Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Menjemput Berkah Manten Anyar: Teori Ritme 1111 dan Seni Merawat Cinta

Menjemput Berkah Manten Anyar: Teori Ritme 1111 dan Seni Merawat Cinta

Pesawaran,
Minggu, 13 September 2026. Selepas menuntaskan amanah menyalakan asa dan wawasan kebangsaan bagi 86 kader Fatayat NU di Gedung NU Kabupaten Pringsewu, langkah kaki seorang pendidik tidak lantas surut. Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., Al-Hafizh kembali membelah angin sore, bergerak menuju tanah Pesawaran—tepatnya di Islamic Center Pesawaran.
Kehadiran beliau di bawah naungan kubah Islamic Center bukanlah tanpa hikmah mendalam.

Beliau hadir untuk memenuhi undangan Walimatul Ursy (resepsi pernikahan) dari putri tercinta Ketua PCNU Kabupaten Pesawaran, KH. Ulin Nuha, yaitu Ning Mumsikah Umtaza Arsya bersama sang suami tercinta, Chusnul Lathoif.

Bagi Kiai Hamid, menghadiri majelis pernikahan seorang kiai bukan sekadar menunaikan hak da’wah, melainkan sebuah ikhtiar batiniah yang syahdu: agar energi positif, kebahagiaan, dan aura manten anyar (pengantin baru) tersebut menular kepada setiap pasangan suami istri yang telah lama mengikat janji suci. Di setiap kesempatan berharga seperti itu, beliau kerap menitipkan sebuah pesan filsafat rumah tangga yang unik namun membumi:

“Sering-seringlah menikah.”
Tentu saja, makna “menikah” yang dimaksud bukanlah menikah secara hukum berulang kali, melainkan menghadirkan kembali jiwa, gelora, dan suasana batin layaknya sepasang pengantin baru yang baru mengenalkan hati.

Bagi mereka yang telah lama membersamai kekurangan pasangan lewat ikhtisar tahun demi tahun—ketika piring dan gelas di rak dapur mulai sering bergesekan—merawat suasana hati bukanlah perkara angan-angan, melainkan buah dari tindakan nyata yang konsisten.
Kiai Hamid kerap merumuskan seni menghidupkan kembali rasa takjub dan syukur tersebut melalui sebuah praktik terukur yang dinamakan Teori Ritme 1111:

1 (Sehari Sekali): Luangkan waktu sejenak untuk memberikan sentuhan, sapaan, atau ucapan penuh cinta yang mencairkan penat, memperbarui kehangatan di tengah riuhnya kesibukan dunia.

1 (Seminggu Sekali): Ganti bedcover atau seprai tempat tidur dengan nuansa baru yang bersih dan wangi, menghadirkan kesegaran visual di kamar utama tempat dua kepala berlabuh.

1 (Sebulan Sekali): Lakukan penataan ulang kecil atau hiasi sudut-sudut ruangan dengan kembang segar, membuat suasana rumah tidak pernah membosankan dan selalu bernyawa.

1 (Setahun Sekali): Ubah tata letak (layout) dan posisi dipan kamar tidur, merombak suasana dapur, atau mendesain ulang sudut-sudut rumah agar atmosfernya selalu terasa baru. Puncaknya, lakukan perjalanan jauh berdua ke tempat baru untuk menyegarkan pandangan dan mengisi ulang energi jiwa.

Bayangkan bagaimana sikap sepasang pengantin baru. Pada hari-hari awal pernikahan, keduanya selalu menampilkan versi terbaik dari diri mereka, sangat sabar, penuh perhatian, dan memaklumi setiap celah kecil pada pasangannya. Namun, seiring waktu berjalan, rasa bosan kerap merayap dan kritikan tajam menggantikan sapaan hangat.
Maka, melalui ritme 1111 ini, setiap pasangan diajak untuk kembali menatap pasangannya dengan penuh cinta seperti saat hari pertama ijab kabul diucapkan, sehingga bara api cinta tidak pernah padam oleh debu-debu kejenuhan dunia.

Tanda-Tanda Kebesaran Ilahi dalam Ikatan Suci
Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat memahami tabiat manusia yang diciptakan dengan berbagai perbedaan karakter dan keterbatasan. Karena itulah, dalam Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 21, Allah menegaskan hakikat dasar dari sebuah ikatan pernikahan:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Ayat agung ini tidak menyebutkan bahwa syarat pernikahan adalah “bebas dari beda pendapat” atau “harus sempurna tanpa cela”. Sebaliknya, Allah menitipkan kunci ketenteraman (sakinah) melalui rasa kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah) yang menuntut kedua belah pihak untuk saling menutupi kekurangan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan teladan agung bagaimana menyikapi kekurangan seorang pasangan dengan bijaksana melalui sabdanya yang masyhur:

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
“Janganlah seorang mukmin membenci wanita mukminah. Jika ia tidak menyukai satu akhlak darinya, maka ia pasti ridai dari sisi yang lain.” (HR. Muslim)

Hadist ini mengajarkan kita untuk melepaskan kacamata “tuntutan kesempurnaan”. Ketika Anda melihat pasangan memiliki sifat yang menjengkelkan atau tidak sesuai bayangan ideal, ingatlah pula bahwa diri kita sendiri pun penuh dengan kekurangan yang ditutupi oleh kesabarannya.

Mulai hari ini, kuburlah dalam-dalam ekspektasi kekanak-kanakan tentang pernikahan ala layar kaca. Pasangan Anda bukanlah pangeran di negeri dongeng, dan Anda bukanlah putri yang hidup tanpa cela. Keduanya adalah pejuang yang sama-sama membawa kekurangan dan sedang belajar untuk saling melengkapi.
Ketika piring rumah tangga berderik pecah karena beda pendapat, atau ketika gesekan-gesekan kecil di dalam kamar mulai sering terdengar, ambillah jeda. Tarik napas dalam-dalam, turunkan nada suara, dan ingatlah bahwa setiap tetes kesabaran dalam menerima kekurangan pasangan adalah ibadah yang diam-diam sedang melukis keindahan di surga.

Rumah yang penuh dengan tawa di atas sisa-sisa perdebatan jauh lebih mulia dan menenangkan daripada istana megah yang dingin tanpa jiwa. Dari Pringsewu hingga Pesawaran hari itu, langkah Kiai Hamid meninggalkan pesan abadi: bahwa merawat cinta adalah kerja sadar sepanjang hayat.

Kontributor: Achamd Husen

#Kiaihamidbukitrajawali
#Santrinikah
#Mondoksampekrabi
#Seringseribglahmenikah
#Ritme1111

Exit mobile version