Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Husna
Berita  

Mutiara Nusantara di Tanah Suci: Ziarah Batin ke Ma’la, Cinta Tulus Muhibbin, dan Jejak Doa yang Mengakar

Mutiara Nusantara di Tanah Suci: Ziarah Batin ke Ma’la, Cinta Tulus Muhibbin, dan Jejak Doa yang Mengakar

MAKKAH AL-MUKARRAMAH — 27 September 2026. Di sela-sela kekhusyukan menunaikan ibadah umrah, langkah kaki seorang pelita umat yang juga pengasuh Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Husna Bukit Raja Wali sekaligus PPM Baitul Qur’an Lampung, Dr. KH. Abdul Hamid, M.Pd.I., al-Hafizh, kembali tertunduk khidmat.

Kali ini, rihlah spiritual membawanya menembus keheningan malam Tanah Haram, menuju tanah perkuburan bersejarah Jannatul Ma’la.
Ma’la bukanlah sekadar hamparan bumi tempat bersemayamnya jasad para kekasih Allah, melainkan samudra keteladanan para Masyayikh Nusantara yang namanya harum abadi di langit dan di bumi. Di sanalah bersemayam jasad para ulama besar penjaga panji Islam di bumi pertiwi, sebut saja Sayyid Alwi bin Abbas al-Maliki, Syaikh Maimun Zubair, hingga deretan para Masyayikh Indonesia lainnya yang mendedikasikan seluruh napas hidupnya untuk ilmu dan dakwah.

Magnet Makkah dan Buah Doa Sang Guru
Bagi Kiai Abdul Hamid, perjalanan yang sering membawanya kembali ke Makkah bukanlah sekadar rutinitas fisik, melainkan sebuah panggilan batin yang ditarik oleh kuatnya magnet spiritual Tanah Suci. Tarikan batin ini berakar kuat pada dua hal utama.

Pertama, kenangan indah pada tahun 2011 silam tatkala beliau didoakan langsung oleh Almarhum Kiai Zamakhsyari —yang kini juga dimakamkan di Ma’la—dengan redaksi doa yang begitu membekas:

عَوْدَةٌ، عَوْدَةٌ، عَوْدَةٌ إِلَى مَكَّةَ الْمُكَرَّمَةِ وَالْمَدِينَةِ الْمُنَوَّرَةِ

“Kembali, kembali, kembali ke Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah.”

Doa penuh barokah itu kini menjelma menjadi ketetapan takdir yang terus berulang mengantarkannya kembali ke tanah haram.

Kedua, adanya ikatan batin yang begitu lekat kepada sosok anutan agung ulama Nusantara, Syaikhina Maimun Zubair (Mbah Maimun). Menariknya, meski beliau bukan santri yang pernah mukim menimba ilmu secara langsung di pesantren Mbah Maimun, Kiai Abdul Hamid memosisikan dirinya sebagai seorang pencinta setia (muhibbin) yang tulus mencintai sang mahaguru. Ketulusan cinta itu begitu hidup, di setiap hari Selasa, ingatan sang kiai hampir selalu lekat dan bergemuruh kuat mengenang Mbah Mun, seketika beliau mengirim Fatihah untuk Mbah Yai Maimun.

Hari Selasa bukan sekadar hari biasa, melainkan hari kepulangan sang mahaguru ke rahmatullah—hari di mana raga Mbah Mun beristirahat tenang, namun warisan cinta dan keteladanannya terus menyala di dada para muhibbin.

Berziarah ke makam Mbah Maimun di Jannatul Ma’la menyimpan sebuah pelajaran hidup yang maha luas. Melihat perjalanan agung sang mahaguru, Kiai Abdul Hamid merenungkan sebuah hikmah bahwa pikiranmu adalah takdirmu; apa yang diyakini dan didawamkan dengan tulus, itulah yang akan mengantarkan seseorang pada takdir terbaiknya di sisi Allah SWT.
Mbah Maimun semasa hidupnya dikenal begitu istiqamah mendawamkan lantunan qashidah penuh kerinduan:

سَعْدُنَا فِى الدُّنْيَا … فَوْزُنَا فِى الْأُخْرَى
“Kebahagiaan kami di dunia, keberuntungan kami di akhirat…”

وَمِنْ نُوْرِ طَهَ الْهَادِي … كَفَانَا كُلَّ مِحْنَةٍ
“Dan dari cahaya Taha (Nabi Muhammad) sang pembawa petunjuk, cukuplah bagi kami melenyapkan segala ujian…”

Subhanallah, lantunan cinta dan doa yang terus didawamkan itu benar-benar mengantarkan takdir indah. Allah SWT mentakdirkan Mbah Maimun wafat di Makkah dan dimakamkan tepat di sebelah makam mulia ibunda kaum mukminin, Sayyidah Khodijah al-Kubra—sebuah akhir perjalanan hidup yang diidamkan setiap hamba shaleh.

Di pusara penuh cahaya itu, Kiai Abdul Hamid meresapi butir-butir hikmah, membawa pulang mata air keteladanan para Masyayikh untuk kelak disiramkan kembali kepada para santri tercinta di bumi Lampung dan Nusantara.

Kontributor: Achmad Husen

#ZiarahMa’la #MbahMaimun #TanahSuci #MakkahMukarramah #KHAbdulHamid #PPTQAlhusna
#BukitRajawali
#PesantrenTerbersihSeLampung
#BaitulQuran
#PikiranmuTakdirmu

Exit mobile version