Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Semarak Selamatan Desa ke-99 di Pekon Podomoro: Refleksi Tumpeng, Kenduren, dan Keseimbangan Hidup

Semarak Selamatan Desa ke-99 di Pekon Podomoro: Refleksi Tumpeng, Kenduren, dan Keseimbangan Hidup

Pringsewu, – Masyarakat Dusun II Podomoro, Kabupaten Tanggamus, tengah diselimuti suasana khidmat dalam perayaan “Selamatan Desa ke-99”. Gelaran tahun ini menjadi momentum refleksi mendalam atas nilai-nilai lokal yang bersanding harmonis dengan napas spiritualitas.
Kemeriahan telah dimulai sejak Sabtu siang (4/7/2026), di mana panggung utama telah berdiri megah untuk menyambut pagelaran wayang kulit yang berlangsung maraton hingga malam nanti. Puluhan santri dari PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali turut hadir, membaur bersama masyarakat dalam barisan pengabdian dan pelestarian budaya.
Di tengah rangkaian acara, prosesi sakral kenduri dan pemotongan tumpeng menjadi puncak kebersamaan.

Sebelum memimpin doa, Pengasuh PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I, Al-Hafizh, memberikan nasihat yang menyentuh kalbu.
“Tumpeng ini adalah simbol meTUo seng lemPENG; keluarkanlah yang lurus dari dalam diri. Hendaknya setiap lisan, setiap langkah, dan setiap niat yang terpatri, hanyalah kejujuran yang membentang lurus menuju rida Ilahi,” tutur Kiai Hamid dengan nada puitis.
Beliau pun mengulas makna Kenduren dengan penuh keteduhan. “Kita duduk bersama dalam kenduri untuk belajar bersikap Kendu. Bukan berarti lambat dalam berkarya, melainkan tenang dan bijaksana dalam meniti langkah. Jika kita mampu merawat ketenangan jiwa, maka insyaallah hidup kita akan senantiasa kerREN—memiliki marwah, keberkahan, dan kemuliaan yang berkelanjutan.”

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Hamid memberikan renungan mengenai posisi Dusun II Podomoro sebagai tempat berpijak saat ini. “Dusun II Podomoro ini sejatinya adalah sebuah isyaroh agung tentang keseimbangan. Angka dua melambangkan dualitas kehidupan yang harus kita selaraskan; janganlah kita asyik mengejar duniawi hingga melupakan Allah dan Kanjeng Nabi. Begitu pun dalam berbakti kepada orang tua, Birrul Walidain harus dilakukan kepada ayah dan ibu secara utuh, bukan hanya salah satunya. Keseimbangan inilah yang menjadi fondasi kita berpijak di bumi Podomoro,” pesan beliau.

Sebagai peneguh prinsip keseimbangan tersebut, Kiai Hamid membacakan firman Allah SWT dalam Surah Al-A’raf ayat 10:
وَلَقَدْ مَكَّنَّكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ
“Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami berikan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 10).
“Ayat ini adalah pengingat bagi kita warga Podomoro yang kini menempati lahan penuh berkah ini. Allah telah memberi kita tempat tinggal dan penghidupan, maka jadikanlah syukur sebagai napas kita. Jangan sampai kenikmatan hidup di tanah Podomoro ini membuat kita lupa untuk bersujud dan berbagi kepada sesama,” pungkas beliau.

Doa Penutup dan Kebersamaan

Sebagai pamungkas, Kiai Hamid melangitkan doa dengan khusyuk: “Ya Allah, berkahilah tanah Podomoro ini, jadikanlah ia negeri yang aman, makmur, dan penuh kedamaian. Satukanlah hati kami, muliakanlah orang tua kami, dan berikanlah keberkahan pada setiap keringat dan usaha kami di tempat ini.”
Usai doa dipanjatkan, suasana berubah menjadi sangat hangat. Kiai Hamid bersama para santri kemudian membaur bersama masyarakat setempat untuk makan bersama (kembul bujana) menikmati hidangan tumpeng di lokasi. Tanpa sekat, para ulama, santri, dan warga duduk bersila, mengunyah keberkahan dalam satu nampan yang sama, mempererat tali persaudaraan yang telah terajut selama 99 tahun.

Rangkaian selamatan desa ini akan mencapai puncaknya pada Sabtu malam melalui pagelaran Wayang Kulit dengan lakon “Puntodewo Suci” yang dipandu oleh Ki Dalang Supardi Romo Putro. Kegiatan yang didukung penuh oleh Kepala Pekon Podomoro, Bapak Supriyo, serta panitia setempat ini menjadi bukti nyata bahwa di tanah Podomoro, tradisi adalah akar, dan agama adalah cahaya yang menuntun masyarakat menuju masa depan yang religius dan berbudaya.

( Kontributor: Achmad Husen)

Exit mobile version