Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Merajut Kalam di Puncak Bukit: Kisah Keteguhan dari Bukit Rajawali Pringsewu

Merajut Kalam di Puncak Bukit: Kisah Keteguhan dari Bukit Rajawali Pringsewu

Pringsewu, Bukit Rajawali – Di puncak Bukit Rajawali, Podomoro, Pringsewu, angin bertiup membawa aroma tanah basah dan peluh yang membasuh bumi. Di sana, di bawah kerlip bintang yang malu-malu, sebuah mahakarya peradaban sedang dirajut. Bukan dari kilau emas atau warisan agung para pendahulu, melainkan dari sisa-sisa kesabaran dan untaian istiqomah yang tak pernah putus.

Adalah Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., al-Hafizh dan Nyai Hj. Husnul Fadhilah, M.Pd., al-Hafizhah, sosok di balik berdirinya Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna. Menariknya, mereka bukanlah lahir dari garis keturunan ulama atau kiai masyhur. Mereka adalah dua insan yang memilih jalan sunyi, meretas hutan keraguan, dan membangun rumah cahaya dari nol dengan tangan mereka sendiri.


Malam ini, 9 Juli 2026, suasana di lokasi pembangunan asrama putri begitu syahdu. Sang Kiai dan Nyai tampak hadir di tengah-tengah para santri dan tukang bangunan yang sedang berjuang lembur melakukan pengecoran dak. Kesejukan malam itu kian bertambah dengan hadirnya Pengasuh PPTQ MH, KH Muballighin Adnan, yang didampingi oleh jajaran asatidz. Kehadiran beliau bukan sekadar peninjau, melainkan wujud dukungan moral yang nyata. Di tengah riuh rendahnya pengerjaan, KH Muballighin Adnan menyapa para santri dengan senyum hangat, memberikan doa restu, serta suntikan semangat agar lelah yang dirasakan para pejuang bangunan ini berbuah keberkahan yang berlipat.

Di bawah naungan malam yang beranjak dari tanggal 8 menuju 9, ada filosofi mendalam yang sedang mereka rajut bersama tetesan peluh. Pergantian waktu dari angka 8 ke 9 bukanlah sekadar urutan kalender, melainkan simbol “pematangan”. Dalam tradisi tasawuf, angka 8 sering dikaitkan dengan tsamaniyah (delapan) pintu surga, sementara angka 9 adalah angka tertinggi sebelum kembali ke titik awal (10/sempurna).


Proses yang sedang berlangsung di Bukit Rajawali ini mencerminkan transisi tersebut—sebuah upaya mendaki dari sekadar “ada” menuju “bermakna”. Sebagaimana para santri dan tukang yang tetap terjaga melewati pergantian hari demi menegakkan bangunan fisik, demikian pula Kiai Hamid, Nyai Husnul Fadhilah, serta KH Muballighin Adnan beserta para asatidz sedang mengajarkan bahwa kemuliaan tidak datang dari tidur yang nyenyak, melainkan dari kesadaran untuk terus berjaga di saat orang lain terlelap, demi memastikan fondasi kebaikan bagi masa depan tetap kokoh berdiri.

Bagi mereka, merintis di malam yang larut adalah seni mengolah lelah menjadi lillah. Mereka menghayati betul sabda Baginda Nabi Muhammad SAW:

اَلْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ
“Seorang mukmin yang bergaul dengan orang lain dan bersabar atas gangguan mereka, lebih baik daripada orang yang tidak bergaul dengan orang lain dan tidak bersabar atas gangguan mereka.” (HR. Tirmidzi)


Di tengah gemuruh mesin molen dan sorot lampu darurat, mereka menitipkan harapan besar pada bangunan yang sedang dicor ini. Bukan hanya soal beton dan besi, tapi tentang menanam benih peradaban yang akan dikenang oleh zaman. Dengan kerendahan hati yang mendalam, mereka memanjatkan doa Nabi Ibrahim AS sebagai kompas perjuangan:

وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ
“Dan jadikanlah untukku buah tutur yang baik di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (QS. Asy-Syu’ara: 84)


Di Bukit Rajawali, di antara dinginnya malam dan hangatnya semangat kebersamaan, para tokoh ini membuktikan bahwa untuk membangun “asrama” bagi para penghafal Al-Qur’an, tidak dibutuhkan garis keturunan ningrat, melainkan keturunan semangat yang tak pernah padam dan doa yang terus dipanjatkan hingga melintasi batas masa.


(Kontributor: Achmad Husen)

Exit mobile version