas geografis sejatinya adalah sebuah ekspedisi batin. Pengasuh Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali dan PPM Baitul Qur’an membagikan hikmah mendalam yang dipetik dari rangkaian muhibah spiritual—mulai dari lawatan ke Mesir hingga menunaikan ibadah umrah.

Di hadapan para santri dan pembaca, beliau merefleksikan pengalaman naik pesawat terbang sebagai miniatur perjalanan hidup manusia: mulai dari gerbang keberangkatan dunia, dinamika di dalam kabin, pelajaran menepis kesombongan dari atas ketinggian, ujian turbulensi, hingga pendaratan akhir di hadapan Sang Ilahi.

Di gerbang keberangkatan bandara, setiap insan berdiri dengan debaran. Sebuah paspor digenggam erat sebagai kunci penentu ikhtiar. Jika nama tak cocok atau data diri salah, pintu gerbang itu akan tertutup rapat, menyisakan kepedihan.

Dari sinilah sang pengasuh mengajak santri merenungkan Padang Mahsyar kelak. Di hadapan Sang Penjaga Keabadian, “paspor” manusia adalah Catatan Amal yang dibawa sepanjang hayat. Jika tertata rapi dengan iman dan ketaatan, pintu kemuliaan akan terbuka lebar.

Sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Al-Haqqah ayat 19:

فَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ بِيَمِيْنِهٖ فَيَقُوْلُ هَاۤؤُمُ اقْرَءُوْا كِتٰبِيَهْ

“Maka adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kanannya, maka dia berkata, ‘Ambillah, bacalah kitabku (ini)!’”

Sebagaimana paspor yang harus tervalidasi agar diizinkan naik ke pesawat—kendaraan iman menuju Surga—amal saleh di dunia pun harus selaras dengan standar ridha Allah Swt.

Saat pesawat melesat naik menembus awan, pemandangan di luar memperlihatkan kota-kota besar, gedung bertingkat, dan gunung-gunung yang berubah menjadi sekecil titik debu. Dari ketinggian ribuan kaki, apa yang dulunya tampak megah dan dibanggakan manusia kini tak terlihat lagi bentuk aslinya.

Melalui fenomena ini, sang pengasuh mengingatkan para santri agar tidak pernah berlaku sombong di muka bumi. Ketika kita berada di atas, merasa hebat, kaya, atau berkuasa, ingatlah bahwa di hadapan kebesaran Allah Swt. kita tidak ada apa-apanya. Allah Swt. melarang hamba-Nya bersikap angkuh melalui firman-Nya dalam QS. Al-Isra’ ayat 37:

وَلَا تَمْشِ فِي الْاَرْضِ مَرَحًا ۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُوْلًا

“Dan janganlah kamu berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan kamu sekali-kali tidak akan sampai setinggi gunung.”

Rasulullah saw. juga menegaskan bahaya sifat ini dalam sabdanya:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)
Begitu pula sebaliknya, ketika kita berada di bawah, jangan pernah merasa rendah diri karena kemuliaan di sisi Allah diukur dari ketakwaan, bukan harta atau tahta.

Bergeser ke dalam kabin pesawat, ketenangan mulai merayap seusai verifikasi paspor. Di sana, para pramugari melayani dengan senyum menyejukkan, menyuguhkan hidangan dan buah-buahan segar.
Bagi pandangan spiritual, pemandangan ini menjelma sebagai teater kehidupan.

Kelembutan pelayanan awak kabin adalah prototipe kecil dari bidadari-bidadari Surga yang digambarkan Allah Swt. dalam QS. Al-Waqi’ah ayat 17-18:

يَطُوْفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُوْنَ. بِاَكْوَابٍ وَّاَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَّعِيْنٍ

“Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, ceret dan minuman yang diambil dari air yang mengalir.”

Hidangan di atas pesawat, lanjut beliau, hanyalah “bocoran” kecil dari jamuan agung di Surga kelak, tempat di mana keindahan abadi terus berpijar tanpa pernah hambar.

Namun, perjalanan di udara tak pernah sepi dari guncangan. Saat pesawat dihantam turbulensi hebat, iman diuji di ketinggian. Pandangan sering kali tertuju ke pintu kokpit, melihat sang pilot berikhtiar mengendalikan kemudi seolah penentu hidup dan mati.

Di sinilah kesadaran tauhid dititikberatkan. Turbulensi menyadarkan bahwa pilot hanyalah perantara takdir. Tanpa izin Allah, keahlian manusia luruh seketika. Kepasrahan total (tawakkal) kepada Sang Penguasa Langit dan Bumi menjadi satu-satunya pelabuhan rasa aman, sebagaimana janji-Nya dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28:
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram.”

Ketika pesawat akhirnya mendarat dengan mulus, tersibaklah hakikat perjalanan hidup: menanggalkan segala atribut kesombongan duniawi, dan menyadari bahwa Sang Penciptalah yang mendekap hamba-Nya dengan kasih sayang sejak lepas landas di dunia hingga pendaratan abadi di negeri keabadian.

Kontributor: Achamd Husen

#KHAbdulHamid
#IsyarahLangit
#RihlahIlmiah
#Mesir MadinahAlMunawwarah
#MakkahAl Mukarramah
#PPTQAlHusnaBukit RajiWali
#PesantrenTerbersihSeLampung
#KurikulumLangit
#3M
#JanganSombong

Exit mobile version