
Merajut Tasbih Kebangsaan: Menakar Makna FATAYAT dari Pringsewu untuk Indonesia
Pringsewu,
Minggu, 13 September 2026. Di bawah langit Pringsewu yang menaungi semilir angin penghujung siang, Gedung Nahdlatul Ulama Kabupaten Pringsewu mendadak terasa lebih hangat dari biasanya.
Sejumlah 86 pasang mata perempuan muda—kader-kader terbaik Fatayat NU—duduk berbinar dalam satu ikatan majelis ilmu.
Namun, ada kisah syahdu sebelum majelis itu bermula. Pagi yang berpacu dengan waktu menjadi saksi betapa dedikasi seorang guru tidak pernah mengenal kata jeda. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., Al-Hafizh—dengan langkah yang diburu keikhlasan—baru saja merampungkan tugas melepas rombongan kunjungan industri mahasiswa STIT Pringsewu. Begitu lambaian tangan perpisahan untuk para mahasiswa itu usai, tanpa sempat melabuhkan penat di pundaknya, beliau langsung bertolak membelah jalanan Pringsewu menuju Gedung NU. Sebuah perjalanan singkat yang padat makna, mengantarkan seorang pendidik dari gerbang akademika menuju altar kaderisasi umat.
Hadir di tengah-tengah 86 srikandi tersebut, Kiai Hamid membentangkan sebuah cakrawala besar: bagaimana merajut keanggunan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dengan keteguhan cinta pada bumi pertiwi. Dalam nasehat kaderisasi tersebut, beliau memperkenalkan sebuah kompas perjuangan lewat akronim istimewa bagi para srikandi muda Nahdlatul Ulama: FATAYAT (Fatonah, Amaliyah, Toleransi, Adaptasi, Yakin, Amanah, Teladan).
Berikut adalah saripati mutiara hikmah yang beliau sampaikan dalam lembar-lembar petuah siang itu:
F – Fatonah (Cerdas dalam Memahami Agama & Kepekaan Menyongsong Peran)
Kiai Hamid mengawali dengan huruf F, mengingatkan bahwa perempuan NU tidak boleh buta aksara agama maupun buta konteks zaman.
Kecerdasan (fathonah) adalah syarat mutlak agar dakwah Islam menebar kesejukan, bukan ketakutan.
Dalam kitab Syarah Ithaf Al-Afham (hal. 308), beliau menukilkan pesan mendalam dari para ahli hikmah:
قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ : مَنْ لَمْ يَفْهَمْ صَرِيرَ الْبَابِ وَلَا طَنِينَ الذُّبَابِ وَلَا نَبِيْحَ الْكِلَابِ فَلَيْسَ مِنْ ذَوِي الْأَلْبَابِ،
“Sebagian ahli hikmah berkata: “Barang siapa yang tidak memahami derit pintu, dengung lalat, dan gonggongan anjing, maka ia bukan termasuk orang-orang yang memiliki akal”.
Beliau melanjutkan nya dengan ungkapan yang tegas, bahwa :
فَإِذَا طَارَ مِنَ الْعُشِّ قَبْلَ تَرْبِيَةِ الْجَنَاحِ اصْطَادَتْهُ الْكِلَابُ وَالْبِيْزان
“Maka jika ia terbang dari sarangnya sebelum sayapnya kuat/terlatih, maka ia akan diburu oleh anjing-anjing dan burung elang.”
Kiai Hamid menegaskan bahwa kader Fatayat harus memiliki kepekaan membaca tanda-tanda zaman, serta mempersiapkan diri secara matang sebelum melangkah mengambil peran besar di ruang publik.
➤Teladan Wanita Hebat: Sayyidah Aisyah r.a., sang perempuan cerdas rujukan para sahabat yang menjaga kemurnian sabda dan hukum Nabi SAW.
Selanjutnya huruf
A – Amaliyah (Nyata dalam Amal Kebaikan)
Ilmu tanpa amal bagai pohon tanpa buah. Huruf A pertama ini mendesak kader Fatayat untuk turun ke akar rumput—menyelesaikan persoalan umat, membina keluarga, dan menggerakkan ekonomi sosial.
➤Teladan Wanita Hebat: Sayyidah Khadijah binti Khuwailid r.a., saudagar agung yang menumpahkan seluruh harta dan jiwa raganya demi tegaknya bangunan dakwah Islam.
T – Toleransi (Merawat Keberagaman & Tiga Pilar Ukhuwah)
Di bumi Indonesia yang majemuk, Kiai Hamid menekankan bahwa toleransi bukan sekadar basa-basi sosial, melainkan perintah Ilahi agar manusia saling mengenal (li ta’arafu), merajut damai di atas perbedaan melalui tiga mahligai persaudaraan: Ukhuwah Islamiyyah (persaudaraan sesama Muslim), Ukhuwah Wathoniyyah (persaudaraan sebangsa dan setanah air), serta Ukhuwah Insaniyah (persaudaraan sesama umat manusia). Ketiganya harus berjalan seiring tanpa saling meniadakan.
➤Teladan Wanita Hebat: Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, ibunda bangsa yang rumah dan langkah kakinya selalu terbuka merangkul seluruh kalangan melintasi sekat agama, suku, dan bangsa dalam bingkai kemanusiaan.
A – Adaptasi (Luwes Menghadapi Zaman)
Perubahan adalah keniscayaan. Melalui huruf A kedua ini, Kiai Hamid berpesan agar Fatayat tidak menjadi fosil sejarah, melainkan gelombang ombak yang pandai menyesuaikan bentuk samudera tanpa pernah kehilangan rasa asin ke-NU-annya.
➤Teladan Wanita Hebat: Malala Yousafzai, gadis muda yang menaklukkan arus zaman dan teknologi demi memperjuangkan hak belajar kaum perempuan.
Y – Yakin (Mantap pada Visi Kebangsaan)
Kiai Hamid menyalakan bara di dada 86 peserta itu bahwa merah-putih dan nilai ke-Islam-an bukanlah dua kutub yang berseberangan. Cinta tanah air adalah bagian sah dari mahligai keimanan (Hubbul wathan minal iman).
➤Teladan Wanita Hebat: Ny. Hj. Sholichah Wahid Hasyim, tokoh pergerakan perempuan NU yang mengawinkan keteguhan syariat dengan nasionalisme kobaran api kemerdekaan.
A – Amanah (Tanggung Jawab Menjaga Marwah)
Setiap titipan—baik kepengurusan organisasi, keluarga, maupun kepercayaan masyarakat—harus dipikul dengan pundak yang jujur. Bagi Kiai Hamid, perempuan Fatayat adalah pilar kepercayaan yang pantang goyah.
➤Teladan Wanita Hebat: Nyai Hj. Maimunah Sholeh (Kudus), ulama perempuan penjaga amanah ilmu yang merintis madrasah putri di tengah keterbatasan zaman.
T – Teladan (Menjadi Panutan Akhlak)
Huruf penutup ini menjadi mahkota. Dakwah paling fasih bukanlah lisan yang berapi-api, melainkan cermin akhlak yang memantulkan kesejukan bagi siapa saja yang memandangnya.
➤Teladan Wanita Hebat: Fathimah az-Zahra r.a., sang bunga kekasih Nabi yang hidupnya menjadi teladan puncak tentang kesabaran, kelembutan, dan keluhuran budi.
Menjelang senja di Pringsewu, ketika tirai majelis mulai ditarik perlahan dan rute perjalanan panjang sang kiai dari STIT berujung manis di Gedung NU, 86 kader Fatayat itu berdiri. Bukan sekadar mengepak catatan di atas kertas, melainkan menyusun kembali niat di dalam dada: bahwa dari rahim kaderisasi yang diperjuangkan dengan sepenuh tenaga ini, sejarah baru tentang perempuan NU yang cerdas, lembut, dan teguh menjaga Indonesia akan terus dituliskan.
Kontributor: Achamd Husen
#KadersasifatayatNU
#SrikandiNU
#Pptqalhusnabukitrajawali