
“Huruf Ta’ dan Jejak Tawakkal di Langit Bukit Raja Wali”
Pringsewu-Bukit Raja Wali, Selasa, 7 Juli 2026, Bukit Raja Wali diselimuti semilir angin yang membawa aroma kesyukuran yang begitu pekat. Hari itu, perbukitan yang tenang ini kedatangan dua pasang insan yang baru saja menapaki bahtera rumah tangga, yakni Dewi Ani Lailatul Fadilah beserta suami dan Gus Muhammadun bersama sang istri. Kehadiran mereka seolah menjadi tetesan embun pagi yang menyegarkan, membawa energi baru di tengah semangat pembangunan pondok yang terus membara.
Bagi Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I al-Hafizh, sang pengasuh yang memiliki ketajaman isyaroh, kedatangan kedua pasangan ini bukanlah kebetulan, melainkan pertanda keberkahan—sebuah sinyal bahwa ikatan cinta dan kesucian akan menjadi fondasi kokoh bagi asrama yang tengah diperjuangkan. Dengan langkah mantap, beliau mengajak mereka meninjau langsung kesiapan pengecoran dak lantai 2 asrama putri, memastikan setiap sudut bangunan siap menerima curahan doa dan semen esok hari.
Sore harinya, suasana berubah menjadi lebih khusyuk saat seluruh santri berkumpul di lokasi proyek, mengubah medan pengecoran menjadi ruang munajat. Di atas dak lantai 2, Kiai Hamid dan Ibu Nyai Husnul Fadhilah berdiri bersimpuh, diikuti oleh seluruh santri putra yang turut naik ke atas dak untuk memanjatkan doa, sementara di bagian bawah, barisan santri putri melantunkan dzikir dengan khidmat, bersama-sama menembus cakrawala dengan munajat yang menggetarkan bumi Bukit Raja Wali.
Saat lantunan mujahadah selesai, sebuah kejutan manis datang menyapa; pondok kedatangan kiriman ayam dalam jumlah yang melimpah. Melihat itu, Kiai Hamid tersenyum bijak dan langsung menafsirkan Ayam tersebut sebagai simbol Ayem, sebuah ketenangan hati bagi seluruh santri dan panitia, karena kebutuhan konsumsi untuk lauk pengecoran esok hari telah tercukupi dengan sempurna melalui cara yang tidak disangka-sangka.
Keberkahan sore itu ditutup dengan sebuah momen yang sangat dalam. Saat doa-doa telah melangit, Kiai Hamid berfoto dengan formasi tubuh yang menyerupai huruf hijaiyah ت (Ta’). Bagi beliau, huruf ini adalah simbol dari sebuah ketakjuban yang tak terbendung, sebuah perenungan batin:”Tak ku sangka, tanah ini kini tegak berdiri dengan lantai dua. Tak ku sangka, di tengah keterbatasan, Allah SWT membukakan pintu kemudahan yang tak terduga. Tak ku sangka, amanah umat ini bisa kita jaga hingga ke titik ini.”
Huruf ت tersebut menjadi saksi bisu akan Tawakkal yang sempurna, menegaskan bahwa pengecoran di hari Rabu, 8 Juli 2026, bukan sekadar urusan beton dan besi, melainkan ikhtiar Lillah yang akan diridhai oleh Allah SWT demi lahirnya generasi Qur’ani yang menerangi zaman.
( Kontributor: Achmad Husen)