Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Menjahit Amal di Bawah Langit Teduh Bukit Raja Wali

Menjahit Amal di Bawah Langit Teduh Bukit Raja Wali

Pringsewu, Bukit Raja Wali– Suasana di komplek Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali, Rabu (8/7/2026), terasa begitu khidmat.

Di bawah naungan langit yang redup dan teduh—seolah alam pun turut merestui—puluhan tangan bahu-membahu melakukan pengecoran dak lantai dua asrama putri. Tak ada terik yang membakar, pun tak ada hujan yang menghalangi. Keseimbangan cuaca hari ini menjadi saksi bisu bagaimana sebuah niat mulia dimudahkan oleh Sang Pencipta.

Pengecoran ini menjadi panggung kolaborasi lintas pesantren yang mengharukan. Solidaritas mengalir deras dari berbagai penjuru: sebanyak 50 santri dari PPTQ al-Mukhlis pimpinan KH. Rofiuddin Mahfudz, santri dari PPTQ MH Ambarawa pimpinan KH. Muhammad Muballighin Adnan, serta santri dari PP Madarijul Ulum Pardasuka pimpinan KH. Santibi, hadir melebur bersama para Ustadz dan santri putra PPTQ Al-Husna Bukit Raja Wali dalam barisan gotong royong yang kompak.

Lebih dari sekadar memberi dukungan moril, para tokoh agama pun melebur dalam peluh perjuangan. Kiai Shodikin dari Tanjung Kumala beserta jamaahnya, Ketua MUI Kecamatan Ambarawa Kiai M. Haris, serta Ustaz Syaiful Anwar, tampak tak canggung sedikit pun. Dengan semangat yang sama, mereka turun langsung ke lapangan, mengangkat ember berisi adukan semen dan material pasir, mengikis sekat jabatan demi satu tujuan: menghadirkan tempat belajar yang layak bagi para mujahidah Al-Qur’an.

Kehangatan suasana pun semakin lengkap dengan kehadiran Gus Hizbullah Huda dan Gus Na’imul Barokah yang turut berada di tengah lokasi pembangunan untuk memberikan suntikan semangat bagi seluruh relawan yang bekerja.

Pengasuh PPTQ Al-Husna BR, Assoc. Prof. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I, al-Hafizh, menatap derap langkah gotong royong itu dengan haru. Beliau menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak.

“Terima kasih atas tenaga, pikiran, serta setiap butir infaq semen yang disumbangkan. Semoga ini menjadi investasi akhirat yang abadi,” tuturnya.

Kegiatan hari ini bukan sekadar rutinitas konstruksi, namun membawa filosofi mendalam di balik waktu pelaksanaannya. Hari Rabu sebagai hari tengah pekan melambangkan keseimbangan (tawazun) dalam beramal. Angka delapan yang menyerupai simbol infinity, merefleksikan harapan agar amal jariyah pembangunan ini pahalanya mengalir tiada putus. Sementara itu, bulan Juli sebagai bulan ketujuh menyimbolkan kesempurnaan, layaknya tujuh lapis langit dan tujuh ayat dalam surah Al-Fatihah, yang menjadi doa agar ikhtiar ini menjadi pembuka segala kebaikan.

Bahkan tahun 2026 yang jika disarikan menjadi angka sepuluh, melambangkan kesucian niat sebagai fondasi utama sebelum bangunan fisik didirikan.
Di bawah langit yang teduh itu, kegiatan hari ini benar-benar menjadi momen “menjahit amal”—menyatukan potongan-potongan niat, tenaga, dan harta menjadi satu kesatuan utuh. Setiap peluh yang jatuh di tanah Bukit Raja Wali hari ini telah menjadi saksi, bahwa selama tangan-tangan umat masih terpaut dalam ukhuwah, maka bait-bait kebaikan akan terus terbangun, kokoh, dan abadi selamanya.

(Kontributor: Achmad Husen)

Exit mobile version